Selasa, 18 Juni 2019
15 Shawwal 1440 H
Home / Forum Milenial / Bank Syariah Kurang Menyentuh Masyarakat Lapis Bawah
Luthfi Andrian (Dok/Foto Sharianews)
Setelah dua puluh enam tahun bank syariah beroperasi (sampai saat ini), jumlah Bank Syariah terus meningkat, tercatat ada 13 Bank Umum Syariah, 23 Unit Usaha Syariah, dan 160 Bank Pembiayaan Rakyat Syariah.

Sharianews.com, Sudah 26 tahun bank syariah hadir di Indonesia. Terhitung sejak tahun 1992, Bank Muamalat sebagai Bank Syariah pertama di Indonesia. Pasca krisis ekonomi melanda Indonesia, Bank Syariah mengalami peningkatan yang signifikan. Hal ini dapat terlihat mulai munculnya Unit Usaha Syariah (UUS) yang dibuka Bank Konvensional.

Di sisi lain, perkembangan bank syariah dipengaruhi oleh perubahan Undang-Undang Perbankan Nomor 7 tahun 1992 menjadi Undang-Undang Nomor 10 tahun 1998 penggunaan dual banking system. Barulah lahir bank syariah lain seperti Bank IFI, Bank Syariah Mandiri, Bank Niaga Syariah, BTN Syariah, Bank Mega Syariah, BRI Syariah, Bank Bukopin Syariah, BPD Jabar, BPD Aceh dan lain lain.

Pada tahun 2008, disahkannya Undang-Undang yang secara khusus mengatur tentang perbankan syariah yaitu Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2008 tentang perbankan syariah. Hal ini semakin menguatkan landasan hukum bank syariah di Indonesia.

Pasca hadirnya Undang-Undang Perbankan Syariah, mendorong peningkatan jumlah Bank Syariah, tercatat dalam kurun dua tahun (2009-2010) terdapat 11 Bank Umum Syariah, 23 Unit Usaha Syariah dan 149 Bank Pembiayaan Rakyat Syariah.

Dilihat dari sisi asset,peningkatan sebesar 35,6% per tahun dariRp 26,7 Triliunpadatahun 2006  menjadiRp 86,0 Triliun pada Oktober 2010. Setelah dua puluh enam tahun bank syariah beroperasi (sampai saat ini), jumlah Bank Syariah terus meningkat, tercatat ada 13 Bank Umum Syariah, 23 Unit Usaha Syariah, dan 160 Bank Pembiayaan Rakyat Syariah. Dilihat dari pertumbuhan aset perbankan syariah pada akhir 2017 mengalami peningkatan sebesar 24,4% menjadi Rp 379,7 triliun dibanding tahun 2016 pada periode yang sama.

Namun ada problem yang saat ini dihadapi bank syariah. Salah satunya adalah pengetahuan masyarakat terhadap Bank Syariah. Faktanya, masih ada saja masyarakat yang mempersamakan bank syariah dengan bank konvensional.

Direktur CIMB Niaga Syariah Pandji P Djajanegara mengakui masih banyak masyarakat  yang memberikan pertanyaan tentang bunga. Padahal, sistem bunga hanya dipraktikkan pada bank konvensional.

Dilihat dari survey Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada tahun 2017, hasil indeks literasi bank syariah di Indonesia baru mencapai 6,63%. Ini mengartikan dari jumlah penduduk Indonesia yaitu 250 juta jiwa baru sekitar 16 juta jiwa yang paham bank syariah.

Dampak dari kurang paham masyarakat terhadap bank syariah adalah masyarakat lebih memilih bank konvensional. Pertumbuhan nasabah yang tidak meningkat menyebabkan market share bank syariah masih terpaut jauh dari bank konvensional. Tercatat market share bank syariah perSeptember 2018 adalah 5,7%.

Upaya yang telah dilakukan salah satunya adalah melakukan soasilisasi produk dan layanan bank syariah ke masyarakat. Pada bulan oktober 2018, OJK telah menggelar pameran perbankan syariah atau iB Vaganza 2018 yang dilakukan di 5 kota yaitu, Jakarta, Pekanbaru, Lombok, Bandung dan Malang dengan manargetkan adanya 19 ribu rekening baru.

Direktur Penelitian dan Pengembangan Perbankan Syariah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Deden Firmansyah mengatakan “Pertumbuhan ini (bank syariah), menunjukkan Indonesia menyimpan banyak potensi untuk semakin mengembangkan ekonomi dan keuangan syariah jauh lebih pesat sehingga berkontribusi mendorong pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat” mengutip www.wartaekonomi.co.id. Dilihat dari penduduk Indonesia, bahwa 80% masyarakat menganut agama Islam, dan ini menjadi potensi besar berkembangnya perbankan syariah di Indonesia.

Penulis beranggapan, bahwa industri perbankan syariah belum menyentuh lembaga pendidikan pondok pesantren dan majelis-majelis taklim. Menurut penulis, jika ada kerjasama dengan lembaga pendidikan pondok pesantren dan majelis taklim, ada beberapa keuntungan yang didapat industri perbankan syariah.

Pertama, pihak bank syariah dapat mempromosikan produk dan layanannya ke semua stakeholder lembaga pondok pesantren dan majelis taklim tersebut.

Kedua, mengedukasikan santri-santri tentang bank syariah sehingga ketika mereka lulus bisa diprogramkan menjadi karyawan bank syariah. Hal ini disebabkan karyawan bank syariah berasal dari bank konvensional yang tidak memiliki basic paham syariah.

Ketiga, penyaluran dana kebajikan bank syariah dapat disalurkan melalui beasiswa santri berprestasi. Hemat penulis, hal ini menguntungkan kedua belah pihak sehingga penulis optimis kedepannya, jika kerjasama ini terjalin dengan baik maka industri perbankan syariah semakin dipercayai masyarakat.

* KSEI HMPS FAI UMJ (Universitas Muhammadiyah Jakarta) Diedit oleh: Munir 

Oleh: Luthfi Adrian