Minggu, 24 Januari 2021
11 Jumada al-akhirah 1442 H
Home / Keuangan / Bank Syariah: Ada Pertumbuhan Tetapi Masih Memiliki PR Besar
-
Sudah 26 tahun Bank Muamalat berdiri. Sejak  saat itu, waktu demi waktu dilewati ekonomi syariah di Indonesia. Ada perkembangan, tetapi masih menyisakan PR yang besar,

Sudah 26 tahun Bank Muamalat berdiri. Sejak  saat itu, waktu demi waktu dilewati ekonomi syariah di Indonesia. Ada perkembangan, tetapi masih menyisakan PR yang besar.

Sharianews.com, Jakarta. Sejak Bank Muamalat lahir, perkembangan perbankan syariah di tanah air terus tumbuh. Perekonomian syariah mulai bergerak. Produk-produk ekonomi Islam lahir satu demi satu  mengikuti industri keuangan syariah, baik melalui instrumen bank, pasar modal syariah, asuransi syariah, maupun Baitul Maal wat Tamwil (BMT).

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat pertumbuhan pada industri perbankan syariah nasional. Bank Umum Syariah (BUS), maupun Unit Usaha Syariah (UUS) menunjukkan kenaikan aset pada April 2018 dibanding tahun sebelumnya atau year on year (yoy).

Berdasarkan data OJK per April 2018, total aset BUS mencapai Rp 292,289 triliun. Sedangkan April setahun sebelumnya hanya mencapai Rp 261,950 triliun. Kenaikan juga terjadi pada unit usaha syariah (UUS) April 2017. Jika  total aset tahun 2016 mencapai angka Rp 100,780 triliun, pada tahun 2017 ini mampu menembus angka Rp 131,655 triliun.

Selanjutnya, jika total aset April 2017, BUS dan UUS Rp 362,730 triliun, pada laporan tahun berikutnya naik mencapai Rp 423,944 triliun. Jika dilihat alur dari tiga tahun terakhir, laporan BUS dan UUS pada 2015 tercatat Rp 296,262 triliun, dan 2016 sebesar Rp 356,504 triliun. Artinya ada kenaik cukup berarti di tiga tahun terakhir.

Ada gap antara konsep dan praktik?

Namun menurut M. Nazori Madjid dalam artikelnya di jurnal Kajian Ekonomi Islam dan Kemasyarakatan, berjudul, “Nuansa Konvensional dalam Perbankan Syariah (2011)” masih ada perbedaan antara konsep yang diidealkan secara syariah dengan praktik di lapangan. Inilalah realita yang masih sering menjadi sorotan publik.

Uniknya, praktik penyimpangan ini, sering ditemukan secara lebih dini oleh pihak bank. Bukan oleh Dewan Pengawas Syariah (DPS). Padahal semestinya, pihak DPS selaku pengawas yang mesti lebih dahulu mengetahui adanya penyimpangan. Bukan justeru mendapat laporan dan informasi dari pihak Bank.

Nazori Madjid dalam tulisannya menyebutkan, hal-hal semacam ini dikhawatirkan bisa menurunkan reputasi dan citra perbankan syariah di mata masyarakat.

Menanggapi hal ini, pengamat ekonomi syariah Ahmad Ifham Sholihin mengatakan, sejatinya praktisi adalah ujung tombak perkembangan bank syariah. Karenanya, praktisi yang salah memberikan penjelasan kepada mayarakat berbahaya, karena justeru bisa memunculkan persepsi keliru di tengah masyarakat.

“Saya pernah ditelepon sama praktisi bank syariah. Dia bilang jualan deposito. “Pak gabung dong di bank syariah kami, dapatnya 6,5 persen atau tujuh persen, lho”. Ini bagaimana, bank syariah kok dapatnya enam persen. Kalau syariah bicaranya bagi hasil, bagi hasilnya itu berapa-berapa,”jelas Ifham kepada sharianews.com di Jakarta, Senin (4/8/2018).

Lebih lanjut, penulis buku “Buku Pintar Ekonomi Syariah” ini menambahkan, masyarakat yang mendapat jawaban dari praktisi tersebut, bisa saja mendapat kesan ada kesamaan antara bank syariah dengan bank konvensional. “Tidak salah juga masyarakat bicara sama saja,” ujarnya seraya menyesalkan masih adanya praktisi yang tidak sabar memberikan edukasi konsep perbankan syariah seara utuh kepada masyarakat.

Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW), Asosiasi Bank Syariah Indonesia (Asbisindo), Kompartemen BPRS Jabodetabek, Muhammad Hadi Maulidin Nugraha juga menyoroti kendala ini. Ia mengungkapkan bahwa masih banyak masyarakat yang belum memahami secara utuh konsep perbankan syariah di lapangan.

Karenanya menurutnya, para praktisi perbankan syariah harus terus berusaha melakukan sosialisasi dan edukasi, baik secara langsung maupun tidak langsung. Terutama terkait dengan kelebihan yang dimiliki oleh sistem perbankan syariah.

Menjelaskan dan menjawab persepsi masyarakat tentang anggapan keliru yang berkembang, bahwa seolah-olah perbankan syariah sama dengan bank konbensional.

“Sosialisasi harus terus-menerus ke masyarakat. Betul sudah banyak perguruan tinggi yang mengajarkan, Sekolah Menegah Atas dan Kejuruan.Tetapi kita di bank syariah juga memiliki kewajiban untuk mensosialisasikan sistem syariah ini secara lebih luas. Termasuk ke pesantren, majlis taklim, komunitas muslim, dan lain-lain,” Imbuh Hadi.

Bank syariah memang sudah berkembang belakangan ini. Namun masih memiliki pekerjaan rumah yang tidak sedikit. Hal paling mendasar adalah bagaimana mengubah persepsi seolah-olah bank syariah sama dengan bank konvensional.

Berikutnya adalah penjelasan mengapa masyarakat muslim harus menggunakan bank syariah. “ Kita kan baru berusia kurang lebih 24 tahun, market share diperkirakan mendekati 10%. Pemahaman tentang bahaya riba, masih harus terus disuarakan. Kedepannya, kiranya masyarakat semakin melek terhadap syariah,” jelas pria yang juga menjabat sebagai Direktur Utama BPR Syariah Harta Insan Karimah, Insan Cita itu.

Reporter : Aldiansyah Nurrahman

Editor : Ahmad Kholil