Sabtu, 21 September 2019
22 Muḥarram 1441 H
Home / Keuangan / Bank Indonesia Berencana Tambah Sukuk untuk Instrumen Moneter
FOTO I Dok. Sharianews.com
Sektor impor menjadi kunci pertumbuhan untuk tahun berikutnya

Sharianews.com, Jakarta. Bank Indonesia (BI) berencana menerbitkan sukuk jangka pendek sebagai instrumen moneter baru, yang akan digunakan untuk mengelola likuiditas dalam sistem keuangan, seperti yang diungkapkan Gubernur BI kepada Sharianews, Jumat (2/10/2018)

"Bank Indonesia akan memperkaya instrumen syariah sehingga dapat digunakan untuk memobilisasi dana yang lebih besar, sukuk baru akan dikeluarkan dengan tenor 2 minggu, 1 bulan, 3 bulan dan akan didukung oleh pemerintah," ujar Perry Warjiyo kepada wartawan.

Rencana kedepan akan dibahas pada pertemuan kebijakan BI pada 14-15 November mendatang.

Dilansir dari Reuters, pertumbuhan ekonomi Indonesia melambat pada kuartal ketiga, kehilangan momentum dari tiga bulan sebelumnya. Kondisi ini menyebabkan ekonomi Asia Tenggara menjadi lebih sulit dan harus berjuang keras dengan banyaknya arus modal keluar, karena melemahnya ekspor dan pengeluaran rumah tangga.

Produk domestik bruto (PDB) mengalami kenaikan 5.17 persen di kuartal l Juli-September, meningkat  dari tahun sebelumnya. Biro Statistik mengungkapkan, dalam jajak pendapat yang diprakarsai Reuters, proyeksinya meningkat dari yang diharapkan sebesar 5,15 persen, dan pada kuartal kedua tumbuh sebesar 5,27 persen. Bulan April-Juni merupakan laju kuartal tercepat sejak akhir 2013.

Perlambatan terjadi disebabkan oleh konsumsi rumah tangga yang melemah di kuartal ketiga dan memberikan kontribusi negatif pada perdagangan luar negeri. Meskipun kenaikan tidak lebih cepat seperti yang diharapkan. Ekonom juga memperingatkan pelemahan mungkin masih akan berlanjut.

"Kami berpikir, kedepan pertumbuhan mungkin akan cenderung melambat karena pelemahan rupiah," kata Fakhrul Fulvian, kepala ekonom dari Trimegah Securities. Ia berharap PDB mampu tumbuh 5,13 persen pada tahun 2018 dan 5 persen pada tahun 2019.

Rupiah turun sekitar 9 persen pada tahun ini, sehingga membuat performanya memburuk dalam penukaran valuta antar pasar Asia yang baru.

Meskipun pelemahan mata uang tidak memicu inflasi, bank sentral telah menaikkan suku bunga lima kali sejak Mei untuk memperlambat arus modal keluar, yang menurut analis mampu meredam permintaan domestik.

Analis Alex Holmes mengatakan, pertumbuhan mungkin akan tetap sekitar 5 persen selama beberapa tahun."Sektor impor menjadi kunci pertumbuhan untuk tahun berikutnya,"  jelas Holmes. Ia juga mengatakan bahwa pertumbuhan global yang melemah, disebabkan oleh harga komoditas yang bisa menahan pendapatan ekspor. Dengan jatuhnya mata uang lokal, mampu mengimbangi kenaikan pendapatan dari harga-harga komoditas yang melambat.

Sektor ekspor yang memberikan kontribusi terhadap PDB pada kuartal ketiga tergerus oleh impor. Hal tersebut sesuai dengan yang diungkapkan Kepala Biro Statistik Indonesia, Suhariyanto, dengan menurunnya harga non-minyak dan gas, serta harga komoditas juga memperlambat pertumbuhan dengan mitra dagang utama seperti China dan Singapura. Besaran investasi dan pengeluaran pemerintah juga gagal untuk mengurangi perlambatan konsumsi rumah tangga, yang menyumbang lebih dari setengah dari PDB.

Sementara pemerintah resmi menargetkan pertumbuhan PDB di tahun ini sebesar 5,4 persen. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati bulan lalu mengatakan pertumbuhan 2018 menjadi sekitar 5.14 persen.

Pertumbuhan proyek-proyek pemerintah di level 5,3 persen untuk tahun depan. Andry Asmoro, Ekonom Bank Mandiri, mengatakan angka-angka pertumbuhan  kuartal ketiga tidak akan mempengaruhi sikap moneter bank sentral.

"Tantangan global masih sangat besar dan harus mendahulukan stabilitas daripada pertumbuhan dengan tetap relevan dalam lingkungan saat ini," Ujar Andry. (*)

Reporter: Romy Editor: Achi Hartoyo