Sabtu, 20 April 2019
15 Sha‘ban 1440 H
FOTO I Dok. Sharianews
Ekspor produk halal Indonesia mengalami peningkatan sebesar 19,2 persen pada 2017, dari tahun sebelumnya yang besarnya USD 29,7 milIar.

Sharianews.com, Jakarta. Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro, mengatakan Indonesia berpeluang menjadi pasar produk halal terbesar di dunia sekaligus menjadi produsen produk halal. Indonesia berada di posisi strategis bagi halal superhighway link dalam global halal supply chain.

Data terkini mencatat ekspor produk halal Indonesia mengalami peningkatan sebesar 19,2 persen pada 2017, dari tahun sebelumnya yang besarnya USD 29,7 milIar.

“Jika perkembangannya terus didorong, industri halal akan membuka peluang dan berpotensi menjadi pendorong pertumbuhan pasar keuangan syariah Indonesia di masa yang akan datang,”jelas Bambang pada sambutannya dalam Forum Riset Ekonomi dan Keuangan Syariah (FREKS) 2018, di Universitas Syiah Kuala, beberapa waktu lalu.

Dikutip dari laman resmi Bappenas (Bappenas.go.id) Bambang juga menyatakan, secara nasional, industri keuangan syariah Indonesia terus mengalami pertumbuhan yang cukup tinggi di dua dekade terakhir.

Pada 2017, industri keuangan syariah tumbuh sebesar 27 persen, dan dengan segala dinamika yang terjadi industri keuangan syariah hingga Juni 2018 dapat tumbuh pada kisaran 17 persen secara tahunan (year-on-year).

Pada posisi tersebut, total aset keuangan syariah Indonesia tercatat Rp1.204 triliun (tidak termasuk saham syariah), atau setara dengan 8,47 persen aset keuangan Indonesia secara keseluruhan.

KNKS akan perkuat ekonomi nasional

Karena itu menurut Bambang, produk halal Indonesia dinilai mampu memperkuat ekonomi nasional. Pihaknya pun berkomitmen ikut mendorong upaya ekspor komoditas halal guna menekan tingkat defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD).

Untuk mendorong upaya tersebut, Bambang menyebutkan, Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS) akan segera menyelesaikan masterplan pengembangan industri riil halal pada akhir tahun ini. Kebijakan tersebut akan menentukan fokus pengembangan komoditas ekspor potensial dari Indonesia.

"Tentu arahnya ke CAD. Menurut kami yang terpenting harus bisa menyumbang ekspor," kata Bambang akhir pekan ini usai menerima penghargaan sebagai Tokoh Ekonomi Syariah dalam acara Anugerah Syariah Republika (ASR) 2018 di Hotel JW Marriot, Kuningan, Jakarta.

Dalam masterplan yang akan dirilis, nantinya akan ada prioritas pada komoditas barang maupun jasa halal yang bisa menjadi unggulan Indonesia. Ia mengatakan Indonesia memiliki banyak potensi produk halal.

Menurutnya pengembangannya akan lebih baik jika difokuskan pada beberapa komoditas prioritas. "Kita akan buat secara bertahap setiap tahun apa saja komoditas jasa halal atau syariah yang bisa kita dorong," kata Bambang.

Selanjutnya, setelah ada penetapan komoditas prioritas, KNKS akan berupaya mendorong peranan dari sektor swasta untuk terlibat. Selain itu, KNKS juga akan mengarahkan BUMN untuk bisa mendukungnya. "Jadi kita upayakan supaya industri halal ini tidak jalan sendiri-sendiri tapi terkoordinasi dan kita tahu arahnya mau kemana," kata Bambang.

Dia menyebut, saat ini komoditas yang memiliki potensi ekspor kuat adalah pakaian, kosmetik, dan farmasi.  Indonesia harus tidak lagi menjadi negara pengimpor produk-produk halal. Sebaliknya, Indonesia harus menjadi negara pengekspor produk-produk halal. (*)

 

Ahmad Kholil