Kamis, 12 Desember 2019
15 Rabi‘ at-akhir 1441 H
Home / Fokus / Bagaimana mengembangkan bisnis halal?
Pamerah produk halal| Dok Anadolu Agency
Intinya adalah mengembangkan value chain ekonomi syariah. Misalnya pada sektor pertanian, makanan dan fashion, pariwisata serta energi terbarukan

Sharianews.com, Jakarta~ Pengembangan ekonomi syariah di Indonesia harus dikembangkan, agar bisa segera beralih dari sekadar pasar industri halal, menjadi produsen.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengungkapkan pengembangan ekonomi dan keuangan syariah khususnya sektor industri halal harus dilakukan dengan prinsip 4C.

Prinsip ini terdiri dari yaitu komitmen yang kuat dari pihak-pihak terkait (commitment). Kemudian program yang konkret sehingga mudah untuk diimplementasikan (concrete).

Berikutnya adalah prinsip sinergitas antara lembaga dan pihak terkait (collaborative) serta edukasi yang dilakukan secara intens mengenai nilai lebih dari gaya hidup halal (campaign).

Menurut Perry, BI berusaha mendukung program pemberdayaan industri halal. Salah satunya dengan bekerja sama dengan lembaga zakat, mengoptimalkan dana sosial syariah seperti zakat, infak, sedekah dan wakaf tunai, sebagai salah satu sumber pembiayaan syariah.

Bank Indonesia memandang bahwa ekonomi syariah adalah bagian dari upaya memperkuat struktur ekonomi dan pasar keuangan global saat ini dan mendatang.

“Untuk meningkatkan peran dan kontribusi ekonomi dan keuangan syariah secara global dan nasional, diperlukan peran aktif semua pihak, baik pembuat kebijakan, pelaku ekonomi maupun dunia pendidikan,” ujar Perry.

BI juga telah mengembangkan ekonomi syariah di sektor pertanian, makanan dan fashion, pariwisata serta energi terbarukan sebagai bagian dari strategi membangun ekosistem halal value chain.

Bank Indonesia juga mendorong pemberdayaan ekonomi bagi 134 pesantren di 31 wilayah yang tersebar di Indonesia.

Wakil Ketua Umum Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) DKI Jakarta Safri Haliding juga menekankan pembangunan ekosistem halal supply chain atau rantai pasok Indonesia untuk mendukung pengembangan industri halal.

Dalam sebuah artikelnya, dia menyoroti tentang banyaknya sektor yang bisa disinergikan dalam mengembangkan ekosistem industri halal.

Paling tidak ada 10 sektor yang secara ekonomi dan bisnis berkontribusi besar dalam industri halal: sektor industri makanan, wisata dan perjalanan, pakaian dan fesyen, kosmetik, finansial, farmasi, media dan rekreasional, kebugaran, pendidikan dan seni budaya.

Manajemen rantai pasok ini diperlukan untuk menjamin kualitas halalnya sebuah produk dan jasa. Penanganan produknya pun harus dipisahkan antara halal dengan tidak halal dan proses tersebut harus terjamin dari hulu hingga hilirnya.

Suplay chain ini akan meningkatkan standar mutu, kualitas produk, dan pelayanan produk serta jasa halal dapat terpenuhi yang terintegrasi mulai dari input, produksi, proses dan pendistribusian, pemasaran serta komsumsi.

Misalnya, produk makanan terjamin ke halalnya mulai saat diternak, pakan ternak, perlakukan pada hewan hingga cara menyembelih dan pengepakan.

Dalam pemasaran juga harus menunjukkan nilai-nilai syariah, baik ketika akan dibawa ke supermarket dan groceries terakhir sampai ke konsumen di restoran, hotel, dan food trucks tidak bercampur dengan makanan haram.

Menurut Safri ada beberapa langkah penguatan ekosistem halal supply chain. Pertama melakukan pemetaan industri strategis yang masuk dalam top prioritas seperti sektor pertanian, sektor industri pengolahan (food & fashion), sektor sektor energi terbarukan, dan sektor wisata halal.

Kemudian melakukan identifikasi dan pengembangan model setiap sektor industri yang terintegrasi mulai pelaku usaha mikro, menengah dan besar di setiap sektor.

Langkah berikutnya adalah membangun pelaku usaha yang sukses dalam halal supply chain sebagai role model bagi sesama pelaku usaha. Kemudian membangun model usaha dan bisnis yang terintegrasi dari hulu hingga hilir.

Selain itu, harus ada dorongan agar regulasi yang mendukung yang sesuai dengan standarisasi dan pengawasan terhadap produk halal.

“Dukungan akses pasar baik di dalam negeri maupun luar negeri juga penting,” ujar Safri.

Selain itu juga soal infrastruktur, seperti pusat kajian dan center of excellence  pengembangan model bisnis syariah. Kemudian membangun dan meningkatkan infrastruktur pendukung seperti mendirikan Kawasan Ekonomi Khusus syariah yang terintegrasi.

“Sumber pembiayaan sosial seperti zakat, infaq, zakat dan sedekah juga harus diperkuat,” ujar dia.

Chairman of Indonesia Halal Lifestyle Center Sapta Winandar mengatakan perlu kolaborasi antar-pebisnis untuk bisa menggerakan pertumbuhan industri halal secara signifikan.

Karena itu, perlu road map yang jelas agar setiap pengusaha bisa bergerak sinergis dan terkoneksi satu dengan lainnya.

Selain kolaborasi, ajang pameran terintegrasi juga penting sehingga memiliki dampak besar bagi Indonesia. Penting membuat pameran industri halal demi mengenalkannya ke kancah internasional.

Selain itu, adalah sertifikasi produk halal. Sertifikasi halal dapat menjadi penjamin bagi turis luar negeri muslim yang datang ke Indonesia.
Tanpa sertifikasi halal, turis muslim akan ragu. Namun hal ini masih terus menjadi masalah yang sering dialami oleh para pebisnis.

 

 

nazarudin