Sabtu, 6 Juni 2020
15 Shawwal 1441 H
Home / Keuangan / Azharuddin Lathif : DSN Belum Pernah Keluarkan Fatwa Pedoman Bank Wakaf Mikro
-
Status pendirian dan mekanisme kerja kesyariahan Bank Wakaf Mikro, berpedoman pada peraturan OJK tentang Lembaga Keuangan Mikro (LKM) Syariah

Status pendirian dan mekanisme kerja kesyariahan Bank Wakaf Mikro berpedoman pada peraturan OJK tentang Lembaga Keuangan Mikro (LKM) Syariah.

Sharianews.com, Jakarta. Instruktur Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI) dan Dewan Pengawas Syariah untuk Bank Wakaf Mikro, Ah. Azharuddin Lathif M.H., M.Ag., mengatakan, DSN-MUI belum pernah mengeluarkan fatwa pedoman untuk pendirian dan mekanisme kerja Bank Wakaf Mikro yang sampai per Juni 2018 jumlahnya sudah mencapai 26 bank.

“DSN-MUI sampai hari ini belum pernah mengeluarkan fatwa pedoman Bank Wakaf Mikro,” urainya ketika ditanya sharianews.com mengenai status hukum syariah Bank Wakaf Mikro, Selasa (7/8/2018).

Ia menegaskan, status pendirian dan mekanisme kerja kesyariahan Bank Wakaf Mikro sampai saat ini masih berpedoman pada peraturan OJK tentang Lembaga Keuangan Mikro (LKM) Syariah, karena Bank Wakaf Mikro itu sendiri merupakan lembaga keuangan berbadan hukum koperasi jasa.

Azharuddin menjelaskan, setelah sebelumnya dari tahun 2017 hingga sekarang OJK bersama Lembaga Amil Zakat Nasional Bangun Sejahtera Mitra (LAZNAS BSM) Umat dan Pusat Inkubasi Bisnis Usaha Kecil (Pinbuk) menginisiasi pendirian beberapa Bank Wakaf Mikro yang tersebar di beberapa wilayah Indonesia.

“Hal ini perlu saya sampaikan juga, karena dari awal pendiriannya banyak perdebatan di tengah-tengah masyrakat, terkait dengan status kesyariahaan dari lembaga keuangan ini,” paparnya.

Namun demikian, ia menerangkan, produk maupun program untuk penyaluran dana atau pembiayaan oleh Bank Wakaf kepada masyarakat miskin produktif sudah sesuai dengan fatwa DSN MUI.  

Adapun Bank Wakaf Mikro, jelasnya, ialah sebagai model LKM Syariah inklusi keuangan di wilayah pesantren yang memiliki karakteristik khusus, berbeda dibandingkan LKM Syariah yang telah berdiri saat ini.

Terkait dengan penamaan Bank Wakaf Mikro itu sendiri lebih disandarkan pada sumber dana pendirian dan operasional yang diambil dari “wakaf uang”, yakni donasi masyarakat, khususnya para pengusaha besar dan/atau perusahaan besar yang memiliki kepedulian tinggi terhadap pemberdayaan masyarakat miskin dan pengentasan kemiskinan di Indonesia.

“Jadi, Bank Wakaf Mikro ini bukanlah lembaga pengelola ziswaf seperti halnya Badan Wakaf Indonesia (BWI) untuk kemudian dananya disalurkan menjadi bank. Bukan. Walaupun penamaannya disematkan kata ‘wakaf’,” lanjutnya.

Mekasnisme Kerja Bank Wakaf Mikro

Selain itu, menurutnya, mekanisme kerja Bank Wakaf Mikro sampai saat ini tidak diperkenankan mengambil simpanan dari masyarakat (non deposit taking), karena memiliki fokus pemberdayaan masyarakat melalui pembiayaan disertai pembinaan dan pendampingan usaha.

“Tapi, di masa mendatang juga diperbolehkan mengambil simpanan dari masyarakat, sebagaimana kerja koperasi pada umumnya. Namun, hal ini sedang dikaji lagi,” imbuhnya.

Ada pun model pembiayaannya, lembaga keuangan ini hadir dengan memberikan pembiayaan bukan untuk sektor konsumsi, yakni khusus membantu masyarakat kecil di daerah yang memiliki usaha super mikro atau Ultra Mikro (UMi), tanpa memerlukan agunan dengan margin bagi hasil setara 3 persen. 

Karakteristik lainnya, Bank Wakaf Mikro juga terletak pada pelatihan dan pendampingan yang diberikan kepada nasabah, serta pola pembiayaan yang dibuat per kelompok (tanggung renteng).

“Model pembiayaan ini seperti Grameen Bank. Yaitu, pembiayaan untuk kelompok, dengan alasan lebih dikarenakan supaya sesama kelompoknya bisa saling mengingatkan mengenai tenggat waktu pembayaran peminjaman. Ya, intinya pengamanan supaya pembayaran kredit tidak macet. Kalau untuk per orang belum diperbolehkan,” tambahnya.

Jumlah pembiayaan awal yang diberikan kepada nasabah mikro produktif juga terbilang kecil, yaitu pada kisaran nilai pembiayaan sebesar Rp 1 juta dan dapat ditingkatkan hingga Rp 3 juta.

Dalam realisasinya, menurut laporan dan rilis OJK, hingga 31 Desember 2017 dari 10 bank Bank Wakaf Mikro telah menyalurkan pembiayaan sebesar Rp 658 juta dengan total jumlah nasabah sebanyak 827 orang.

Sedangkan secara nasional, sampai 30 Juni 2018 telah berdiri 26 Bank Wakaf Mikro di seluruh Indonesia dengan total pembiayaan sebesar Rp 6,052 miliar kepada 5.735 nasabah. (*)

 

Reporter : Emha S. Asror Editor : Ahmad Kholil