Rabu, 27 Oktober 2021
21 Rabi‘ al-awwal 1443 H
Home / Keuangan / Asuransi Syariah Baru Menguasai 2,58 Persen Aset Asuransi Nasional
Foto dok. Pichai Choosenpom/Pexels
Setara Rp42,78 triliun per Mei 2021

Sharianews.com, Jakarta - Wakil Presiden Ma’ruf Amin mengatakan industri asuransi memiliki kontribusi signifikan terhadap industri keuangan nonbank.

Selain itu, ia menyampaikan, industri asuransi syariah baru menguasai sekitar 2,58 persen dari total aset yang dimiliki oleh industri asuransi secara nasional, yaitu sebesar Rp42,78 triliun per Mei 2021. 

Artinya dengan jumlah penduduk Indonesia sebanyak 270 juta jiwa dan porsi kelas menengah yang cukup besar, potensi pasar asuransi nasional, khususnya asuransi syariah masih sangat besar untuk terus bertumbuh.

Pada kesempatan tersebut, ia juga menekankan bahwa tantangan bagi industri asuransi syariah ke depan, yang juga sekaligus peluang untuk tumbuh lebih cepat adalah realisasi kewajiban spin off atau pemisahan unit usaha syariah pada tahun 2024, sebagaimana yang diamanatkan dalam UU No. 40 Tahun 2014 tentang  Perasuransian, pemisahan unit syariah menjadi entitas sendiri yang akan mendorong perusahaan lebih fokus dan inovatif dalam mengembangkan usaha.

”Dari 59 perusahaan asuransi syariah 43 diantaranya merupakan unit usaha syariah, sehingga dalam tenggat waktu sampai tahun 2024, unit usaha syariah ini sudah menjadi perusahaan asuransi syariah. Untuk itu AASI harus mendorong dan membantu setiap anggotanya untuk merealisasikan spin off sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan,” ujarnya, saat Peringatan Milad ke-18 Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia (AASI), Sabtu (15/08).

Pria yang juga menjabat sebagai Ketua Dewan Penasihat AASI ini menambahkan bahwa dalam waktu dekat, industri asuransi syariah juga akan menghadapi tantangan lainnya, yaitu keterbukaan pasar regional melalui Framework Agreement on Services (AFAS) yang dimulai pada tanggal 1 Januari 2025 mendatang.

Persaingan industri asuransi syariah di tanah air akan semakin kompetitif, seiring dengan masuknya pesaing perusahaan asuransi dari negara- negara ASEAN. Namun, di lain pihak hal ini juga mejadi peluang bagi industri asuransi syariah nasional untuk ekspansi ke pasar asuransi di kawasan ASEAN.

Untuk itu, industri asuransi syariah nasional harus terus mempersiapkan diri untuk lebih kompetitif dan efisien sehingga mampu bersaing di dalam negeri dan mampu memimpin pasar asuransi syariah di tingkat regional.

Dalam rangka pengembangan ekonomi dan keuangan syariah nasional, industri asuransi syariah memiliki kesempatan berperan lebih besar, dalam rantai nilai halal atau halal value chain baik melalui industri produk halal, maupun melalui industri keuangan syariah.

“Pemerintah juga terus ikut mendukung dan berupaya mengembangkan industri keuangan syariah nasional dalam rangka menjadikan Indonesia sebagai pusat industri keuangan syariah dunia. Untuk AASI, teruslah memberikan kontribusi bagi perekonomian nasional, dan semoga dalam waktu tiga tahun ke depan atau di tahun 2024 nanti semua unit usaha syariah sudah selesai melakukan spin off,” ungkap dia.

Rep. Aldiansyah Nurrahman