Minggu, 27 September 2020
10 Ṣafar 1442 H
Home / Lifestyle / Astri Ivo Ungkapkan Arti Anak Baginya Seperti Kertas Putih
Astri Ivo dengan keluarga. (Foto/Dok Fimela.com)
Sehingga apabila sedikit saja ada kesalahan didik dari orang tua, maka ia akan terjatuh pada jurang yang paling dalam.

Sharianews.com, Sebagaimana kertas putih, seorang anak yang baru dilahirkan belum memiliki apa-apa selain sumpah kepada Tuhannya untuk beriman ketika dalam kandungan. Selebihnya kertas putih itu akan terwarnai pertama kali oleh orang terdekatnya, yakni orang tua.

Astri Ivo, seorang selebritis yang memiliki tiga anak mengatakan, tidak ada anak yang dilahirkan langsung dalam keadaan solih atau solihah (kecuali Allah menghendaki). Melainkan kesolihan orang tuanyalah yang mampu menularkannya.

Yang dimaksud kesalihan disini, menurutnya, bukan sekadar rajin beribadah saja tetapi meliputi kecerdasan intelektual, kecerdasan spiritual, kecerdasan fisik, kecerdasan emosi dan sosial. Semua inilah yang menjadi tugas penting bagi seorang ayah maupun ibu.

Oleh karenanya, untuk menunaikan amanah tersebut haruslah bersandar dan mengkaji ayat suci Al-qur’an dimana semua solusi kehidupan ada didalamnya. Sebab orang-orang yang dekat dengan Qur’an dan bertakwa, akan senantiasa diberikan jalan keluar atas permasalahan tersebut.

“Setelah itu yang harus dimiliki oleh kita yang mampu menjaga adalah tidak me-yahudikan, me-nasranikan, memajusikan anak-anak kita. Yakni orang tua yang mampu menjaga dirinya, orang tua yang memahami perannya dengan baik serta amanah yang di berikan,” ujar Astri, Kamis (28/2).

Tidak bisa dimungkiri, kesalahan orang tua dalam mendidik memiliki konsekuensi tersendiri, yakni memurtadkan perilaku anak-anaknya (menasranikan, meyahudikan, memajusikan).

Barangkali secara formal bisa dikatakan masih beragama islam, tetapi ketika perilakunya diluar ajaran islam maka disinilah letak orang tua agar menjaga anak-anaknya tersebut.

Dalam paparannya, Astri mengatakan salah satu kesalahan orang tua dalam mendidik adalah tidak memprsiapkannya menjadi orang tua kelak.

“Sedikit orang tua mempersiapkan anak-anaknya menjadi orang tua, maka ketika mereka sudah menjadi orang tua dan memiliki anak mereka tidak siap menghadapi tantangan-tantsngan tersebut. Kebanyakan hanya mempersiapkan bagaimana menjadi doktor, guru, lawyer dan profesi lain,” imbuh da’i ini.

Maka ketika hal tersebut terjadi, lanjutnya, sama halnya dengan seorang anak yang tengah berada di tepi jurang sangat dalam. Sehingga apabila sedikit saja ada kesalahan didik dari orang tua, maka ia akan terjatuh pada jurang yang paling dalam.

Pasalnya ketika anak tidak diajarkan untuk menjadi orang tua sebagaimana mestinya yang sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an, maka anak tersebut berpotensi tidak akan bisa mendidik anak nya kelak. Sehingga menjadi kesalahan berantai sampai ada yang merubahnya.

“Pertama setelah kita bersyukur, belajarlah jadi orang tua yang memilki amanah anak-anak milenia, yang memiliki anak-anak dengan hati yang kokoh (beriman). Dengan begitu sebagai orang tua harus mengikuti perkembangan zaman. Mungkin jaman dulu belum ada yang seperti ini. Itulah yang orang tua harus kejar, dengan mengikuti perkembangan zaman mereka,” kata dia.

 

Reporter: Fathia Editor: Munir Abdillah