Selasa, 23 April 2019
18 Sha‘ban 1440 H
Masjid-Nurullah-di-Rusia - FOTO | Dok. kicknews.today
Laporan Thomson Reuters menyebutkan laju pertumbuhan penduduk muslim di Rusia cukup pesat. Pada 2018, ada 25 juta penduduk muslim di Rusia dan 20 persen di antaranya sudah terliterasi keuangan Islam dengan baik.

Sharianews.com, Jakarta. Meski dikenal sebagai ‘Negeri Komunis’, namun menurut hasil penelitian Thomson Reuters, aset perbankan Islam Rusia diperkirakan akan mencapai USD 10 miliar pada 2018. Angka tersebut kurang lebih setara dengan 0,06 persen dari total aset perbankan syariah dunia yang diasumsikan mencapai kurang lebih hingga USD 1,6 triliun di tahun yang sama.

Prediksi didasarkan atas penelitian Thomson Reuters terhadap meningkatnya industri keuangan Islam selama satu dekade terakhir di Rusia. Juga didasarkan atas cepatnya laju pertumbuhan jumlah penduduk muslim dan tingginya literasi keuangan syariah di negara tersebut, yang mencapai 20 persen.

Disebutkan, jumlah kaum muslim Rusia menurut survei Pew Research Center pada 2010 sekitar 16,3 juta atau 11,7 persen dari total penduduk. Jumlah tersebut terus meningkat di tahun ini menjadi kurang lebih 25 juta jiwa. Kaum muslim terpencar di berbagai wilayah dan mayoritas di tujuh negara bagian, dengan kota Tatarstan, Moscow serta Kazan sebagai pusatnya.

Lebih lanjut, kurangnya pinjaman luar negeri, khususnya dari Barat, telah membuat Rusia mencari sumber pendanaan lain, termasuk dari negara-negara muslim dengan membuka perbankan syariah. Antara lain, ini yang menyebabkan industri keuangan Islam di Rusia tengah mengalami perkembangan pesat dengan pertumbuhan aset per tahun 15 sampai 20 persen.

Untuk merespon bermacam situasi dan mengakomodir kebutuhan penduduk muslim tersebut, berbagai perusahaan di Rusia kini telah menyediakan layanan keuangan syariah seperti firma Amal dan Lyariba-Finance.

Mulai banyak layanan keuangan syariah

Di sektor perbankan, bank Badr-Forte di Moskow memiliki kontribusi terhadap perkembangan keuangan syariah di Rusia. Bank pertama di Rusia yang mengenalkan sistem keuangan Islam sejak 1991 dan resmi menggunakan metode keuangan syariah pada tahun 1997, juga berperan dalam menstimulasi pertumbuhan perbankan syariah bersama bank-bank besar lainnya di Rusia.

Selain itu, sejak 2015 atas persetujuan Dewan Mufti Rusia (The Council of Muftis of Russia), Moscow Industrial Bank, juga sudah menawarkan kartu debit Syariah. Bank yang telah memiliki 1,5 juta klien ini juga telah menerapkan aturan, di mana dana dalam kartu debit syariahnya tidak diboleh digunakan untuk kegiatan yang dilarang oleh Islam.

Perkembangan selanjutnya, pada 2016 Rusia juga telah mendirikan pusat perbankan Islam pertamanya yang dibuka di Tatarstan. Pusat keuangan syariah ini menurut rencana akan fokus pada layanan perbankan baik untuk perorangan, perusahaan, maupun untuk melayani investor asing.

Setahun setelahnya, tepatnya di tahun 2017 Sovcombank, satu dari lima bank swasta dengan aset terbesar di Rusia, meluncurkan kartu cicilan kredit syariah, Halal Halva, yang khusus digunakan di toko-toko syariah resmi. Selain itu, melalui kartu kredit ini nasabah juga tidak dibebani dengan bunga akrual (accrued interest) atau Pendapatan Bunga yang Akan Diterima (PYAD) bagi bank penyedia layanan.

Banyak pihak berharap inovasi yang telah dikembangkan Sovcombank dapat diadopsi dalam waktu dekat oleh lembaga keuangan penyedia kredit lainnya supaya bisa mendorong pengembangan perbankan Islam dan peningkatan inklusi keuangan syariah di Rusia.

Berikutnya, Sberbank juga telah menunjukkan minat yang konsisten dalam memperkenalkan mekanisme perbankan Islam. Pada tahun 2017, bank milik negara terbesar di Rusia ini mengumumkan penyediaan transaksi mudarabah atau bagi hasil.

Tidak hanya itu, di Forum Ekonomi Islam Rusia (The Russian Islamic Economic Forum) pada 27 Februari 2018 silam, Behnam Gurbanzada, Penasihat Wakil Ketua Dewan Sberbank, mengatakan bahwa Sberbank sedang mempertimbangkan peluncuran proyek percontohan terkait tabungan syariah bagi masyarakat di Tatarstan Chechnya, dan Bashkiria.

Catatan lain dari Thomson Reuters juga memprediksi pertumbuhan aset perbankan syariah di Rusia, setelah adanya perjanjian kerjasama yang ditandatangani pada Mei 2018 di Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Ekonomi Internasional Dunia Islam-Rusia ke-10 di Kazan antara Vnesheconom Bank dan Islamic Development Bank (IsDB) dalam penyediaan dana sebesar USD 100 juta untuk mendukung teknologi industri.

Menurut Zamir Ikbal, Wakil Presiden IsDB, saat ini pihaknya telah mengimplementasikan sekitar 56 proyek bersama beberapa bank Rusia yang nilainya lebih dari USD 7 juta. IsDB juga terlibat dalam elaborasi kerangka hukum untuk menerapkan perbankan Islam di ‘Negeri Beruang Putih’ tersebut.

Tidak hanya itu, selain instrumen keuangan syariah, obligasi syariah atau sukuk ternyata juga telah menarik perhatian komunitas bisnis Rusia. Misalnya, belum lama ini beberapa perusahaan di Kazan dan Tatarstan melakukan percobaan penerbitan sukuk dan mendaftarkannya kepada Bank Sentral Russia.

Jaringan mitra

Bagaimana pun kemajuan perbankan syariah di Rusia dianggap banyak pihak tidak terlepas dari posisi strategis yang telah dimainkan negara-negara anggota Organisasi Kerjasama Islam (OKI). Wakil Menteri Perindustrian dan Perdagangan Georgy Kalamanov mengatakan, di 2018 omset tahun berjalan perdagangan Rusia dengan negara-negara OKI mencapai sekitar USD 75 miliar.

Rinciannya, omset dari ekspor mencapai sekitar USD 58 miliar, sementara impor dari negara-negara OKI total sekitar USD 17 miliar. Turki, Kazakhstan, dan Mesir adalah mitra dagang utama Rusia.

Jaringan mitra bisnis melalui inklusi keuangan syariah dengan OKI mulai meningkat ketika Rusia ikut mempelopori KTT Ekonomi Internasional Dunia Islam-Rusia dan terutama saat didapuk menjadi tuan rumah di tahun 2009.

Thomson Reuters memberi catatan, forum ini menjadi salah satu titik tolak dalam memperkuat hubungan perdagangan, ekonomi, ilmiah, teknologi, sosial dan budaya antara Rusia dan negara-negara OKI. (*)

Reporter: Emha S. Asror Editor: Ahmad Kholil