Selasa, 22 Oktober 2019
23 Ṣafar 1441 H
Home / Lifestyle / Apakah Indonesia Mampu Memimpin Industri Halal Dunia?
Hal tersebut diungkapkan oleh Delil Khairat selaku Market Underwriter dan Client Manager at Swiss Retakaful, Malaysia pada seminar internasional ekonomi syariah di Universitas Gunadarma, Jumat (5/4).

Sharianews.com, Sebagai negara dengan Muslim terbesar di dunia, ternyata, Indonesia belum mampu menjadi lokomotif industri halal dunia.

Hal tersebut diungkapkan oleh Delil Khairat selaku Market Underwriter dan Client Manager at Swiss Retakaful, Malaysia pada seminar internasional ekonomi syariah di Universitas Gunadarma, Jumat (5/4).

Berdasarkan Global Islamic Economic Indicator, Indonesia belum menempati peringkat pertama di semua sektor, seperti sektor makanan, fesyen, pendidikan, kosmetik, farmasi, media dan biro perjalanan, rekreasi, seni budaya, perawatan kesehatan hingga industri keuangan syariah. Sehingga, sektor tersebut yang akan menjadi target Indonesia ke depannya.

Sebagai contoh, untuk sektor biro perjalanan halal, Indonesia menduduki peringkat ke-2. Sedangkan sektor yang paling tampil adalah industri fesyen, yakni peringkat ke-2 setelah UEA (Uni Emirat Arab). Lainnya, masih tertinggal di bawah negara lain.

“Jadi pertanyaannya adalah, dari statistik tadi sebenarnya sudah kelihatan kalau kita ketinggalan dalam halal industri di semua sektor. Enggak satupun kita leading (memimpin),” kata Delil.

Namun, sisi baiknya, ia menyampaikan bahwa di tahun ini Indonesia sudah berada sedikit di atas Bruney Darussalam. Setelah sebelumnnya tertinggal. Meskipun secara keseluruhan, anggaran yang dikeluarkan (konsumtif) masih lebih banyak daripada yang dihasilkan (produktif) sendiri.

“Saya ungkap expenditure (pengeluaran) halal dari berbagai negara, baik Moslem countries (negara Islam) maupun non-Moslem countries (bukan negara Islam). Dan ternyata memang Indonesia sangat besar. Karena memang umat Islamnya juga banyak,” ungkap Market Underwriter dan Client Manager at Swiss Retakaful Malaysia ini.

Setelah Indonesia, negara yang memiliki pengeluaran besar dalam industri halal adalah Turki, Pakistan, dan Arab Saudi. Namun, besarnya pengeluaran mereka didukung dengan besarnya aset, walaupun jumlah penduduknya tidak sebanyak Indonesia. Seperti Arab Saudi yang jumlah penduduknya hanya satu per lima dari Indonesia atau bahkan kurang dari itu.

“Keuangan Syariah (Islamic finance) di dunia memang sedemikian rupa dalam menunjukan pertumbuhan, dan ternyata Indonesia masih sangat kecil. Kita cuma di urutan enam atau tujuh. Terbesar adalah Malaysia, padahal Indonesia itu sama dengan Malaysia, baik dari sisi jumlah regulasi, maupun juga Islamic provider-nya, padahal negara kita jauh lebih banyak, tetapi asetnya jauh lebih kecil dari Malaysia. Jadi ada something wrong (sesuatu yang salah),” pungkasnya menegaskan. (*)

 

Reporter: Fathia Rahma Editor: Achi Hartoyo