Jumat, 23 April 2021
12 Ramadan 1442 H
Home / Keuangan / Anomali Industri Asuransi Umum Syariah
Foto dok. Pixabay/Pexels
Pendapatan industri asuransi umum syariah tercatat mengalami penurunan, akan tetapi ada peningkatan pada jumlah aset.

Sharianews.com, Jakarta – Indonesia memiliki kesempatan dan peluang yang sangat besar dalam mengembangkan perkonomian syariah. Saat ini, Indonesia termasuk salah satu negara yang mempunyai lembaga keuangan syariah terbanyak di dunia.

Ditambah lagi dengan populasi penduduknya yang mayoritas bergama Islam. Begitu juga dengan adanya regulasi yang mengatur terkait keuangan syariah mulai dari Peraturan Otoritas Jasa Keuangan, hingga fatwa-fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Terkait kinerja asuransi umum di Indonesia untuk tahun 2020, Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia (AASI), Erwin Noekman menjelaskan bahwa ada sejenis anomali yang terjadi, yang mana sekalipun pendapatan industri asuransi umum syariah tercatat mengalami penurunan, akan tetapi ada peningkatan pada jumlah aset.

Kontribusi asuransi umum syariah secara kuartalan, mulai dari Desember 2019 hingga Maret 2020 terjadi penurunan. Kemudian saat pandemi Covid-19 mulai masuk ke Indonesia kinerja industri kembali turun hingga Juni 2020. Lalu, pada September 2020 menunjukkan pertumbuhan. Peningkatan juga terjadi saat menutup tahun 2020. Dari segi aset, industri asuransi umum syariah mencatatkan pertumbuhan yang cukup baik, sekalipun saat masa pandemi Covid-19.

Secara year on year, kontribusi bruto asuransi umum mengalami penurunan di tahun 2020, yaitu tercatat sebesar Rp1,82 triliun di tahun 2019, dan menutup tahun 2020 menjadi Rp1,61 triliun.

“Penurunan kontribusi ini, bukan saja terjadi di Tanah Air, tapi juga bagi rekan-rekan kita yang di luar negeri. Akan tetapi dari segi aset, industri asuransi umum Indonesia mengalami peningkatan, yaitu Rp5,90 triliun di tahun 2019 dan menutup tahun 2020 tercatat menjadi Rp6,01 triliun. Jadi ada kenaikan sekitar Rp100 miliar,” ungkap Erwin, Jumat (26/02).

Kinerja baik lainnya juga terlihat dari klaim asuransi umum syariah yang mengalami penurunan. Dimana di 2019, klaim bruto asuransi umum syariah tercatat sebesar Rp726 miliar, dan menutup 2020 tercatat menjadi Rp641 miliar.

Untuk investasi, kinerja industri asuransi umum syariah juga mengalami kinerja yang baik, yang mana pada tahun 2019 tercatat sebesar Rp4,03 triliun dan pada tahun 2020 tercatat naik sekalipun tipis yakni menjadi Rp4,10 triliun. Peningkatan investasi ini diikuti oleh pertumbuhan hasil investasi, yang mana pada tahun 2019 tercatat sebesar Rp243 miliar dan pada tahun 2020 menjadi Rp259 miliar.

”Menariknya dari kinerja asuransi umum adalah dari segi laba. Di saat secara umum negara kita mengalami resesi, justru di industri asuransi umum syariah malah labanya meningkat. Pada tahun 2019 tercatat sebesar Rp514 miliar, dan pada tahun 2020 meningkat menjadi Rp532 miliar. Ini seperti yang terjadi pada tahun 1998, dimana disaat industri lainnya krisis, malah sebagian perusahaan asuransi saat itu mengalami peningkatan dari segi laba,” jelas Erwin.

Namun yang tidak kalah pentingnya, lanjut Erwin, tingkat solvabilitas industri asuransi umum syariah juga boleh dikatakan sangat sehat dengan solvabilitas dana tabarru lebih dari 423 persen. Artinya, melebihi dari ketentuan yang diatur Otoritas Jasa Keuangan.

Dari segi lini bisnis, saat ini industri asuransi umum syariah masih didominasi dari sektor asuransi kendaraan bermotor yang memiliki porsi sebesar 36,46 persen dan diikuti oleh bisnis asuransi kecelakaan diri dengan porsi sebesar 31,11 persen kemudian dari sektor asuransi harta benda yaitu sebesar 15,60 persen.

Erwin menambahkan, untuk ke depan potensi industri asuransi umum akan terus berkembang. Disamping dengan mergernya tiga bank syariah yang cukup memberikan pengaruh terhadap perekonomian syariah nasional, faktor lainnya adalah seiring dengan adanya pembangunan kawasan industri halal yang tentunya akan melibatkan banyak pihak dan menjadi prospek industri perasuransian syariah.

Rep. Aldiansyah Nurrahman