Selasa, 23 April 2019
18 Sha‘ban 1440 H
FOTO I Dok. inspiration.rehlat.co
Agama Islam menganjurkan kita untuk tidak mengonsumsi bahan pangan yang mengandung zat-zat yang membahayakan bagi kesehatan kita, misalnya kolesterol tinggi atau bisa memicu naiknya gula darah.

Sharianews.com, Jakarta ~ Mayoritas umat Islam, mengonsumsi makanan dan minuman halal kapan pun dan di mana pun menjadi prioritas utama. Agama Islam mengajarkan umatnya agar selalu mengonsumsi makanan dan minuman yang halal dan baik. Dalam kaidah agama, konsep tersebut sering diistilahkan dengan “halalan thayibban”.

Perintah untuk Menghindari Makanan dan Minuman Haram

Dalam Al Qur’an, Surat Al Maidah : 88 disebutkan yang artinya: “…dan makanlah makanan yang halal lagi baik (thayib) dari apa yang telah dirizkikan kepadamu dan bertaqwalah kepada Allah dan kamu beriman kepada-Nya”.

Selain ayat tersebut juga disebutkan dalam surat lain tentang pengharaman mengonsumsi darah, daging babi, bangkai yang diperintahkan dalam surat Al-Baqarah ayat 173. Dalam ayat itu berbunyi, "Sesungguhnya Dia hanya mengharamkan atasmu bangkai, darah, daging babi, dan (daging) hewan yang disembelih dengan (menyebut nama) selain Allah. Tetapi barang siapa terpaksa (memakannya), bukan karena menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang."

Selain ayat alquran beberapa hadist Nabi juga menyebutkan: “Rasulullah SAW melarang membunuh shurad, kodok, semut, dan hud-hud. (HR. Ibnu Majah dengan sanad yang shohih).

Di hadist lain Nabi juga menyebutkan pengharaman terhadap kelima hewan untuk dimakan, berdasarkan hadits Abu Hurairah -radhiallahu ‘anhu-, beliau berkata:

Nabi pernah bersabda “Lima jenis hewan yang harus dibunuh, baik di tanah haram maupun di tanah biasa, yaitu kalajengking, ular, anjing buas, tikus, dan burung rajawali” (H.R. Abu Daud) dalam riwayat lain disebutkan juga burung gagak.

Selain itu Nabi juga melarang memakan binatang buas yang bertaring. (Shahih Muslim No.3570) termasuk juga mengonsumsi daging keledai. Bahwa Rasulullah saw. melarang makan daging keledai piaraan.

Hadist lain yang diriwayatkan oleh Imam Syafi’ie juga mengharamkan hewan yang hidup di dua alam (di darat dan di air) seperti buaya, kura-kura, kodok, dan kepiting.

Perintah Mengonsumsi Makanan Halal dan Baik

Umat Islam memiliki standar dalam mengonsumsi makanan dan minuman. Meskipun makanan tersebut halal tetapi jika tidak baik, hendaknya dihindari. Berikut ini adalah kriteria makanan halal dan baik menurut Islam:

Tidak mengandung bahan berbahaya

Agama Islam menganjurkan kita untuk tidak mengonsumsi bahan pangan yang mengandung zat-zat yang membahayakan bagi kesehatan kita, misalnya kolesterol tinggi atau bisa memicu naiknya gula darah.

Makanan harus bergizi tinggi

Mengonsumsi makanan yang lengkap dan berimbang adalah keharusan. Dahulu kita belajar makanan 4 sehat 5 sempurna seperti nasi/jagung, lauk/pauk, sayuran, buah-buahan, dan terakhir susu. Namun, konsep tersebut sekarang sudah tidak berlaku lagi.

Negara kita kini resmi menggunakan Pedoman Gizi Seimbang (PGS) untuk menyiapkan pola hidup masyarakat.

Konsep tersebut mengharuskan semua makanan mengandung karbohidrat, protein, vitamin, dan mineral yang dibutuhkan oleh tubuh kita. Bahan makanan lain yang dianjurkan agama Islam adalah madu, pasak bumi, habbatus saudah, minyak zaitun, dan sebagainya agar tubuh kita sehat.

Makanan harus dalam kondisi segar

Makanan yang sudah berubah warna, bau, dan rasanya sebaiknya dihindari.

Mengonsumsi makanan yang alami

Makanan yang kita konsumsi sebaiknya tidak mengandung berbagai zat kimia seperti pupuk kimia, pengawet kimia (misalnya formalin),  pestisida kimia, perasa kimia (misalnya biang gula/aspartame, MSG, dsb), dan pewarna kimia.

Tidak mengonsumsi makanan secara berlebihan.

Agama Islam menganjurkan agar umatnya tidak berlebihan dalam mengonsumsi makanan dan minuman. Islam menganjurkan untuk mengisi perut dengan seimbang dengan pola sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman dan sisanya untuk oksigen. Islam berprinsip, segala sesuatu yang berlebihan tidaklah baik. Baik untuk tubuh dan kesehatan. (*)

 

 

 

Achi Hartoyo