Jumat, 19 Juli 2019
17 Thu al-Qa‘dah 1440 H
Home / Keuangan / Anggapan Bank Syariah tidak Syariah
FOTO I Dok. Dib.ae
Berdasarkan pengalamannya, ia mengelompokan mereka yang menganggap bank syariah tidak sesuai syariah, yakni kelompok yang tidak punya bukti dan kelompok yang tidak paham.

Sharianews, Jakarta ~ Pengurus Pusat Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Muhamammad Bagus Teguh Perwira mengatakan, ada sebagian orang yang menganggap bank syariah itu tidak sesuai dengan syariah.

Berdasarkan pengalamannya, ia mengelompokan mereka yang menganggap bank syariah tidak sesuai syariah, yakni kelompok yang tidak punya bukti dan kelompok yang tidak paham.

Bagi kelompok yang tidak mempunyai bukti, mereka mengatakan bank syariah hanya labelnya saja. Namun, begitu ditanya buktinya, mereka tidak bisa membuktikan.

“Bila punya bukti, yuk kasih saya, kita laporkan ke Dewan Syariah Nasional- Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI), kita laporkan ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK), jika memang punya bukti,” jelasnya menegaskan.

Dia menambahkan, jika tidak punya bukti, sebaiknya jangan sesumbar karena bisa menimbulkan fitnah. Fitnahnya tidak sembarangan, dampaknya bisa ke seluruh industri bank syariah di Indonesia. 

Kemudian untuk kelompok yang tidak paham adalah mereka yang mengaku punya bukti tetapi gagal paham. Teguh menyampaikan, biasanya kelompok ini membandingkan harga. Misalnya, mereka menyampaikan ketika mencicil di bank syariah dengan mencicil bank konvensional harganya sama.

Hal tersebut tentu keliru, karena harga yang ditetapkan oleh bank syariah dan konvensional boleh sama, dan tidak melanggar kesyariahan. Analoginya seperti meminum secangkir kopi yang harganya Rp100 ribu dengan minuman keras atau wine yang harganya sama. Kopi dan wine tersebut harganya sama, tetapi tidak lantas kopi menjadi haram.

“Apa yang kita nilai, bukan dari harganya, bukan dari nilai rupiahnya, tapi prosesnya apa. Wine proses yang menjadikan memabukan, sementara kopi biasa, prosesnya proses yang halal maka hukumnya halal, meskipun harganya sama,” tutur Teguh. (*)

Reporter: Aldiansyah Nurrahman Editor: Achi Hartoyo