Senin, 16 September 2019
17 Muḥarram 1441 H
Home / Lifestyle / Ambisi Jakarta jadi Pusat Halal Dunia
Suasana buka bersama di Masjid Istiqlal. Foto | Dok. Anadolu Agency
Jakarta memang harus mencari sumber pertumbuhan ekonomi baru karena seluruh pangsa dari komponen utama PDRB sudah mengalami titik jenuh dan menunjukkan kecenderungan menurun

Sharianews.com, Jakarta~  Ibu kota Republik Indonesia, Jakarta berambisi menjadi destinasi wisata dan pusat halal dunia.

Ambisi yang tidak mudah, tapi wajib dilakukan karena Jakarta harus mencari sumber pertumbuhan ekonomi baru di tengah merosotnya seluruh pangsa komponen utama Pendapatan Daerah Regional Bruto (PDRB).

Koordinator Jakarta Tourism Forum (JTF) Salman Dianda Anwar mengatakan dengan modal potensi dengan berpenduduk muslim terbesar dunia, keindahan alam, seni budaya, serta keunikan serta potensi wisata yang dimiliki, Jakarta dinilai mampu mewujudkan ambisi itu.

“Ini semua harus didukung terobosan strategi dan kebijakan yang baik dan terencana. Tanpa itu, alangkah sulitnya untuk bisa bersaing dengan negara-negara tetangga,” ujar Salman dalam sebuah diskusi di Jakarta, pekan lalu.

Jakarta sendiri sudah punya modal yaitu Peraturan Gubernur Nomor 158 Tahun 2013 tentang Sertifikasi Halal Restoran dan Non-restoran.

Dengan aturan ini, semua restoran dan gerai yang menjual makanan serta minuman, dan outlet penjual makanan ringan diwajibkan melakukan sertifikasi halal.

Ini adalah langkah efektif untuk menggaet turis mancanegara terutama dari negara muslim, seperti Timur Tengah, Turki, Malaysia, dan Brunei.

Pertumbuhan Ekonomi Mulai Jenuh

Kepala Bank Indonesia Perwakilan DKI Jakarta, Trisno Nugroho Jakarta memang harus mencari sumber pertumbuhan ekonomi baru. Ini karena seluruh pangsa dari komponen utama PDRB yaitu konsumsi, investasi, dan ekspor sudah mengalami titik jenuh dan menunjukkan kecenderungan menurun.

Penurunan ini juga tercermin dari pangsa tiga lapangan usaha utama yang mempunyai pangsa total lebih dari 40 persen juga menurun, yaitu sektor perdagangan, sektor industri pengolahan dan konstruksi.

“Jika hal ini terus berlangsung pertumbuhan ekonomi Jakarta berpotensi melambat dan dapat meningkatkan kemiskinan,” ujar dia.  

“Karenanya, Jakarta perlu membangun sumber pertumbuhan baru,” tambah dia.

Sektor yang mampu menjadi sumber pertumbuhan baru menurut Trisno adalah pariwisata, sesuai dengan tren kontribusi pariwisata yang semakin besar dalam perolehan devisa nasional.

Pada 2017, nilainya ekonomi pariwisata mencapai USD14,2 miliar hanya dari jasa perjalanan dan transportasi penumpang. Nilai ini semakin membesar dengan tren wisata yang terus berkembang secara global.

Trisno secara spesifik menyarankan pariwisata halal sebagai sektor andalan perekonomian Jakarta masa depan. Jakarta sendiri setiap tahun kedatangan sekitar 2,5 juta wisatawan yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Kontribusi sektor pariwisata sudah mencapai 10 persen dari pendapatan daerah regional bruto.

Wisata halal ini dipilih karena Indonesia, seperti dalam data “Halal Global Destination” menjadi negara tujuan wisata halal global keempat di dunia.

Kunjungan wisatawan ini diperkirakan akan terus meningkat setiap tahunnya karena memiliki potensi besar pada sektor travel, finance, makanan dan minuman, fashion, pharmaceutical dan kosmetik dengan sertifikasi halal.  

Pada 2017 tercatat ada 131 juta wisatawan muslim global, diperkirakan pada 2020 jumlahnya naik menjadi 158 juta wisatawan dengan pengeluaran USD220 miliar. Jumlah pengeluaran wisatawan diperkirakan akan mencapai USD300 miliar pada 2026.  

“Potensinya tidak hanya jumlah wisatawan yang terus meningkat, tetapi juga dari sisi belanja,” kata Trisno

Di Jakarta, menurut Trisno ada beberapa potensi yang dapat dikembangkan sebagai tujuan pariwisata halal, seperti wisata budaya, islamic heritage, wisata belanja serta eco-turism.

Potensi ini juga mencakup 40.000 kamar hotel berbintang, 17.000 gerai makanan dan minuman bersertifikat halal, lebih dari 5.000 masjid 200 destinasi wisata serta 170 mal.

Secara khusus, Jakarta juga sedang mempersiapkan Masjid Istiqlal, Monumen Nasional, Kota Tua, Desa Wisata Setu Babakan, Pulau Seribu dan wisata belanja sebagai pilot project destinasi wisata halal.

Perlu Badan Promosi Khusus

Menurut Trisno, Pemprov DKI Jakarta harus melakukan langkah-langkah khusus agar bisa meningkatkan peran wisata halal dalam perekonomian.

Salah satunya adalah membentuk badan promosi yang menangani khusus masalah wisata halal ini. Kemudian meningkatkan partisipasi sektor swasta dalam pengembangan program ini.

”Perlu juga menyusun blue print pengembangan pariwisata yang terintegrasi dengan berbagai faktor pendukung,” ujar dia.

Salman mengatakan, percepatan pembangunan pariwisata halal ini bisa terlaksana jika pemerintah menetapkan sektor ini sebagai salah satu sektor prioritas utama pendorong perekonomian di Jakarta.

Kemudian mengubah dan memastikan pengelolaan pariwisata dari pendekatan birokrasi menjadi pendekatan bisnis.

 “Hal penting lainnya adalah menggalakkan tidak hanya branding tetapi juga promosi dan pemasaran wisata besar-besaran untuk menarik wisatawan,” kata Salman.

Dalam waktu dekat, JTF akan segera melakukan kegiatan aksi kolaborasi berbagai pihak guna menyemarakkan sektor pariwisata di DKI Jakarta. Antara lain Jakarta Urban Farming Festival (JUFFEST) di Ecopark Ancol dan Festival Muara Baru 2019 .

Menurutnya, Festival Muara Baru merupakan even kedua setelah sukses penyelenggaraan pada tahun 2018 bersamaan dengan HUT Perum Perikanan Indonesia.

 

 

nazarudin