Sabtu, 11 Juli 2020
21 Thu al-Qa‘dah 1441 H
Home / Lifestyle / Alokasi Pesantren Naik Jadi Rp2,3 Triliun
Foto dok. Kemenag
Pemerintah telah mengalokasikan anggaran untuk membantu pesantren di masa pandemi Covid-19. Anggaran yang dialokasikan sebesar Rp2,3 triliun

Sharianews.com, Jakarta - Pemerintah telah mengalokasikan anggaran untuk membantu pesantren di masa pandemi Covid-19. Anggaran yang dialokasikan sebesar Rp2,3 triliun.

Plt Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama Kamaruddin Amin jumlah Rp2,3 trilun itu merupakan jumlah minimal. “Belum masuk agama-agama lain. Dari agama lain, mungkin sekitar Rp200-300 miliar,” terang Kamaruddin saat Raker bersama Komisis VIII DPR, di Senayan, Jakarta, belum lama ini.

Menurutnya, alokasi anggaran sebesar itu untuk pesantren sudah dinyatakan langsung oleh Direktorat Jenderal Anggaran dan Wakil Menteri Keuangan. Bahkan itu dinyatakan di depan Wapres dan Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan. “Sekarang sedang proses,” tegasnya.

Selama ini, Kamaruddin mengungkapkan, pesantren hanya mendapat alokasi anggaran Rp500 miliar setiap tahun. Di masa pandemi Covid-19 ini, Pemerintah akan mengalokasikan Rp2,3 triliun.

Kamaruddin menyampaikan alokasi ini baru pertama kali terjadi. “Belum pernah terjadi dalam sejarah pesantren mendapat anggaran sebanyak ini,” pungkasnya.

Keberadaan pesantren memang dinilai penting. Menurut Kepala Divisi Keuangan Inklusif Syariah Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) Jamil Abbas ada tiga kelebihan yang dimiliki pesantren.

Pertama, pesantren berbeda dari sekolah biasa yang umumnya sangat terfokus hanya sebatas di dalam lingkungan sekolah, sementara pesantren tidak hanya itu. Secara sosial budaya sejak dahulu, pesantren mampu memberikan manfaat tidak hanya di dalam lingkungan pesantren, tetapi juga di luar pesantren atau warga sekitarnya.

“Saat pandemi Covid-19 terjadi, hal ini turut berdampak terhadap kegiatan pesantren. Mayoritas pesantren mengambil kebijakan untuk memulangkan santrinya saat pandemi ini,” jelas Jamil.

Mengingat keberadaan pesantren yang berpengaruh kepada masayarakat sekitar, keputusan itu pun turut berdampak terhadap masyarakat. Ketidakhadiran santri menurunkan ekonomi masyarakat. Transaksi-transaksi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) masyarakat sekitar pesantren terhenti karena tidak adanya santri.

Kemudian, kelebihan kedua pesantren adalah jaringan umat yang sugguh luar biasa. Bukan hanya jumlah pesantren di Indonesia yang sudah mencapai lebih dari 28 ribu pesantren, tetapi setiap pesantren itu, secara mayoritas juga memiliki aset yang luar biasa.

“Ada yang memliki aset SDM (Sumber Daya Manusia) dan ada juga yang memiliki aset fisik. Aset fisik tersebut diantaranya meliputi aset fasilitas pendidikan, lahan, dan gedung,” ujar Jamil.

Selanjutnya, kelebihan ketiga yang dimiliki pesantren yakni mempunyai kredibiliatas di masyarakat. Sehingga bila pesantren bisa terlibat lebih dalam di bidang pengembangan ekonomi dan keuangan syariah, dampaknya luar bisa untuk ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia.

Rep. Aldiansyah Nurrahman