Selasa, 25 Januari 2022
22 Jumada al-akhirah 1443 H
Home / Wawancara / ‘Alat Tuhan’ Memajukan Ekonomi Syariah
-
Napak tilas perjalanan seorang tokoh selalu menjadi hal yang menarik. Banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari perjalanan hidup seseorang.

Napak tilas perjalanan seorang tokoh selalu menjadi hal yang menarik. Banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari perjalanan hidup seseorang. Tentang sebuah prinsip, keyakinan, hingga pengorbanan yang pernah dilakukan adalah proses yang harus kita cermati. Sungguh hasil yang baik tentu didapatkan dari proses yang tidaklah mudah, ia layaknya hadiah terindah bagi perjuangan setiap manusia.

Begitu pula dengan perkembangan pesat ekonomi syariah di Indonesia, khususnya di bidang perbankan syariah. Tidak banyak yang tahu bahwa ada satu sosok yang bertahun-tahun melatarbelakangi berbagai kemajuan perbankan syariah di Indonesia. Sosok ini secara konsisten membidani berbagai regulasi yang berpihak untuk kemajuan perbankan syariah selama bertahun-tahun. Sosok tersebut adalah Mulya E. Siregar. Bagaimana kita hidupnya dan kiprahnya dalam dunia ekonomi syariah di Indonesia?

Mulya E. Siregar lahir di Jakarta pada tanggal 14 Maret 1957. Lulus sebagai sarjana Sosial Ekonomi Pertanian dari Institut Pertanian Bogor tahun 1980, tentu mengarahkannya ke pekerjaan yang berkaitan dengan latar belakangnya. Memulai karirnya sebagai Asisten Manager pada Proyek PIR III Rimbo Bujang, Jambi membuatnya menguasai banyak hal terkait pertanian di lapangan. Takdir berkata lain, karirnya di bidang pertanian tidaklah mulus. Mulya Siregar keluar dari proyek tersebut dan memutuskan untuk kembali ke Jakarta.

Perjuangan di Jakarta tidaklah mudah, Mulya Siregar mengajukan lamaran pekerjaan ke berbagai bank-bank di Jakarta, termasuk Bank Indonesia (BI). “Pada waktu itu, saya hanya yakin bank mana yang memanggil saya duluan, itu yang akan saya ambil,” kenangnya. Pucuk di cinta ulam pun tiba, ternyata Bank Indonesia lah yang terlebih dahulu memanggilnya. Tepat di tahun 1983, Mulya Siregar diterima menjadi salah satu bagian dari Bank Indonesia dan menjalani sesi pelatihan selama 1 tahun.

Mulya meniti karirnya dengan mulus. 3 tahun bekerja di BI, tepat di tahun 1986 Mulya Siregar mendapatkan kesempatan melanjutkan pendidikan Master ke Amerika Serikat, tepatnya di Ohio State University jurusan Ekonomi Pertanian. Lulus program Master selama 1,5 tahun, Mulya Siregar langsung kembali ke Indonesia untuk mengabdi di BI dengan penempatan di BI Manado hingga menjabat sebagai Kepala Seksi Ekonomi dan Statistik Kantor Bank Indonesia Manado.

Perlahan tapi pasti, karir Mulya Siregar terus berkembang. Ia kembali mendapatkan kesempatan melanjutkan pendidikan Doctoral di universitas yang sama, Ohio State University di tahun 1992 hingga selesai pada tahun 1998. Perjuangannya dalam memajukan perbankan syariah membuatnya dipercaya sebagai sebagai Direktur Direktorat Perbankan Syariah (DPBS) BI pada tahun 2010, hingga akhirnya ia kemudian diangkat menjadi Asisten Gubernur BI, jabatan tertinggi yang pernah ia emban.

Kesadaran Akan Ekonomi Syariah

Ketika masa perkuliahan di Amerika, Mulya Siregar aktif di salah satu pengajian yang dibina oleh Hermawan Diboyono, Yayasan Masjid Salman, murid ustadz Imaduddin Abdurrahim. Lewat pengajian ini, Mulya Siregar bersama teman-temannya sering mengadakan berbagai kegiatan serta diskusi lewat milis, juga dengan mendatangkan pembicara. Suatu hari, kegiatan yayasan ini mendatangkan seorang pembicara bernama Ustadz Joban. Ustadz Joban bercerita bahwa ada seorang muridnya yang bekerja di bank konvensional, memutuskan untuk berhenti bekerja setelah mendengarkan materi darinya tentang bahaya riba. Begitu juga dengan Ustadz Imaduddin Abdurrahim sebagai Pembina yayasan tempat Mulya Siregar aktif, turut menyampaikan materi ceramah tentang keharaman riba.

Mendengar pemaparan dua ustadz ini, meyakinkan Mulya untuk memutuskan berhenti bekerja di Bank Indonesia, karena ia tahu bahwa di dalamnya juga terdapat riba. Mulya menyampaikan niat keluar dari BI ini kepada ustadz Imaduddin dan Ustadz Joban. Selain itu, ia juga berceriat bahwa ada tanda-tanda bahwa Bank Indonesia ingin mengembangkan perbankan syariah. Hal ini terlihat pada laporan tahunan BI tahun 1995, bahwa BI akan melakukan pengembangan terhadap bank syariah. Atas dasar inilah, alih-alih mendukung niat Mulya untuk keluar dari BI, ustadz Imaduddin dan Ustad Joban justru yakin bahwa Mulya Siregar akan menjadi sosok yang mengembangkan keuangan syariah di Indonesia. “Tentu saya kaget mendengar ini, bahkan sampai saya didoakan oleh mereka,” ungkapnya. Doa inilah yang di kemudian hari diijabah oleh Allah, dan menjadi jalan hidup seorang Mulya Siregar.

Setelah mendengarkan ceramah tentang riba ini, Mulya Siregar kembali dipertemukan dengan sosok yang membawanya ke jalan Ekonomi Syariah. Adalah Yahya, seorang muallaf berkewarganegaraan Amerika yang hadir di pengajian yang sama dengan Mulya. Mulya menyampaikan bahwa ia di Amerika mempelajari ekonomi. Reaksi tak terduga dari seorang Yahya membuat Mulya kaget. “Yahya itu kemudian bertanya kepada saya, what kind of economics? Riba economics? Saya jawab ya, kemudian tidak lama setelah itu Yahya langsung membawa saya ke perpustakaan, lalu dibawakannya buku Kursyid Ahmad tentang Konferensi Islamic Economic pertama di Jeddah. Sejak saat itulah, saya yakin bahwa ekonomi yang ada saat ini salah, dan saya harus mempelajari ekonomi syariah lebih dalam,” terangnya.

Singkat cerita, pendidikan Doctoral Mulya telah selesai dan ia harus kembali lagi ke Indonesia. Kembali bekerja di BI, Mulya ditempatkan di Departemen Penelitian Peraturan Perbankan yang dikepalai Subarjo. Disinilah doa Ustadz Imaduddin dikabulkan oleh Allah, Mulya Siregar terpilih untuk masuk kedalam tim Pengembangan Perbankan Syariah. Diketuai oleh Hatif Hadikusumo, Mulya Siregar berjuang bersama rekan-rekan lainnya seperti Ahmad Buchori, Cecep, Maskanul Hakim, juga Setyawan Budi Utomo. Tim ini kemudian bekerja siang malam untuk menciptakan berbagai regulasi terkai perbankan syariah. Hingga pada akhirnya dari hanya sebuah tim, naik jadi biro, dan pada akhirnya jadi Direktorat Perbankan Syariah.

Terpilih sebagai salah satu tim Pengembangan Perbankan Syariah di BI, membuat seorang Mulya Siregar menangis. Ia teringat doa yang diajarkan ustadz Imaduddin padanya, saat Mulya sedang dalam masa ‘galau’ ingin berhenti dari BI. “Do’a ini bunyinya, ‘ya Allah, jadikanlah aku alatmu untuk menegakkan kalimahmu selama sisa akhir hayat hidupku.’ Doa Inilah yang saya baca setiap habis shalat, sampai akhrinya saya pulang ke indo, dipanggil masuk tim Pengembangan Perbankan Syariah. Menangislah saya karena ingat doa saya ini. Hingga akhirnya saya mengerjakan semua tugas dari departemen ini, banyak regulasi keluar untuk perbankan syariah sekarang ini,” kenangnya.

Mengembangkan UMKM di Indonesia

Bagi seorang Mulya Siregar, mengembangkan UMKM adalah bagaimana membuat orang yang tadinya menerima zakat (mustahiq) beralih menjadi pembayar zakat (muzakki). Mulya menjelaskan, hal mendasar dalam mengembangkan UMKM adalah membantu kebutuhannya. Jika seorang mustahiq diberikan pembiayaan, sedangkan untuk kebutuhan makan saja tidak cukup, maka uang pembiayaan yang diberikan akan jadi uang makannya.

Maka disinialh peran perbankan, lewat dana CSR atau dana zakat yang dikumpulkan, diberikan kepada mustahiq yang mengajukan pembiayaan tersebut, sebagai bantuan untuk memenuhi basic needs nya. Dengan demikian, seorang mustahiq yang diberikan pembiayaan akan fokus menjalankan usahanya. “Artinya bank akan melakukan pembinaan terhadap mereka yang termasuk kategori mustahiq yang mengajukan pembiayaan. Jika tidak dibina dan dipenuhi kebutuhannya, mereka akan ketergantungan terhadap hutang, dan bahkan jadi kredit macet. Penelitian membuktikan bahwa mereka yang kita bina kebutuhannya, mengalami kemajuan usaha yang lebih cepat,” terang Mulya.

Tags: