Sabtu, 21 September 2019
22 Muḥarram 1441 H
Home / Keuangan / Alami Salurkan Pembiayaan Rp 20 Miliar Ke 10 UKM
Model Bisnis yang dikembangkan fintech Alami sangat relevan dengan model bisnis BPRS

Sharianews.com, Jakarta ~ PT Alami Teknologi Sharia (Alami) dalam kurun waktu enam bulan terakhir terus mengalami peningkatan penerimaan jumlah pembiayaan. Alami telah membantu 10 UKM di Indonesia, dengan total pembiayaan sebesar Rp 20 miliar.

CEO dan Founder Alami, Dima Djani menjelaskan dari jumlah Rp 20 miliar tersebut, penyalurannya dilakukan melalui lembaga yang bekerjasama dengan Alami, baik dari bank syariah dan non-bank peer to peer (P2P) syariah. Jumlah pembagiannya sama besar atau sekitar 50 banding 50, antara bank syariah dan P2P syariah.

Hal itu karena banyak juga UKM-UKM yang mencari pembiayaan misalnya anjak piutang. Anjak piutang tersebut biasanya tidak memiliki aset atau agunan, hanya invoice saja, ini yang Alami kerjasamakan juga dengan P2P syariah. “Jadi tergantung kebutuhannya apa, kita bisa menyarankan mereka untuk memilih partner yang mana, itu salah satunya,” kata Dima, di Jakarta, Rabu (21/11/2018).

Mengenai target penerima pembiayaan, ia mengungkapkan Alami saat ini sedang fokus untuk berekspansi. Jadi, untuk target akhir tahun tidak akan banyak berubah dengan hasil yang diperoleh saat ini

“Karena kita masih dalam tahapan ekspansi bisnis model, jadi kapasitas kita masih terbatas, kita masih fokus di sana,” ujar Dima.

Penerimaan pembiayaan Alami sendiri, selama ini umumnya berasal dari Industri halal dengan bidang usaha manufaktur, industri kreatif, perdagangan, jasa kesehatan, dan pendidikan.

Dalam penyediaan layanan pembiayaan syariah, Alami menjalin kerjasama dengan beberapa Bank Umum Syariah (BUS) yaitu Bank Mandiri Syariah, Bank BNI Syariah dan Bank Mega Syariah. Ke depan tidak menutup kemungkinan akan melakukan kerjasama dengan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS).

Dima mengungkapkan ia menjadi pembicara pengembangan model bisnis BPRS minggu lalu, bersama Asosiasi Bank Syariah Indonesia.

Menurutnya, BPRS sudah sadar bahwa mereka harus menerapkan up to date teknologi. Untuk itu, cara paling mudah adalah bekerjasama dengan financial technology (fintech). “Kebetulan bisnis model Alami itu sangat relevan bagi BPRS,” sambung Dima.

Menurut Dima, masalah utama BPRS saat ini adalah banyaknya Non Performing Fincaning (NPF), sekitar 10-11 persen. Hal tersebut dikarenakan industri yang dibiayai BPRS masih terkonsentrasi, belum banyak diversivikasi. Misalnya masuk pembiayaan perikanan, ketika perikanan jeblok, akhirnya jeblok semua. Bisa juga karena proses yang misalnya belum terstandar.

Fintech Alami juga menjadi solusi bagi BPRS untuk mendapatkan fasilitas rating. BPRS bisa melihat tingkat risiko calon penerima pembiyaan. Selain itu, Alami juga mempunyai metode screening (menyaring) yang sudah berstandar.

“Insya Allah, Alami nanti bisa bekerjasama dengan BPRS. Ini adalah opportunity bagi kita juga,” pungkas Dima. (*)

 

Reporter: Aldiansyah Nurrahman Editor: Achi Hartoyo