Selasa, 20 Agustus 2019
19 Thu al-Hijjah 1440 H
Home / Q&A / Akad Syariah Koperasi Karyawan
FOTO | Dok. istimewa
Koperasi syariah bisa menggunakan skema pinjaman untuk penyaluran dananya. Namun, tidak boleh mensyaratkan profit. Keuntungan yang diambil harus melalui jual beli.

Pertanyaan:

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Yang terhormat, Ustadz Ahmad Ifham Sholihin. Selamat pagi, saya ingin bertanya, di pabrik tempat saya bekerja, saya beserta anggota satu shif membuat koperasi, dan dananya digunakan untuk pinjam-meminjam, kalau dana pengembaliannya ditambahkan 5 persen dari pokok pinjamannya termasuk kategori riba apa tidak?

Mohon pencerahannya. Terima kasih.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi, wabarakatuh.

Joko, tinggal di Cikarang.

Jawab:

Sdr. Joko yang dicintai Allah, semoga kita semua selalu berlimpah barakah dari Allah agar kita bisa konsisten bertransaksi perbankan hanya di Bank Syariah saja. Amin.

Saya punya rumus, profit masuk akal hadir jika dan hanya jika melalui jual beli. Tidak bisa tidak.

Rumus ini menyebabkan hadirnya logika bahwa jika koperasi syariah ingin mengambil profit, maka harus melalui jual beli. Tidak bisa tidak.

Jual beli ditinjau dari sisi objeknya ada 3 jenis yakni barang, manfaat (manfaat barang atau manfaat perbuatan) dan harta ribawi.

Koperasi yang ingin sesuai Syariah bisa meniru logika tersebut. Misalnya, akad antara anggota dengan koperasi syariah adalah titipan atau modal. Keduanya bukan jual beli, sehingga belum boleh ada keuntungan. Keuntungan hadir jika sudah melalui Jual Beli. Bahkan untuk akad pinjaman, memang bukan akad motif profit, berlaku kaidah pinjaman.

Sedangkan pada skema penyaluran dana dari koperasi syariah kepada anggota juga sama, yakni harus menggunakan akad dagang yang keuntungannya muncul jika sudah melalui jual beli.

Koperasi menyalurkan dana bisa menggunakan akad kongsi, sehingga ada skema bagi hasil. Bisa juga menggunakan skema jual beli barang atau jual beli manfaat. Jual beli manfaat ini bisa sewa menyewa, bisa juga jual beli jasa.

Koperasi syariah bisa juga menggunakan skema pinjaman untuk penyaluran dananya. Namun, tidak boleh mensyaratkan profit. Keuntungan yang diambil harus melalui jual beli.

Contoh akad kongsi

Contoh akad kongsi, koperasi syariah sebagai pemodal, anggota sebagai pengusaha. Berlaku sistem bagi hasil. Pembagian hasilnya jika sudah ada bagi hasil.

Contoh akad jual beli, misalnya anggota koperasi butuh punya kulkas. Koperasi bisa beli kulkas dari supplier dan minta anggota mewakili beli kulkasnya. Jadi yang ke toko adalah anggotanya. Misalnya harga kulkas 2 juta. Selanjutnya kulkas tersebut dijual oleh koperasi kepada anggota, misalnya seharga 3 juta. Koperasi ambil untung 1 juta.

Contoh akad pinjaman dan jual beli manfaat perbuatan (jasa), ketika anggota butuh bayar SPP dan tidak punya dana. Koperasi syariah jual jasa pengurusan pembayaran SPP. Harga jasa misalnya 500 ribu. Selanjutnya koperasi memberi pinjaman kebutuhan bayar SPP sebesar 1 juta. Dengan demikian total hutang anggota adalah 1,5 juta berasal dari hutang pinjaman 1 juta ditambah uang jasa 500 ribu. Harus betul-betul ada effort koperasi untuk membayarkan SPP-nya.

Itulah akad koperasi syariah. Namun, jika hal itu masih sulit diterapkan, bisa pake skema uang jasa tambahan sebesar 5%. Angka ini bisa dibuat tearing, artinya tidak selalu harus 5%.

Skema tersebut tidak ideal dari sisi syariah Islam. Namun, melihat fakta di lapangan, akad syariah tidak mudah diterapkan di koperasi karyawan, sehingga pake skema jasa misalnya sebesar 5% tersebut.

Oleh sebab itu, sebagai kondisi peralihan, bisa pake skema kelebihan jasa 5%, ke depan secara bertahap seluruh anggota koperasi diajak Ngaji Muamalah. Lama-lama anggota akan menyadari pentingnya transaksi Muamalah sehingga bisa terwujud transaksi koperasi sesuai Syariah, yakni pake akad dagang sebagaimana yang saya uraikan di atas.

Jangan lupa, buka rekening Bank Syariah. Setelah gajian di rekening Bank Konvensional, segera transfer semua saldonya ke rekening Bank Syariah.

Edukasi ini membuat anggota koperasi selalu ada dalam suasana Syariah, sehingga ke depan koperasi syariah bisa segera terwujud. Wallahu a'lam.

Sharia Corner | Diasuh oleh: Ustadz Ahmad Ifham Sholihin

Tags: