Minggu, 17 Oktober 2021
11 Rabi‘ al-awwal 1443 H
Home / Keuangan / Ahli Ekonomi Islam: Asuransi Syariah Harus Lebih Inovatif dan Kompetitif
-
Tren pertumbuhan asuransi syariah terus melesat, tapi masih perlu terus digenjot lajunya.

Tren pertumbuhan asuransi syariah terus melesat, tapi masih perlu terus digenjot lajunya.

Sharianews.com. Jakarta - Kesadaran dan kebutuhan masyarakat akan pentingnya asuransi syariah kian meningkat. Hal ini, kata Ketua Ikatan Ahli Ekonomi Islam (IAEI) Agustianto, yang membuat asuransi syariah terus mengalami pertumbuhan dan kemajuan.

“Pertumbuhannya cukup menggembirakan dari tahun ke tahun. Tumbuh dengan angka yang fantastis. Pertumbuhannya mencapai 15-20 persen,” katanya kepada Sharianews.com (12/07)

Hanya saja, lanjutnya, pangsa pasar asuransi syariah belum mencapai 5 persen. Masih kalah dibanding asuransi konvensional.

“Targetnya tahun 2020 itu paling tidak 8 persen. Di 2019 ini paling tidak sudah mencapai 5 persen,” kata dosen pascasarjana ekonomi Islam Universitas Trisakti ini.

Ia memprediksi, prospek asuransi syariah kian cerah dan akan tetap tumbuh. Tapi pertumbuhannya tak beranjak dari angka 15-20 persen setahun.

Kendala dalam pertumbuhan asuransi syariah itu, tambahnya, pada tingkat literasi masyarakat yang masih rendah. Masih perlu ditingkatkan kesadaran masyarakat untuk melek asuransi syariah.

“Perlu ada suntikan dukungan dari pemerintah juga tokoh masyarakat, ormas Islam, untuk memberikan edukasi agar tingkat literasi masyarakat meningkat. Mulai dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Majelis Ulama Indonesia (MUI), bank syariah serta perguruan tinggi Islam,” imbuhnya.

Bahkan, tambahnya, bila perlu seluruh kampus-kampus Islam itu diwajibkan menggunakan asuransi syariah.  

Agustianto sendiri tak pernah berhenti untuk mengampanyekan asuransi syariah melalui berbagai kegiatan seperti seminar, tulisan, dan riset.

“Jangan pernah bosan untuk terus-menerus sosialisasikan pentingnya asuransi syariah. Ini harus terus dipacu agar literasi masyarakat melonjak dan market share-nya meningkat,” urainya.

Menurutnya, selain memperbanyak agen marketing, profesionalitas sumber daya manusia dan inovasi produk-produk asuransi syariah juga perlu ditingkatkan. Sehingga tidak monoton dan lebih kompetitif.

“Di antara inovasi itu adalah menggabungkan asuransi dengan wakaf, asuransi dengan pegadaian, dan masuk ke sektor-sektor mikro, BMT, koperasi. Ini baru sedikit yang melakukan. Hanya satu-dua saja,” imbuhnya.

Menurut data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), aset industri asuransi syariah meningkat dua digit di sepanjang 2017. Sampai akhir Desember 2017, aset asuransi syariah, jiwa maupun umum menyentuh Rp 40,52 triliun. Naik 21,89 persen dibanding periode sama tahun 2016 lalu sebesar Rp 33,24 triliun.

Pertumbuhan asuransi syariah ini juga lebih baik jika dibandingkan dengan aset industri asuransi konvensional, yaitu sebesar 5,79 persen.

Investasi juga naik 22,58 persen menjadi Rp 35,31 triliun dibanding akhir 2016 lalu yang baru menyentuh Rp 28,81 triliun.*

 

Penulis: A.Rifki