Senin, 1 Juni 2020
10 Shawwal 1441 H
Home / Wawancara / Agar Perbankan Syariah Tumbuh, Kita Perlu Mendorong Tumbuhnya Industi dan Lifestyle Syariah
-
Kalau industri dan lifestyle halal berkembang, maka yang harus memfasilitasi adalah bank syariah. Kalau industri  syariah berkembang, menurut istilah Pak Wimboh Santoso, Ketua Otoritas Jasa Keuangan (OJK), inilah nantinya penumpang-penumpang bank syariah.

Kalau industi dan lifestyle halal berkembang, maka yang harus memfasilitasi adalah bank syariah. Kalau industri  syariah berkembang, menurut istilah Pak Wimboh Santoso, Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK), inilah nantinya penumpang-penumpang bank syariah.

Sharianews.com, Jakarta. Isu tentang SDM profesional di bidang perbankan syariah terus menghangat. Menjadi kebutuhan sekaligus tantangan. Bukan hanya profesional di salah satu sisi saja. Tetapi, profesional secara syariahnya juga harus profesional dalam menjalankan bisnisnya.

Apalagi di Indonesia saat ini, persaingan antara bank konvensional dan bank syariah kian ketat. Masyarakat kita, saat ini 70 persen masih floating – mengambang posisi dan persepsinya terhadap literasi keuangan syariah.

Masih banyak yang mencari kemudahan dan kenyamanan saja saat harus bertransaksi perbankan. Mana yang paling memberi kenyamanan dan keuntungan, itulah yang dipilih.

Menurut Dhani Gunawan Idhat, Advisor OJK untuk Pengendalian Kualitas Pengawasan, inilah potret masyarakat kita saat ini, sehingga jika perbankan syariah tidak bisa memberikan pelayanan yang nyaman dan memberikan keuntungan, tentu bisa tertinggal.

Karena itu, mau tidak mau perbankan syariah juga perlu terus meningkatkan kualitas SDM agar kompetitif dalam memberikan pelayanan. Mampu menciptakan produk-produk dan jasa yang bisa memberikan keuntungan besar bagi nasabahnya.

Persoalan perbankan syariah juga masih diselimuti oleh persepsi negatif di tengah masyarakat. Sebagian masih ada yang menganggap praktik perbankan syariah tidak beda jauh dengan bank konvensional. Hanya beda istilah saja.

Itulah rangkuman pendapat yang mengemuka di Forum Diskusi IAEI bertajuk, “Bedah Praktik Murabahan Perbankan Syariah Menuju Lebih Maslahat dalam Kerangka Kepatuhan Syariah” yang diselenggarakan di Wisma BSM, pada jumat, 6 Juli 2018, lalu.   

Merespon hal ini, sharianews.com berkesempatan wewawancarai Ir. Putu Rahwidhiyasa, MBA, CIPM, Direktur Risk Management & Compliance, Bank Syariah Mandiri (BSM) di sela-sela acara.

Berikut perbincangan Sharianews.com seputar kesiapan SDM dan langkah-langkah apa yang sudah dilakukan  untuk meningkatkan pertumbuhan bisnis perbankan syariah secara umum.

Dalam diskusi tadi, disebutkan masih ada persepsi negatif tentang praktik perbankan syariah di tanah air. Beda antara kaidah dan prinsip syariah yang diidealkan dengan praktik secara profesional di lapangan. Bagaimana pendapat Anda?

 Kita di Bank Syariah Mandiri (BSM) insyaAllah konsisten melaksanakan praktik perbankan syariah sesuai dengan yang ada di dalam koridornya. Kita juga selalu berkonsultasi dengan Dewan Pengawas Syariah (DPS). Selama ini kami sudah sesuai dalam pelaksanaannya. Itu yang bisa kami sampaikan.

Artinya tidak ada kesalahan praktik  di lapangan, yah?

InsyaAllah tidak ada. Tidak ada komentar yang menyatakan kami melanggar syariah. Meskipun ada praktik yang harus kami perbaiki. Ya, pastilah kami akan terus melakukan perbaikan. Itu selalu merupakan komitmen besar kami untuk ke dapannya.

Mengenai SDM di perbankan syariah, apakah sejauh ini sudah sesuai dengan kompetensi yang diharapkan untuk mendukung pelayanan prima?   

Untuk SDM kami selalu berikhtiar. Selalu melakukan perbaikan sistem. Dimulai dari saat rekrutmen secara baik. Sistem kepegawaian yang sudah memenuhi kualifikasi tertentu. Dalam rekrutmen tenaga kerja baru, setelah calon pegawai masuk, kami memiliki berbagai jenis pendidikan office development program. Jadi dari sisi sistem pendidikan kita sudah siapkan.

Ada pendidikan untuk menyiapkan pemimpin di level manajemen dan bisnisnya, ada yang terkait dengan manajemen risiko, ada pendidikan untuk menyiapkan sistem operasionalnya, sehingga begitu mereka di tempatkan, di unit kerja atau unit bisnisnya, insyaAllah mereka sudah siap.

Hal lain sebelum mereka ditempatkan, mereka juga mengikuti sistem magang dahulu, agar memahami apa yang sebenarnya ada di lapangan.

Setelah mereka ditempatkan, ada pendidikan susulan yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing. InsyaAllah dari sisi kualitas SDM kita semakin baiklah.

Perkembangan financial technology atau fintech, apakah mendapat respon dari SDM di perbankan syariah?

Iya, kita selain menyiapkan SDM untuk operasional harian, juga menyiapkan SDM untuk melakukan pengembangan-pengembangan produk baru. Misalnya, pada saat ini orang bicara tentang financial technologi atau fintech. Kita sudah memiliki unit khusus digital banking. Kami di BSM sudah membentuk unit khusus yang menjalankan unit bisnis di bidang fintech ini.   

Bagaimana dengan hal-hal yang bersifat inovasi, apakah SDM yang memiliki kompetensi di bidang ini sudah disiapkan?

Untuk hal-hal yang bersifat inovasi kita sudah menyiapkan. Ada produk khusus yang sudah kita siapkan.

Bagaimana caranya agar perbankan syariah bisa menciptakan produk-produk yang khas syariah?

Salah satunya dengan menggelar forum diskusi seperti ini dengan melibatkan Ikatan Ahli Ekonomi Islam (IAEI), Masyarakat Ekonomi Syariah (MES), para praktisi, para pengamat ekonomi syariah, dan lainnya.

Dari sini kita bisa berdiskusi bukan saja terkait dengan peraturan-peraturan syariah yang baru menyangkut produk, tetapi juga bicara tentang peluang dan tantangan-tantangan ke depan.

Selain itu, di internal kita juga melakukan kajian-kajian yang spesifik terkait dengan ketentuan-ketenuan syariah dengan melibatkan banyak pihak. Kami juga berkonsultasi dengan tokoh-tokoh dan teman-teman yang memiliki kualifikasi keahlian syariahnya.

Kemudian setelah itu, kami juga berkonsultasi dengan Dewan Pengawas Syariah (DPS), terkait dengan ide dan usulan-usulan produk baru yang kami ciptakan.

Jika belum ada fatwanya dari Dewan Syariah Nasional (DSN – MUI), melalui DPS kita mohonkan fatwanya sesuai dengan peraturan yang berlaku. Itu semua kita ikuti.

Menurut Anda, kira-kira bagaimana prospek pertumbuhan perbankan syariah ke depan?

Ini pendapat saya secara pribadi, yah. Sangat positif. Contoh sederhana. Mungkin 20 sampai 15 tahun yang lalu, kalau kita jalan-jalan di Jakarta. Atau saat kuliah, yang namanya orang memakai kerudung, jilbab/hijab paling hanya dua atau tiga orang. Namun sekarang sudah banyak sekali.

Saat ini juga sudah mulai banyak produk-produk yang mengarah kepada industri halal. Seperti kosmetik halal, wisata halal, makanan dan minuman halal. Ada pendapat bahwa lifestyle halal sejauh ini sudah mulai berkembang.

Nah, kalau lifestyle halal berkembang, maka yang harus memfasilitasi adalah bank syariah. Kalau industri  syariah berkembang, menurut istilah Wimboh Santoso, ketua Otoritas Jasa Keuangan (OJK), maka inilah nantinya penumpang-penumpang bank syariah. Jadi ibaratnya bank syariah itu bus-bus-nya, sementara industri dan lifestyle syariah adalah penumpangnya.

Karena itu untuk memperbanyak penumpangnya, sektor-sektor bisnis syariah dan lifestyle-nya juga harus kita kembangkan.

Ada anggapan awareness masyarakat terhadap perbankan syariah masih kurang. Sebagian karena minimnya edukasi dan promosi. Sejauh ini apa yang sudah dilakukan?

Kalau ini saya setuju. Bank syariah memang harus rajin melakukan sosialisasi dan edukasi. Kami banyak melakukan kegiatan  yang sebenarnya  hampir sama dengan sosialisasi. Misalnya kami sering dapat undangan dari universitas-universitas untuk menjelaskan tren dan perkembangan perbankan syariah. Kami senang sekali. ***

Ahmad Kholil