Selasa, 17 September 2019
18 Muḥarram 1441 H
Home / Ekbis / Adiwarman Karim Jelaskan Soal Halal dan Haram Cryptocurrency
Adiwarman Karim saat pemaparan ekonomi syariah di hotel Ashley, Jakarta. Foto/dok.romy
Sampai saat ini mata uang digital tersebut masih menuai pro dan kontra.

Sharianews.com, Jakarta ~ Mata uang kripto (cryptocurrency) bukanlah hal baru bagi masyarakat Indonesia. Namun, sampai saat ini mata uang digital tersebut masih menuai pro dan kontra.

Terutama masyarakat Indonesia yang sebagian besar beragama Islam. Banyak yang masih menanyakan kedudukan Bitcoin menurut hukum Islam.

Wakil Ketua Pelaksana Harian Dewan Syariah Nasional (DSN) MUI, Adiwarman Karim menjelaskan bagaimana status cryotocurrency tersebut digunakan untuk umat.

"Gampang saja, itu (cryptocurrency) kalau sudah masuk ke DSN nanti kita pelajari dan kita tentukan halalnya seperti apa," ujarnya di sela talkshow Mendongkrak Industri Halal dan Keuangan Syariah di Jakarta, Rabu (21/8).

Lebih lanjut dikatakan Adiwarman, apabila ada orang ingin mengajukan fatwa cryptocurrency ke DSN, salah satu syaratnya juga harus ditanyakan ke Bank Indonesia terlebih dahulu.

"Karena ada Undang-undang (UU) mata uang di Indonesia, apakah cryptocurrency bisa dianggap uang atau tidak, kalau dia tidak dianggap uang maka fatwanya tentu akan mengacu bukan sebagai uang tapi sebagai sil'ah (wadah)," imbuh pendiri Karim Colsulting Indonesia ini.

Ia mencontohkan mengenai wadah uang, misalnya e-money yang juga bukan uang tetapi wadah untuk menyimpan uang.

Mengenai cryptocurrency, apabila ditanyakan soal halal dan haram, dirinya pun tidak bisa sembarangan dalam menjawab.

"Kalau dari segi halal haramnya doing, sebagai ustaz lepasan saja bisa saja sebut halal atau haram ... artinya sebagai pribadi saya bisa ambil kutip, kutip, lalu bilang halal haram," ucapnya berseloroh.

Adiwarman menambahkan sebagai anggota DSN tentu dia harus melihat ekosistem regulasinya, karena menurut UU mata uang, alat bayar Indonesia hanya satu yakni rupiah.

"Kita tunggulah bagaimana perkembangannya nanti, kalau cryptocurrency diterbitkan central bank dan dibolehkan oleh DPR sebagai UU-nya bahwa mata uang Indonesia ada rupiah dan cryptorupiah, ceritanya lain lagi, jadi kita sabar saja," tutup Adiwarman. (*)

 

Reporter: Romy Syawal Editor: Achi Hartoyo