Rabu, 19 Desember 2018
11 Rabi‘ at-akhir 1440 H
FOTO | Dok. www.moneysmart.id
Investasi halal adalah investasi yang dijalankan dengan logika dagang dan untuk transaksi bisnis yang halal.

Sharianews.com, Jakarta. Investasi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah penanaman uang atau modal dalam suatu perusahaan atau proyek untuk tujuan memperoleh keuntungan. Menurut Wikipedia, investasi merupakan istilah dengan beberapa pengertian yang berhubungan dengan keuangan dan ekonomi.

Istilah tersebut berkaitan dengan akumulasi suatu bentuk aktiva dengan suatu harapan mendapatkan keuntungan pada masa depan. Terkadang, investasi disebut juga sebagai penanaman modal.

Singkatnya, investasi adalah penanaman modal untuk usaha tertentu dalam rangka memperoleh keuntungan. Jadi, aspek yang harus ada dalam investasi adalah adanya modal atau dana, adanya usaha. Jika tidak ada kedua aspek tersebut, sejatinya tidak bisa disebut dengan investasi.

Secara umum, dari sisi hukumnya investasi dibagi menjadi 2 besaran, yakni investasi halal dan investasi haram. Investasi halal adalah investasi yang dijalankan dengan logika dagang dan untuk transaksi bisnis yang halal. Investasi haram adalah investasi yang dijalankan dengan cara non dagang dan dijalankan untuk transaksi bisnis yang haram.

Berikut ini 5 contoh transaksi investasi yang halal.

Pertama, investasi di Bank Syariah. Investasi di Bank Syariah terjadi ketika Nasabah menempatkan dana di Bank Syariah pada produk Tabungan, Giro atau Deposito Syariah. Penempatan dana ini pun bisa berupa modal atau penyertaan saham atau skema lain yang sejenisnya.

Ketika Nasabah menempatkan dana di Bank Syariah dengan kontrak Kongsi Investasi (mudharabah), maka Nasabah tidak dijanjikan hasil pasti berupa kelebihan pengembalian bayar sebesar persen x pokok, namun hitungannya sebesar persen x hasil.

Ketika dana diinvestasikan sebesar 1 juta dengan nisbah 60:40, maka hasilnya akan menunggu di akhir periode bisnis (harian atau bulanan atau berjangka) dengan pembagian hasil 60:40. Dengan demikian skema transaksi ini masuk akal. Oleh Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia, skema transaksi ini disebut dengan transaksi halal.

Ketika Anda menempatkan dana investasi di Bank Syariah, Anda tidak perlu khawatir karena uang Anda dijamin oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) yang besarannya maksimal Rp.2 miliar.

Kedua, investasi di Bursa Saham Syariah. Investasi ini memiliki beberapa varian produk, yakni saham syariah, reksadana syariah, sukuk (dulu disebut dengan obligasi syariah), sukuk ritel sampai dengan pasar uang syariah. Skema transaksi yang dipergunakan juga berbasis syariah.

Ketika Nasabah menempatkan dana di Bursa Saham Syariah dengan kontrak Kongsi Investasi (mudharabah), maka Nasabah tidak dijanjikan hasil pasti berupa kelebihan pengembalian bayar sebesar persen x pokok, namun hitungannya sebesar persen x hasil.

Ketika dana diinvestasikan sebesar 10 juta dengan nisbah 70:30, maka hasilnya akan menunggu di akhir periode bisnis (harian atau bulanan atau berjangka) dengan pembagian hasil 60:40. Dengan demikian skema transaksi ini masuk akal. Oleh Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia, skema transaksi ini disebut dengan transaksi halal.

Skema dagang lainnya akan diatur dan ditata kelola sesuai dengan jenis dagangnya, misalnya menggunakan kontrak jual beli barang atau sewa menyewa. Imbal hasilnya juga akan ditentukan sesuai dengan karakteristik kontrak. Jika kontraknya jual beli, maka akan ada harga jual. Jika kontraknya sewa menyewa, maka akan ada marjin atau biaya sewa.

Ketiga, investasi kepemilikan emas syariah. Contoh konkret produk ini adalah Produk MULIA yang dikeluarkan oleh Pegadaian Syariah. MULIA adalah layanan penjualan emas batangan kepada masyarakat secara tunai atau angsuran dengan proses mudah dan jangka waktu yang fleksibel. MULIA dapat menjadi alternatif pilihan investasi yang aman untuk mewujudkan kebutuhan masa depan, seperti menunaikan ibadah haji, mempersiapkan biaya pendidikan anak, memiliki rumah idaman serta kendaraan pribadi.

Keunggulan produk ini yakni proses mudah dengan layanan professional, alternatif investasi yang aman untuk menjaga portofolio aset, sebagai aset, emas batangan sangat likuid untuk memenuhi kebutuhan dana mendesak, tersedia pilihan emas batangan dengan berat mulai dari 5 gram s.d. 1 kilogram, emas batangan dapat dimiliki dengan cara pembelian tunai, angsuran, koletif (kelompok), ataupun arisan, uang muka mulai dari 10 persen s.d. 90 persen dari nilai logam mulia, jangka waktu angsuran mulai dari 3 bulan s.d. 36 bulan.

Persyaratannya mudah, yakni untuk pembelian secara tunai, nasabah cukup datang ke Outlet Pegadaian (Galeri 24) dengan membayar nilai Logam Mulia yang akan dibeli. Untuk pembelian secara angsuran, nasabah dapat menentukan pola pembayaran angsuran sesuai dengan keinginan.

Produk lain yang bisa jadi sarana investasi kepemilikan emas adalah Tabungan Emas. Tabungan Emas adalah layanan pembelian dan penjualan emas dengan fasilitas titipan dengan harga yang terjangkau. Layanan ini memberikan kemudahan kepada masyarakat untuk berinvestasi emas.

Keunggulan Tabungan Emas adalah tersedia diseluruh Indonesia (sementara hanya tersedia di Pegadaian Syariah Kantor Cabang Piloting), pembelian emas dengan harga terjangkau (mulai dari berat 0,01 gram), layanan petugas yang profesional, alternatif investasi yang aman untuk menjaga portofolio aset, mudah dan cepat dicairkan untuk memenuhi kebutuhan dana nasabah.

Satu lagi produk kepemilikan emas adalah kepemilikan emas perhiasan. Langkah ini dilakukan dalam rangka kepemilikan emas sekaligus berhias. Langkah ini bisa kamu lakukan terutama untuk kepentingan jangka panjang.

Keempat, Investasi di Asuransi Syariah. Salah satu produk Asuransi berbasis Syariah adalah Unitlink Syariah. Ada 2 kontrak yang terjadi atas premi peserta yakni hibah dan kongsi investasi (mudharabah). Skema ini merupakan skema transaksi halal. Aliran dana hibah dan investasi tersebut terpisah yang keduanya menjadi hak peserta pemilik akun kepesertaan Asuransi Syariah.

Salah satu hal penting yang harus Anda perhatikan adalah besaran Biaya Akuisisi. Biaya ini merupakan biaya yang diberikan kepada agen dan/atau perusahaan asuransi syariah dan/atau skema multilevel marketing (jika ada).

Uang yang dikeluarkan untuk biaya akuisisi ini bukan merupakan premi yang menjadi hak nasabah, besarannya bisa mencapai 80 persen yang artinya, ketika Anda setor dana bulanan sebesar 1 juta, maka 800 ribu-nya menjadi uang hilang untuk skema keagenan. Ketika Anda sudah mencermati hal ini, maka sah-sah saja jika Anda ikhlas.

Kelima, Investasi Bisnis Zat Halal. Investasi jenis ini paling mudah diketahui yakni ketika investasi diberikan untuk bisnis zat halal seperti bisnis sembako, bisnis jasa, bisnis travel, bisnis rumah, dan lain-lain. Skema ini berlaku juga untuk jenis perusahaan yang hanya menjalankan bisnis atau transaksi halal.

Demikian 5 contoh pilihan investasi halal menurut Islam. Mari kita gunakan transaksi bisnis yang halal, insya Allah barakah. Amin. (*)

Oleh: Ustadz Ahmad Ifham Sholihin