Selasa, 21 Mei 2019
17 Ramadan 1440 H
Home / Inspirasi / 5 Fakta Menarik tentang Soekarno, Islam, dan Kemerdekaan Indonesia
-
Banyak fakta menarik seputar proses Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang tak banyak diketahui masyarakat Indonesia. Berikut lima di antaranya.  

Banyak fakta menarik seputar proses Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang tak banyak diketahui masyarakat Indonesia. Berikut lima di antaranya.

Sharianews.com. Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus 1945, merupakan peristiwa bersejarah. Naskah Proklamasi yang dibacakan Soekarno dengan didampingi Mohammad Hatta menandai kemerdekaan Indonesia dari belenggu penjajahan bangsa lain. 

Selama ratusan tahun negeri ini dijajah. Dengan darah, air mata, dan perjuangan tanpa lelah pada pejuang Indonesia berhasil merebut kedaulatan dan kemerdekaan negeri ini.  

Telah 73 tahun Indonesia merdeka. Ini bukanlah tempo yang singkat. Banyak fakta menarik seputar proses Proklamasi Kemerdekaan Indonesia tahun 1945.

Berikut lima fakta menarik tentang Kemerdekaan Indonesia yang jarang diketahui banyak orang. Khususnya terkait hubungan Soekarno, Islam, dan Kemerdekaan Indonesia.

  1. Filosofi Angka 17

Saat golongan muda mendesak Soekarno dan Hatta untuk segera memproklamasikan kemerdekaan dalam peristiwa Rengasdengklok, Soekarno lebih memilih tanggal 17 Agustus 1945. Hal itu konon, setelah beliau meminta saran dari para ulama, di antaranya K.H Abdoel Moekti dari Muhammadiyah dan K.H Hasyim Asy’ari dari Nahdatul Ulama. 

Tanggal 17 ini, menurut Soekarno, sama dengan tanggal turunnya Al-Quran. Angka ini juga jumlah rakaat dalam shalat (Subuh, Zuhur, Asyar, Maghrib, Isya).   

  1. Hari Jumat

Proklamasi Indonesia dideklarasikan pada hari Jumat (Legi), 17 Agustus 1945. Menurut Soekarno, Jumat adalah hari baik, bahagia, dan suci. Sama dengan saat Proklamasi, perayaan Kemerdekaan Indonesia ke-73 kali ini juga jatuh pada hari Jumat.

  1. Bulan Ramadhan

Dalam buku Samudera Merah Putih jilid satu karya Lasmidjah Hardi disebutkan bahwa 17 Agustus 1945 bertepatan dengan 9 Ramadhan 1364 H. Naskah Proklamasi disusun saat jelang sahur di rumah Laksamana Maeda. 

Naskah Proklamasi ini tak hanya disusun Soekarno dan Hatta. Keduanya dibantu Achmad Soebardjo, Sajuti Melik, dan Soekarni. Bung Hatta meminta mereka hadir saat penyusunannya. Bung Hatta juga meminta mereka ikut menandatangani Teks Proklamasi itu. Tapi, usulannya ditolak Soekarni. Akhirnya, hanya Soekarno dan Hatta yang menandatangani Teks Proklamasi itu. 

  1. Soekarno Sakit 

Pada pukul 08.00, dua jam sebelum pembacaan Teks Proklamasi, Soekarno mengeluhkan sakit. Suhu badannya sangat tinggi. Ternyata malaria beliau kambuh. Dokter pribadinya, dr. Soeharto, selain menyuntik juga memberinya obat.

Dengan sangat terpaksa, setelah sebelumnya sahur, Soekarno membatalkan puasa atas anjuran dokter pribadinya itu agar bisa minum obat. Setelah itu, Soekarno beristirahat dan tidur kembali. Beliau bangun pada pukul 09.00 WIB, satu jam sebelum upacara Proklamasi.

Walau dalam kondisi sakit, suaranya tetap prima saat berpidato dan membacakan Teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dari serambi rumahnya di Jalan Pegangsaan Timur No. 56, Jakarta Pusat. Suaranya disiarkan ke seluruh rakyat Indonesia melalui radio. Usai membacakan Proklamasi, Soekarno kembali ke kamar untuk beristirahat.

  1. Palestina yang Pertama

Palestina negara pertama yang secara berani dan tegas mengakui kemerdekaan Indonesia. Tak ada negara lain yang berani melakukannya saat itu. Mufti Palestina, Syekh Muhammad Amin Al-Husaini hadir sebagai yang pertama. Bahkan sebelum Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, September 1944, beliau telah memberikan dukungan dan pengakuan atas Kemerdekaan Indonesia.

Beliau juga mengajak dan mendesak negara-negara Timur Tengah lainnya untuk mengikuti jejaknya. Beliau pun berhasil dalam meyakinkan Mesir, Suriah, Irak Libanon, Yaman, Arab Saudi, dan Afghanistan untuk juga ikut mengakui kedaulatan dan kemerdekaan Indonesia. (*) 

Achmad Rifki