Rabu, 20 Januari 2021
07 Jumada al-akhirah 1442 H
Home / Ekbis / 47 Jenis Usaha Pesantren Al-Ashriyyah Nurul Iman Jaga Halal Value Chain
Foto dok. Pexels
47 jenis usaha yang terbagi dalam tiga bidang usaha.

Sharianews.com, Jakarta - Pondok Pesantren Al-Ashriyyah Nurul Iman (Nurul Iman) dikenal sebagai pesantren yang menerapkan rantai nilai halal atau halal value chain. Atas pencapaiannya itu, Bank Indonesia (BI) memilihnya menjadi mentor dan pilot project untuk pondok pesantren halal value chain se-Indonesia.

Pimpinan Nurul Iman Umi Waheeda menjelaskan Nurul Iman memang memperhatikan dari hulu ke hilir usaha yang dijalankan pesantrennya agar apa yang dijalankan menjadi berkah. Tercatat, Pesantren yang terletak di Bogor ini memiliki 47 jenis usaha yang terbagi dalam tiga bidang usaha.

Pertama bidang produksi meliputi usaha, beras Nurul Iman, biogas, carbon active, daur ulang sampah, Es Krim Nurul Iman, Filter Air (Drinkable Tap Water System), Handphone Nurul Iman, Konveksi Nurul Iman, Lampu Nurul Iman, Mie Nurul Iman, Mocaf (modification cassava flour), Nurul Iman Blackdiamonds, Nurul Iman Enzyme, Nurul Iman Green Coffe Beans.

Kemudian, Nurul Iman Pupuk Organik, Nurul Iman Offset, Ointika (Air Hexagonal), pakan ikan, pabrik keripik korea, pabrik penyulingan minyak jelantah menjadi solar, pabrik paving block, pabrik penggilingan jagung, penggilingan padi, pyrolisis, Robani (Roti Barkat Nurul Iman), Sabun Nurul Iman, Sandal Nurul Iman, Susu Kedelai Nurul Iman, Tahu, Tempe Nurul Iman, Tata Boga Nurul Iman, tata busana, dan toserba

Kedua, bidang jasa, antara lain Al Ashriyyah Nurul Iman Salon dan Spa, animasi, haji dan umroh, jasa pengiriman barang, jasa sarana dan Prasarana , jasa teknisi, NIC Barbershop, Office Central, Public Entertainment, Studio Nurul Iman, Warnet Nurul Iman. Selanjutnya, yang ketiga adalah bidang agraris, yakni bioflok, perikanan, pertanian, peternakan

Umi mengungkapkan, salah satu hal yang diperhatikan Nurul Iman dalam menjalankan halal value chain adalah pemasok atau produsen. 47 usaha yang dijalankan Nurul Iman pemasoknya haruslah muslim.

Nurul Iman belajar dari kasus yang terjadi di Malaysia, dimana pemasuk nonmuslim tidak memperhatikan adanya najis.

Nonmuslim ini memproduksi ikan asin. Ketika ikan asin itu dijemur di halaman rumahnya, ternyata orang ini punya tiga ekor anjing. Ketiga anjing ini kerap kali datang ke tempat penjemuran ikan asin dan anjing-anjing ini menggaruk tubuh mereka ke ikan asin.

“Dari situ saya tahu, kalau mau beli yang seperti itu, ini yang bikin siapa, ini yang bikin orang Islam. Kalau kita tidak bisa dapat dari produsen yang muslim kita produksi sendiri,” ujar Umi.

Selain itu, Umi menyampaikan, Nurul Iman menciptakan halal value chain dengan cara-cara yang halal. Darisitulah datangnya sidik amanah tabligh fatanah.

Nurul Iman menggratiskan semua biaya pendidikan dan hidup santrinya. Total ada lebih dari 15 ribu santri yang ada di Nurul Iman. Biaya hidup dan belajar santri selama ini ditopang dari usaha halal value chain yang dimiliki Nurul Iman.

“Dari situ alhamdulillah, insyaallah sampai kiamat kami tetap dengan pendidikan gratis yang berkualitas yang didukung oleh kewirausahaan sosial, dengan itu kami bisa menciptakan halal value chain dari hulu ke hilir,” jelas Umi.

Nurul Iman mendidik santrinya untuk menguasai ilmu dunia dan akhirat. Mereka harus menjadi orang alim, penghafal al-Quran, hadis, kitab, fasih berbahasa Arab, Inggris dan Mandarin.

Para santri juga harus menjadi orang berada seperti saidah Khadijah, Usman bin Affan, Saidani Abdurrahman bin Auf. Karena, menurut Umi, Islam tidak bisa dibantu dengan hanya orang-orang yang meminta terus menunggu zakat, infak, sedekah dan wakaf (ziswaf). Tapi harus di atas memberikan ziswaf.

“Kita butuh banyak Usman bin Affan, wakafnya yang sekarang memperkaya orang-orang muslim di daerah Mekah dan Madinah. Jadi Saidina Usman bin Affan bukan hanya tanah, dia punya kebun kurma, itu yang kami lakukan, kami punya wakaf kebun kopi,” kata Umi.

Nurul Iman membangun santri yang fatanah, amanah, shiddiq untuk tabligh, untuk itu mereka harus kuat, mereka harus sehat, caranya dengan mengonsumsi makanan yang halal thoyiban dan barakah. Dari situ, Nurul Iman memproduksi beras halal yang diproduksi sendiri.

“Terciptanya halal value chain karena makanan halal dan itu sangat penting. Apalagi santri menghafal Al-Quran. Kalau kita mau menghafal Al-Quran, kalau kita mau menghafal kitab, mau menghafal hadis, mau fokus ke pendidikan agama Islam, kita harus mengonsumsi makanan halal karena makan halal itu akan menjadi daging kita,” papar Umi.

Rep. Aldiansyah Nurrahman