Senin, 20 Mei 2019
16 Ramadan 1440 H
Home / Ekbis / 4  Cara Keuangan Syariah Bereskan Resesi Iran
FOTO | Dok. mediajakarta.com
Penguasa di negeri para Mullah wajib menguatkan sektor industri keuangan syariah dengan merancang bank umum syariah atau pun bank syariah yang resmi dimiliki oleh Negara tersebut.

Sharianews.com, Jakarta. Kendati keuangan syariah sudah hadir di Iran sejak lahirnya ‘Revolusi Iran’pada tahun 1979. Tetapi, dari dahulu hingga saat ini, ekonomi Islam tampaknya juga belum memperlihatkan tanda-tanda bisa menjadi solusi alternatif dalam menghadapi krisis ekonomi di wilayah tersebut, terlebih saat sekarang ini.

Mewski begitu, pakar ekonomi Islam, sekaligus Wakil Ketua Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) DKI Jakarta, Safri Haliding menjelaskan, masih ada beragam cara untuk mendorong keuangan syariah agar mampu menopang Iran yang kini tengah dilanda resesi keuangan global.

“Pertama, pemerintah Iran mau tidak mau harus mengikuti apa yang telah dilakukan otoritas di Malaysia. Yakni, sesegera mungkin berani membuat paket kebijakan ekonomi yang fokus menyasar pada keuangan syariah baik berbentuk undang-undang maupun intruksi,”urai Safri saat dihubungi sharianews.com (14/9/2018).

Upaya kedua, penguasa di negeri para Mullah wajib menguatkan sektor industri keuangan syariah dengan merancang bank umum syariah atau pun bank syariah yang resmi dimiliki oleh negara, seperti halnya bank Al Rajhi milik Arab Saudi.

Sementara saat ini, menurut Safri,  pemerintah Iran masih terlalu menitik beratkan pengembangan pada bidang industri pertahanannya, seperti penyediaan alat utama sistem persenjataan (alutsista) dan semacamnya.

Pentingnya kesadaran literasi

Kemudian, usaha ketiga ialah meningkatkan literasi atau pemahaman terhadap masyarakat di negaranya melalui kerjasama berkelanjutan dengan berbagai institusi untuk mensosialisasikan mengenai apa dan bagaimana keuangan syariah itu harus diaplikasikan.

“Misalnya, pemerintah Iran menjalin mitra dengan institusi pendidikan di wilayahnya untuk membangun universitas khusus memperdalam studi dan pengembangan ekonomi syariah. Strategi ini diharapkan bisa melahirkan para ahli ekonomi syariah untuk kemudian bisa membantu pemerintahnya dalam membuat aturan kebijakan dan sosialisasinya,”tambahnya.

Menurut Safri Haliding, yang juga CEO Zakapay ini, peningkatan literasi terhadap masyarakata melalui lembaga pendidikan juga pernah diupayakan oleh pemerintah Malaysia dengan mendirikan beberapa universitas bertaraf internasional, di antaranya International Islamic University Malaysia (IIUM), yang khusus untuk mengelaborasi keuangan syariah dan lain sebagainya.

Kembangkan pariwisata syariah

Cara berikutnya atau keempat ialah mengembangkan potensi dan distinasi wisata di Iran. Mengingat gelombang jumlah wisatawan Muslim yang terus mengalami pertumbuhan setiap tahunnya, maka jalan lain yang harus dipertimbangkan dan perlu dimanfaatkan oleh para pemangku kebijakan di Iran adalah menjadikan keindahan alam dan keragaman kebudayaan lokalnya sebagai destinasi tujuan pariwisata halal.

Sebab efek domino dari cara terakhir ini, otoritas yang bertanggung jawab di Iran juga dapat mengembangkan lebih jauh ke sektor riil lainnya. Antara lain, sisi bisnis jasa perjalanan atau travel, makanan dan minuman, penginapan, serta industri gaya hidup halal lainnya.

“Dengan demikian, usaha-usaha berani mengenai pengembangan ekonomi syariah tadi  bisa menjadikan Iran tidak lagi bergantung ke wilayah bisnis pertahanan dan ekspor atau pemasokan minyak bumi, sebagaiman hal ini telah dikembangkan di Uni Emirat Arab dan Bahrain,”ujar pria yang juga Direktur Triaseconomica Institute ini.

Menurutnya, apa yang dilakukan  oleh Iran untuk menghadapi depresiasi di negaranya, sampai saat ini Iran masih cenderung membuat kebijakan ekonomi yang bersifat instan, seperti menghentikan kebutuhan komoditas pokok dari Amerika Serikat. Padahal, menurut Safri, solusi ekonomi seperti yang digunakan Iran saat ini tidak akan memiliki dampak panjang.

“Solusi seperti ini hanya akan bersifat temporal atau tidak akan memberikan efek kondisi ekonomi di Iran dalam rentang waktu yang lama. Sebaliknya, Iran seharusnya bisa mengeksplorasi sumber ekonomi lainnya,”tambahnya.

Tak pengaruhi keuangan syariah Indonesia

Meski gejolak ekonomi di Iran sempat dikhawatirkan akan mempengaruhi situasi pasar di beberapa negara lainnya, tetapi hingga saat ini hal itu dinilai tidak akan sampai mempengaruhi kondisi industri keuangan di Indonesia, khususnya sektor keuangan syariah.

“Hal ini karena tidak ada perbankan syariah di Indonesia yang mayoritas sahamnya dimiliki oleh bankir dari Iran. Justru, kebanyakan pemegang saham industri keuangan syariah di negara kita berasal dari negara-negara teluk,”tutur Safri. (*)

Reporter: Emha S. Asror. Editor: Ahmad Kholil