Minggu, 26 Mei 2019
22 Ramadan 1440 H
Home / Lifestyle / 3 Ilmuan Barat yang Masuk Islam Setelah Melakukan Penelitian
Maurice Bucaylle (Dok/Foto Jerami)
Seorang ilmuan Barat asal Perancis yang menjadi fenomenal lantaran mengucap dua kalimat syahadat setelah menemukan kebenaran Al-Qur’an di tengah penelitiannya.

Sharianews.com, Kemuliaan dan kebesaran Al-Qur’an banyak menguak fenomena alam dan diketemukan faktanya setelah ribuan tahun. 

Menurut sebagian orang, hal tersebut di luar nalar logika. Tetapi, itulah Al-Qur’an sebaik-baiknya kitab yang diturunkan langsung oleh pencipta alam semesta yang Maha mengetahui. Sehingga wajar, apabila isi kitab suci ini terdapat kisah peristiwa masa lalu dan apa yang akan terjadi di masa mendatang.

Mengakui kebesaran kitab suci Al-Qur’an, tidak sedikit para ilmuan yang menjadi beriman setelah menemukan korelasi antara hasil penelitiannya dengan yang tertulis dalam Qur’an. Berikut tiga nama diantaranya.

Maurice Bucaylle

Merupakan seorang ilmuan Barat asal Perancis yang menjadi fenomenal lantaran mengucap dua kalimat syahadat setelah menemukan kebenaran Al-Qur’an di tengah penelitiannya.

Sebagai pemimpin ahli bedah dan penanggung jawab utama atas penelitiannya tentang mumi Fir’aun, Prof. Dr Maurice beserta tim menemukan sisa-sisa garam yang melekat pada mumi Fir’aun. Hal tersebut menandakan bahwa penyebab kematian Fir’aun adalah tenggelam di laut.

Sebagaimana yang tertulis dalam Qur’an bertahun lalu, jauh sebelum adanya penelitian sains, surah Al-Baqarah ayat 50 yang artinya, “Dan (ingatlah), ketika Kami belah laut untukmu, lalu Kami selamatkan kamu dan Kami tenggelamkan (Fir'aun) dan pengikut-pengikutnya sedang kamu sendiri menyaksikan.”

Begitupula dalam Al-A’raf ayat 136 yang artinya, “Kemudian Kami menghukum mereka, maka Kami tenggelamkan mereka di laut disebabkan mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka adalah orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami itu.”

Selain itu, penelitian medis yang dilakukan dengan mengambil sampel organ dari jasad mumi yang ditemukan tahun 1975 tersebut, melalui bantuan Prof Michfl Durigon dan pemeriksaan detail dengan mikroskop, ditemukan bagian terkecil dalam organ itu masih dalam kondisi terpelihara secara sempurna.

Konon, dijelaskan pada teori sebelumnya bahwa jasad mumi ketika baru dikeluarkan dari laut segera diberi balsem agar awet. Tetapi ilmuan yang lahir 19 Juli 1920 ini merasa ganjal dengan logika tersebut. Pikirnya, jasad mumi yang sudah tenggelam lama bertahun-tahun lalu di dalam laut ini tidak mungkin memiliki kondisi sangat baik. Bahkan lebih baik dibanding mumi lainnya.

Akhirnya ia mengkaji riwayat Fir’aun dari berbagai kitab, serta menemui sejumlah ilmuwan autopsi Muslim dan diberitahu mengenai salah satu ayat Alquran. Ia menemukan bahwa apa yang diteliti sudah memiliki jawabannya dalam Qur’an.

“Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami,” Al-Qur’an surah Yunus ayat 92.

Kemudian tidak lama berselang setelah ia menemukan fakta dalam Qur’an dan merilis laporannya yang berjudul “Les momies des Pharaons et la midecine” (Mumi Firaun; Sebuah Penelitian Medis Modern), akhirnya ia memutuskan masuk islam.

Jacques Yves Costeau

Ilmuan asal Perancis yang ahli dalam oceanographer dan ahli selam terkemuka, Jacques Yves Cousteau, mengaku memeluk agama islam setelah melakukan eksplor bawah laut dan menemukan beberapa kumpulan mata air tawar yang tidak bercampur dengan air laut.

Menurutnya, air tersebut seakan memiliki dinding atau membran untuk membatasi keduanya. Hingga pada akhirnya, ia bertemu dengan profesor Muslim dan menceritakan fenomena itu. Profesor itu memberitahu ayat Alquran yang berbicara tentang bertemunya dua lautan yaitu pada surat Ar Rahman Ayat 19 dan 20.

Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu. Antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui masing-masing,” (QS  Ar Rahman Ayat 19-20)

Mendengar ayat-ayat Alquran itu, Costeau kagum dan kemudian memeluk Islam hingga wafatnya pada 25 Juni 1997 di Paris.

Fidelma O’Leary

Fidelma, seorang ahli neurologi asal Amerika Serikat yang mendapatkan hidayah lalu memeluk islam paska meneliti saraf otak manusia.

Dalam penelitiannya, ia menemukan bahwa beberapa urat saraf di otak manusia tidak dapat dimasuki darah. Sedangkan di saat yang sama Fidelma meyakini bahwa setiap inci otak manusia memerlukan suplai darah cukup agar berfungsi secara normal.

Namun, Ia menemukan bahwa darah tidak akan memasuki urat saraf di dalam otak, kecuali dengan melakukan gerakan sujud seperti dalam gerakan salat yang dilakukan umat Muslim.

Hal tersebut menunjukkan, apabila seseorang tidak melakukan salat, maka otak tidak dapat menerima darah yang cukup untuk bisa berfungsi secara normal.

Editor: Fathia Editor: Munir Abdillah