Sabtu, 20 April 2019
15 Sha‘ban 1440 H
-
Bagaimana memancarkan energi cinta orangtua kepada anak-anak? Berikut tiga cara mendidik anak dengan cinta.

Bagaimana memancarkan energi cinta orangtua kepada anak-anak? Berikut tiga cara mendidik anak dengan cinta.

Sharianews.com. Jakarta - Anak adalah buah hati dan cinta. Sebagai titipan dan amanah dari Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, tiap orangtua hendaknya merawat dan mengasuh anak dengan cinta.  

Pola asuh akan mempengaruhi karakter anak di kemudian hari. Seperti dalam syair Dorothy Law Nolte di bawah ini.

“Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki. Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi. Jika anak dibesarkan dengan hinaan/rasa iba, ia belajar menyesali diri. Jika anak dibesarkan dengan cemooh, ia belajar rendah diri. Jika anak dibesarkan dengan iri hati, ia belajar dengki. Jika anak dibesarkan dengan dorongan, maka ia belajar percaya diri. Jika anak dibesarkan dengan toleransi, maka ia belajar menahan diri. Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai. Jika anak dibesarkan dengan kejujuran, keterbukaan, dan sebaik-baiknya perlakuan, ia belajar keadilan. Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, ia beajar menaruh kepercayaan. Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam hidup. Jika anak dibesarkan dengan penerimaan, ia belajar mencintai.”

Psikolog dan konselor pernikahan, Rani Anggraeni Dewi mengatakan, mendidik atau mengasuh anak berarti juga mendidik diri kita sendiri. Sebagai orangtua, kita mesti menjalani lebih dulu dan menjadi teladan dari nilai-nilai yang ingin kita transfer ke anak.

“Mengasuh anak sebenarnya adalah mengasuh diri sendiri. Karena itu kita mesti selalu melakukan inner self-improvement. Hendaknya orangtua tidak berhenti belajar dan memperbaiki diri,” paparnya kepada Sharianews.com.  

Menurut penulis buku “Menjadi Manusia Holistik” ini, untuk mendidik anak dengan cinta sekurangnya ada tiga hal yang mesti diperhatikan.

Pertama, orangtua harus menyadari dan merasakan lebih dulu cinta yang ada dalam dirinya. Cinta, tambahnya, pada dasarnya tidak dapat dilihat, tapi dapat dirasakan energinya.

“Jika orang lain, termasuk anak-anak, bisa menangkap dan merasakan energi cinta, maka berarti cinta itu hidup di dalam diri si orangtua,” ujarnya.

Ketika cinta hidup dalam diri orangtua, jelasnya, maka anak-anak pun akan merasa nyaman dan bahagia bersamanya. Ketika cinta hidup dalam diri seseorang, maka cinta menjadi pendorong dan motivasi untuk setiap langkah dan tindakannya.

“Mendidik anak itu harus karena cinta dan untuk cinta. Mendidik atau mengasuh anak itu bukan kewajiban atau tuntutan tugas orangtua, tapi karena kita ingin hidupkan cinta yang sudah ada dalam diri sebagai anugerah alami dari Sang Maha Cinta,” ulasnya.

Sebaliknya, lanjut Rani, jika cinta tidak dihidupkan, maka suatu saat keberadaan kita sebagai orangtua menjadi sia-sia.

“Cinta itu tidak terasa lagi oleh orang lain, termasuk anak-anak, bahkan oleh diri kita sendiri,” urainya.

Kedua, kata Rani, dalam pola asuh anak, kita mesti mengubah paradigma bahwa anak adalah mahluk kecil tak berdaya. Sebaliknya, dari anaklah kita belajar menjadi manusia dan orangtua yang lebih bijak.

“Anak mengajarkan kita banyak hal. Justru kita orangtua banyak belajar dari mereka seperti kejujuran,” imbuhnya.

Karena itu, lanjutnya, tiap orangtua perlu menjalin hubungan yang harmonis dengan anak melalui komunikasi welas asih.

Ketiga, mengasuh anak adalah jalan terbaik untuk mengisi bagian dari kita yang belum sempurna. Dengan berupaya sebaik mungkin menjadi insan kamil.

“Yang terpenting hendaknya tiap orangtua tidak berhenti belajar, membuka diri terhadap ilmu-ilmu baru, memperluas wawasan, dan terus memperbaiki diri,” pungkasnya. (*)

 

Reporter: Linda Sarifatun. Editor: A.Rifki.