Senin, 23 September 2019
24 Muḥarram 1441 H
Home / Lifestyle / 2019, Indonesia Perlu Merevisi Strategi Pariwisata Halal
FOTO I Dok. Dispar Banten
"Pada waktu tahun 2015, pengunjung muslim meningkat 40 persen menjadi 1,4 juta, tetapi sayang banyak bencana alam, terutama di Lombok, akhirnya membuat wisatawan muslim turun sekitar 100.000 per bulan," kata Sofyan

Sharianews.com, Jakarta ~ Ketua tim percepatan pengembangan pariwisata halal, Riyanto Sofyan mengatakan Indonesia perlu merevisi strategi untuk meningkatkan pariwisata halal pasca di tahun 2018 lalu, sektor pariwisata halal sempat menurun.

"Sejauh ini kita telah bergantung kepada banyak pada data roadmap yang dibuat berdasarkan penelitian sekunder dan menggunakan juga menggunakan proyeksi, jika kita dapat melihat data yang diambil langsung dari konsumen dan riset utama, pemain industri ini akan yakin tentang seberapa besar potensi pasar halal travel tersebut," kata Sofyan, seperti dilansir Salaam Gateaway belum lama ini.

Sektor-sektor yang turun di pariwisata halal pada 2018 termasuk kontribusi valuta asing untuk PDB, jumlah hotel bersertifikat halal, dan juga dari sektor tenaga kerja.

Sektor tersebut turun sekitar 4-5 persen dari target 25 persen kontribusi pariwisata total valuta asing terhadap angka PDB, dengan total sekitar 5 milyar dolar AS di tahun lalu.

"Industri tenaga kerja yang berdedikasi hanya sekitar 536,693, jauh di bawah tujuan awal yaitu sebanyak 805,039, yang akan mewakili 20.14 persen dari total buruh pariwisata," tambah Sofyan.

Selain itu, lebih dari 800.000 masjid lintas negara sangat membutuhkan fasilitas wudu tetapi banyak yang belum tersedia.

Reformulasi Strategi

Otoritas Pariwisata Halal Indonesia harus pindah pemasaran dari destinasi konvensional ke destinasi halal travel.

"Kita harus fokus pada pasar muslim seperti negara Malaysia, Pakistan, dan kami akan kembali membuat peta target pasar, tim juga terus belajar mengenai fokus digital untuk sektor ramah muslim, kami tidak mendesain pemasaran digital dan platform untuk pariwisata halal, yang sama sekali berbeda untuk pariwisata konvensional," kata Sofyan.

Dia mengakui, ketika tim halal pariwisata mulai bekerja pada Maret 2016, dan menjadikan Lombok populer sebagai tulang punggung pariwisata ramah Muslim Indonesia, tetapi sayangnya terkena bencana alam.

"Pada waktu tahun 2015, pengunjung muslim meningkat 40 persen menjadi 1,4 juta, tetapi sayang banyak bencana alam, terutama di Lombok, akhirnya membuat wisatawan muslim turun sekitar 100.000 per bulan," kata Sofyan. (*)

Reporter: Romy Syawal Editor: Achi Hartoyo