Jumat, 22 Januari 2021
09 Jumada al-akhirah 1442 H
Home / Global / 2018, Ekspor Halal Malaysia Diperkirakan Naik 10 Persen
FOTO I Dok. Halhalal.com
Perdagangan antara Malaysia dan GCC pada paruh pertama tahun 2018 meningkat sebesar 0,7 persen dibandingkan dengan paruh pertama tahun 2017.

Sharianews.com, Jakarta. Ekspor produk halal Malaysia diperkirakan akan meningkat sebesar 10 persen pada tahun 2018. Situasi ini didukung oleh meningkatnya produk halal lokal. Demikian menurut Direktur Divisi Halal Jabatan Kemajuan Islam Malaysia (Jakim), Datuk Dr Sirajuddin Suhaimee.

Sebagai informasi, pada 2017 lalu, ekspor halal Malaysia mencapai RM 45 miliar. Jumlahnya mengalami peningkatan sekitar 3 persen dari angka yang tercatat pada tahun 2016.

“Akhir-akhir ini, permintaan untuk produk halal tidak hanya dari negara-negara Muslim, tetapi juga negara non Muslim, terutama dari China, Taiwan, Hongkong dan Jepang," kata Sirajuddin setelah menyaksikan penandatanganan perjanjian kerja sama antara Taiwan Halal Integrity Development Association (Thida) dan Serunai Commerce seperti dikutip dari The Sun Daily.

Lebih lanjut, kolaborasi dua perusahaan itu bertujuan untuk memberikan pelatihan, pengembangan, sertifikasi dan perdagangan barang-barang halal untuk mendorong permintaan dan pengembangannya di Taiwan.

Serunai Commerce juga menandatangani nota kesepahaman dengan Northport Bhd yang berkantor di Malaysia untuk menciptakan sistem logistik terpusat dan terpadu dengan tujuan menjadi sentral dunia untuk perdagangan halal.

“Serunai Commerce adalah perusahaan pengembang data halal global, yang membantu usaha kecil dan menengah memperdagangkan produk mereka ke firma-firma di negara lain. Serunai juga mengembangkan aplikasi ‘Verifikasi Halal’ dengan Jakim untuk memungkinkan konsumen memeriksa status halal suatu produk,” sambung Sirajuddin.

Sementara itu, Sirajuddin juga mencatat bahwa ada permintaan berkelanjutan untuk sertifikasi halal kepada Jakim dari negara-negara Eropa Utara, yang ingin memasarkan komoditas halalnya, terutama ke Timur Tengah.

Diakui di 42 Negara

Hingga saat ini, terang Sirajuddin, sertifikasi halal Jakim telah diakui di 42 negara. Termasuk dari negara yang paling baru, Lithuania dan Kazakhstan. Sedangkan dalam dua tahun terakhir ini, Jakim telah mengambil berbagai inisiatif untuk menyederhanakan aplikasi sertifikasi tersebut.

“Saat ini, aplikasi sertifikasi halal oleh perusahaan asing memakan waktu sekitar tiga bulan untuk disetujui, dan sekitar 30 hari untuk perusahaan lokal,” ujar Sirajuddin.

Di tempat yang sama, Menteri Perdagangan dan Industri Internasional Malaysia Darell Leiking menjelaskan bahwa industri halal tumbuh sekitar 20 persen per tahun secara global. Malaysia dan negara-negara Arab termasuk yang paling besar.

Kerjasama FTA dan GCC Tertunda

Pada tahun 2011 telah disepakati perjanjian perdagangan bebas (free trade agreement/FTA) antara Malaysia dan negara anggota Dewan Kerjasama Teluk (Gulf Cooperation Council/GCC) yang dimaksudkan untuk memfasilitasi perluasan hubungan perdagangan antara Malaysia dengan negara anggota seperti Uni Emirat Arab, Qatar, Oman, Arab Saudi, Bahrain dan Kuwait yang saat ini masih tertunda.

Darell menjelaskan, adanya penundaan kesepakatan perdagangan halal tersebut terkendala beberapa tantangan, termasuk situasi politik di kawasan Arab. Pihaknya akan mengajukan masalah ini kepada Perdana Menteri Tun Mahathir Mohamad dan memutuskan apakah akan ditindaklanjuti atau tidak.

“Perdagangan antara Malaysia dan GCC pada paruh pertama tahun 2018 meningkat sebesar 0,7 persen dibandingkan dengan paruh pertama tahun 2017. Jumlah bisnis dan investasi Arab di Malaysia juga telah meningkat lebih dari 260 persen, yakni dari USD 115 juta pada tahun 2014 menjadi USD 426 juta di tahun 2017,” pungkas Darell. (*)

 

Reporter: Emha S Ashor Editor: Achi Hartoyo

Tags: