Sabtu, 19 Januari 2019
13 Jumada al-ula 1440 H
FOTO I Dok. Geotimes.com
Di antara prinsip tersebut adalah aqidah yang bersih (good faith), ibadah yang benar (right devotion), akhlak yang kokoh (strong character), fisik yang kuat (physical power), kemudian cerdas ( thinking briantly).

Sharianews.com, Jumah generasi milenial di Indonesia menurut data Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), saat ini mencapai angka 90 juta jiwa. Hal tersebut menjadi perhatian lebih, dalam mengarahkan milenial untuk menjadi generasi produktif yang memiliki prinsip sesuai syariah.

Ustaz Tedyansyah, seorang praktisi NLP, hipnoterapi sekaligus life coach ini memaparkan dalam kajian rutin bertajuk Hijrah Series, Kamis (3/1) yang digerakkan oleh Remaja Islam Masjid Daarul Mukhtar (RIMDAM), bahwa ada sepuluh prinsip yang idealnya harus dimiliki milenial zaman sekarang.

Di antara prinsip tersebut adalah aqidah yang bersih (good faith), ibadah yang benar (right devotion), akhlak yang kokoh (strong character), fisik yang kuat (physical power), kemudian cerdas ( thinking briantly).

"Selanjutnya juga harus bisa melawan hawa nafsu (contience), rapi dalam urusan mengatur waktu, memiliki perencanaan yang baik, independen dan mampu memberikan kontribusi. Itu yang namanya milenial sesungguhnya," papar Ustaz Teddy

Pertama Aqidah yang bersih  (good faith atau salimul aqidah), merupakan sesuatu yang harus dimiliki setiap muslim. Aqidah yang bersih, menjadikan seorang muslim memiliki ikatan yang kuat kepada Allah SWT. Akidah ini juga bisa diartikan dengan keimanan yang mantap tanpa disertai keraguan di dalam hati seseorang (At Tauhid lis Shaffil Awwal Al ‘Aali hal. 9, Mujmal Ushul hal. 5)

Sebagaimana dijelaskan juga dalam Al-Qur'an surah Al-Kahfi ayat 110, yang artinya:

“Maka barang siapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Tuhannya hendaklah dia beramal shalih dan tidak mempersekutukan sesuatu apapun denganNya dalam beribadah kepadaNya”. Atau dalam artian akidah yang benar merupakan landasan tegaknya agama dan kunci diterimanya suatu amalan.

Kedua, Ibadah yang benar (Right devotion/shahihul ibadah). Dalam sebuah hadis Rasulullah SAW bersabda "Sholatlah kamu sebagaimana kamu melihat aku sholat". Hal tersebut menunjukan setiap peribadatan muslim haruslah merujuk kepada Rasulullah SAW. Ketiga adalah akhlak yang kokoh (strong character/matinul khuluq) merupakan sikap dan perilaku yang harus dimiliki setiap muslim, khususnya pemuda , baik dalam hubungannya kepada Allah maupun dengan makhluk-makhlukNya.

Prinsip selanjutnya, yang harus dimiliki muslim adalah fisik yang kuat (physical power/qowiyyul jismi). Kekuatan jasmani berarti seorang muslim memiliki daya tahan tubuh sehingga dapat melaksanakan ajaran islam secara optimal dengan fisikal nya yang kuat. Ada pula prinsip selanjutnya yaitu cerdas atau intelek dalam berfikir (thinking briantly/mutsaqqoful fikri). Dikatakan penting, sebab hal ini merupakan salah satu sifat Rasul (fathonah), dimana seorang muslim yang cerdas akan mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat.

Kemudian melawan hawa nafsu (contience /mujahadatun linafsihi). Setiap manusia memiliki kecenderungan pada yang baik dan buruk. Maka dengan berjuang melawan hawa nafsu yang notabennya tidak mudah untuk dilakukan,  menjadi salah satu upaya untuk mengendalikan kecenderungan pada suatu yang baik saja.

Selain itu, lanjut Ustaz Teddy, adalah pandai menjaga waktu (good time management/harishun 'ala waqtihi). Berkaitan dengan waktu  merupakan suatu hal yang mendapat perhatian besar dari Allah dan RasulNya. Pasalnya, ketika seseorang mampu mengatur waktunya, akan lebih mudah dalam menjalankan kewajiban-kewajibannya serta meminalrsir aktivitas yang tidak memiliki manfaat.

Delapan, menjadi seorang pemuda yang memiliki perencanaan yang baik (well-organized /munazhzhamun fi syu'unihi). Hal ini sangat ditekankan oleh Al-Qur'an maupun sunnah, sebab dalam hukum islam sendiri dikatakan baik yang terkait dengan masalah ubudiyah maupun muamalah harus diselesaikan dan dilaksanakan dengan baik.

Selain itu, milenial sejati ialah yang mandiri (independen/qodirun 'alal kasbi). Dan terakhir adalah memberikan kontribusi atau kebermanfaatan (giving contribution/naafi'un lighoirihi). Di mana hal ini merupakan sebuah tuntutan kepada setiap muslim. Manfaat yang dimaksud tentunya bernilai baik, dan menjadi solusi bagi setiap permasalahan di lingkungannya, sehingga dimanapun berada orang lain akan merasakan keberadaan dan manfaatnya. (*)

Reporter: Fathia Editor: Achi Hartoyo