Selasa, 22 Oktober 2019
23 Ṣafar 1441 H
Home / Kamus
A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z
Istilah Deskripsi
Bai’ al Dayn Adalah suatu akad jual beli dengan objek jual belinya adalah piutang/ tagihan (Dayn). Beberapa permasalahan mendasar terkait dengan akad ini adalah apakah boleh menjual “piutang” yang dikenal sebagai produk anjak piutang (factoring) di bawah nilai nominal (at par) piutangnya atau secara diskonto (at discount). Dalam prinsip ini pembiayaan dibuat berdasarkan jual beli dokumen perdagangan dan pembiayaan digunakan bagi tujuan pengeluaran, perdagangan, dan pengkhidmatan. Keputusan Dewan Pengawas Syariah (DPS) pada awal beroperasinya bank syariah berdasarkan keadaan darurat dengan bank syariah masih sebagai pemain tunggal, bank syariah diizinkan memanfaatkan excess atau idle fund dengan menggunakan perangkat al dayn (ad dayn). Ketentuan Al Dayn adalah sebagai berikut: (1) Nasabah yang telah menerima fasilitas jual beli dari bank syariah akan mengeluarkan surat utang (promissory note), sementara bank syariah sendiri tidak dapat menerbitkan surat utang, maka promissory note di-endos akan menjadi underlying transaction untuk menerima dari bank konvensional. (2) Adapun kompensasi atas penempatan dana (placing) dan penerimaan dana (taking) masih mengacu pada hitungan yang ditetapkan oleh pihak counterpart (bank konvensional) dengan bank syariah (pada waktu itu) harus mengoptimalkan kebelihan dananya dan masuk sebagai pendatang baru dengan sistem yang belum dikenal oleh bank konvensional.
Baitul Mal Lembaga negara yang mengelola penerimaan dan pengeluaran Negara yang bersumber dari zakat, kharaj, jizyah, fa’i, ghanimah, kaffarat, wakaf dan lain-lain dab ditasyarufkan untuk kepentingan umat; 2. Rumah harta; Pada zaman Nabi Muhammad saw. berfungsi sebagai perbendaharaan negara. Lembaga Negara yang mengelola penerimaan dan pengeluaran negara yang bersumber dari zakat, kharaj, jizyah, fa’i, ghanimah, kafarat, wakaf dan lain-lain dan di-tasyaruf-kan untuk kepentingan umat. 3. Baitul mal berasal dari kata bayt dalam bahasa Arab yang berarti rumah, dan al-mal yang berarti harta. Artinya, secara etimologis (lughawi), baitul mal berarti khazinatul mal tempat untuk mengumpulkan atau menyimpan harta (kamus Al Munjid, hlm. 55). Adapun secara terminologis (ishtilahi), sebagaimana uraian Abdul Qadim Zallum (1983) dalam kitabnya, Al-Amwal fi Dawlah al-Khilafah, Baitul mal adalah suatu lembaga atau pihak yang mempunyai tugas khusus menangani segala harta umat, baik berupa pendapatan maupun pengeluaran negara. Jadi, setiap harta berupa tanah, bangunan, barang tambang, uang, komoditas perdagangan, dan harta benda lainnya—di mana kaum muslimin berhak memilikinya sesuai hukum syara’ dan tidak ditentukan individu pemiliknya, walaupun telah tertentu pihak yang berhak menerimanya—menjadi hak Baitul mal, yakni sudah dianggap sebagai pemasukan bagi Baitul mal. Secara hukum, harta benda itu adalah hak Baitul mal, baik yang sudah benar-benar masuk ke dalam tempat penyimpanan Baitul mal maupun yang belum. Demikian pula setiap harta yang wajib dikeluarkan untuk orang-orang yang berhak menerimanya, atau untuk merealisasikan kepentingan kaum muslimin, atau untuk biaya penyebarluasan dakwah. Semua itu adalah harta yang dicatat sebagai pengeluaran Baitul mal, baik telah dikeluarkan secara nyata ataupun belum. Dengan demikian, Baitul mal dengan makna seperti ini adalah sebuah lembaga atau pihak (al-jihat) yang menangani harta negara, baik pendapatan maupun pengeluaran. Baitul mal juga dapat diartikan secara fisik sebagai tempat (al-makan) untuk menyimpan dan mengelola segala macam harta yang menjadi pendapatan negara.