Minggu, 17 Februari 2019
12 Jumada al-akhirah 1440 H

Zakat dan Spirit of Sharing

Kamis, 24 Januari 2019 16:01
FOTO I Dok. pribadi
Islam hadir bukan hanya mengakomodir obsesi individual, tetapi menginginkan kebahagian komunal antar elemen masyarakat. Bukan sekedar memikirkan masa depan dirinya, tetapi memperjuangkan keharmonisan dan masa depan masyarakatnya

Sharianews.com, Pada suatu hari sepeninggal Rasulullah SAW, tersebut sebuah kisah dari generasi terbaik. Sahabat mulia Abu Hurairah sedang melaksanakan iktikaf di masjid Nabawi di madinah. Dalam suasana keheningan penuh khusyuk, ia mendengar suara rintihan dari salah seorang di masjid yang sedang mengadukan persoalan hidupnya kepada Allah.

Di puncak kelezatan munajat, ia tertarik untuk mengetahui persoalan yang menyebabkan kesedihan saudaranya tersebut. Lantas Abu Hurairah pun menghampirinya dan menanyakan ada apa gerangan hingga ia tampak bersedih. Setelah mengetahui masalah yang menghimpit orang itu, Abu Hurairah pun berkata.“Maukah kau pulang bersamaku, mungkin di rumah saya mendapati sesuatu yang dapat meringankan beban hidupmu,” ajak Abu Hurairah.

Mendengar tawaran dari Abu Hurairah, orang tersebut menjawab: “Apakah kau akan meninggalkan kelezatan iktikaf di Masjid Nawabi hanya karena ingin menolongku?” Abu Hurairah menjawab:  “Ya. Sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda:“Sungguh berjalannya seseorang di antara kamu untuk memenuhi kebutuhan saudaranya, lebih baik baginya daripada iktikaf di masjidku ini selama sebulan”. (HR. Thabrani & Ibnu Asakir).

Sebuah keteladanan terbaik dari generasi terbaik. Di mana orang yang memiliki kecukupan harta mempunyai rasa kepedulian yang tinggi, sedangkan pihak yang papa memiliki harga diri dan tidak tamak terhadap segala bantuan yang ditawarkan.

Begitulah Islam menanamkan kepada pemeluknya untuk memiliki semangat berbagi dan kepedulian sosial yang tinggi. Apabila dilihat secara seksama, dapat dijumpai bukti yang sangat kuat bahwa Islam memiliki ajaran mulia terkait dengan kontribusi dan kepedulian sosial.

Seorang Muslim dididik untuk menjadi orang yang memiliki semangat memberi manfaat kepada sesama, memiliki karakter Nafi’un li ghairihi. Spirit ini tentu sesuai dengan ajaran Rasulullah SAW yang menyatakan bahwa kemuliaan seseorang ditentukan oleh kiprah dan nilai kemanfaatan bagi sesama.

Kebaikan seseorang, salah satu indikatornya adalah kemanfaatannya bagi orang lain, keterpanggilan nuraninya untuk berkontribusi menyelesaikan problem orang lain. Bahkan manusia terbaik adalah orang yang paling bermanfaat bagi orang lain.

خير الناس أنفعهم للناس.

Artinya: Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain (HR. Ahmad, Thabrani, Daruqutni. Dishahihkan Al Albani dalam As-Silsilah As-Shahihah).

Hal ini mengindikasikan bahwa Islam hadir bukan hanya mengakomodir obsesi individual, tetapi menginginkan kebahagian komunal antar elemen masyarakat. Bukan sekedar memikirkan masa depan dirinya, tetapi memperjuangkan keharmonisan dan masa depan masyarakatnya. Demikianlah Islam.

Dalam konteks kepedulian sosial, dapat dijumpai beberapa bukti bahwa Islam sangat mengedepankan nilai kedermawanan, antara lain: Pertama, Ahli Surga Adalah Orang Peduli Sesama

Ungkapan ini berangkat dari sebuah fakta bahwa penduduk surga adalah mereka yang jauh dari sifat kikir dan egois. Sebaliknya mereka adalah orang-orang yang humanis, peduli dan dermawan. Disebutkan dalam Alquran bahwa salah satu ciri orang yang akan dimasukkan ke dalam surga adalah golongan yang selalu berupaya memberi bantuan kepada orang lapar (It’am al-Ta’am).

وَيُطۡعِمُونَٱلطَّعَامَ عَلَىٰ حُبِّهِۦ مِسۡكِينٗا وَيَتِيمٗا وَأَسِيرًا ٨

Artinya:Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan. (QS. al-Insan/76: 8)

Ciri ahli surga sebagaimana yang disebutkan dalam ayat di atas adalah komitmen untuk melakukan pemberantasan rasa lapar (No Hungry). Hal ini dibuktikan dengan semangat mereka untuk memberi makan kepada orang miskin, anak yatim dan golongan yang terbelenggu; baik secara ekonomi ataupun sosial.

Jika surga adalah obsesi tertinggi orang beriman, maka komitmen orang beriman untuk melakukan advokasi dan pemberdayaan terhadap orang miskin.

Kedua: Abai terhadap Orang MiskinAdalah Penyebab Masuk Neraka

Selain menjanjikan surga bagi dermawan, Allah SWT juga mengancam kepada orang yang tidak memiliki kepedulian terhadap sesama dengan api neraka. Neraka adalah tempat bagi mereka yang egois, individualis dan anti sosial.

 مَا سَلَكَكُمۡ فِي سَقَرَ ٤٢ قَالُواْ لَمۡ نَكُ مِنَ ٱلۡمُصَلِّينَ ٤٣  وَلَمۡ نَكُ نُطۡعِمُ ٱلۡمِسۡكِينَ٤٤

Artinya: "Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?. Mereka menjawab: "Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat. dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin. (QS. Al-Muddatsir/74: 42-44).

Ayat di atas menegaskan, selain persoalan salat, abai terhadap problem orang miskin juga dapat menjadi penyebab masuk ke dalam api neraka. Ayat ini sekali lagi menjadi bukti bahwa Islam memiliki komitmen yang tinggi untuk menyelesaikan problem kemiskinan melalui semangat berkontribusi.

Ketiga: Pendusta Agama

Dalam konteksnya yang lebih luas, pendusta agama bukan hanya mereka yang anti Tuhan (atheis), bukan hanya yang melakukan interpretasi ayat suci tanpa pijakan ilmu, atau mendustai perkara prinsip dalam beragama, tetapi orang yang mencampakkan anak yatim dan tidak memiliki komitmen membantu fakir miskin tergolong pendusta agama. Allah berfirman:

أَرَءَيۡتَٱلَّذِي يُكَذِّبُ بِٱلدِّينِ ١  فَذَٰلِكَ ٱلَّذِي يَدُعُّ ٱلۡيَتِيمَ ٢  وَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ ٱلۡمِسۡكِينِ ٣

Artinya:Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama. Itulah orang yang menghardik anak yatim. Dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat. (QS. al-Ma’un/71: 1-4)      

Ayat-ayat di atas merupakan legitimasi yang amat kuat tentang komitmen Islam terhadap golongan lemah sekaligus penegasan Islam akan kepeduliannya terhadapan problem sosial kemasyarakat. Selain argumentasi Alquran, sejarah Nabi Muhammad SAW adalah bukti nyata bawah Islam selalu hadir dalam menyelesaikan permasalahan masyarakat yang ditandai dengan semangat berbagi dan kepedulian.

Sebagai sebuah bangunan yang kokoh, Islam berdiri di atas pondasi rukun Islam yang lima. Dari kelima rukun tersebut, rukun zakat merupakan dimensi sosial yang memiliki peran dalam membangun keharmonisan dan kebahagiaan kemasyarakat, melengkapi dimensi keyakinan, sufisme dan ritual yang lain.

Jika hal ini dianggap sebagai sebuah isyarat, maka rukun zakat adalah sebuah legitimasi kuat bahwa Islam memiliki ajaran yang komprehensif, termasuk dalam dimensi ekonomi sosial yang terkandung dalam syariat zakat. (*)

(Peneliti Senior Puskas BAZNAS)

 

Oleh: Muhammad Choirin
#zakat