Jumat, 14 Desember 2018
06 Rabi‘ at-akhir 1440 H
FOTO | Dok. sharianews.com
Konsolidasi gerakan zakat dunia melalui wadah World Zakat Forum (WZF) di bawah kepemimpinan Indonesia sangat penting di tengah upaya untuk mengoptimalkan potensi zakat dunia yang tidak kurang dari 600 miliar dolar AS setiap tahunnya.

Oleh: Irfan Syauqi Beik | Sekretaris Eksekutif World Zakat Forum dan Staf Pengajar Departemen Ilmu Ekonomi Syariah FEM IPB

 

Perkembangan zakat secara internasional menunjukkan indikasi yang sangat positif. Meski di beberapa kawasan negara-negara Islam tengah berada dalam suasana konflik dan peperangan, namun di wilayah-wilayah lain termasuk negara-negara muslim minoritas seperti Inggris dan Afrika Selatan, pengelolaan zakat yang ada menunjukkan perkembangan yang sangat menggembirakan. Hal ini dapat dilihat dari peningkatan jumlah dana zakat yang berhasil dihimpun, dan jumlah penyaluran beserta penerima manfaat zakat yang terus naik dari waktu ke waktu.

Salah satu upaya yang saat ini tengah dilakukan adalah memperkuat konsolidasi gerakan zakat dunia melalui wadah World Zakat Forum (WZF) di bawah kepemimpinan Indonesia. Sejak didirikan pada bulan September 2010 di Yogyakarta, WZF saat ini telah memiliki 23 negara anggota yang tersebar di berbagai benua yang ada di dunia, yaitu Asia, Eropa, Amerika, Afrika dan Australia.

Lima negara baru, akan bergabung dalam konferensi internasional dan pertemuan tahunan WZF 2018 yang direncanakan akan dilaksanakan pada pekan depan, tanggal 5-6 Desember di Melaka, sehingga secara keseluruhan jumlah anggota WZF akan bertambah menjadi 28 negara.

Secara institusi, 28 negara anggota ini terdiri atas otoritas zakat, lembaga zakat pemerintah, lembaga zakat swasta (masyarakat), dan para akademisi zakat serta pegiat zakat lainnya.

Ini adalah konferensi ketujuh yang dilaksanakan oleh WZF setelah sebelumnya dilaksanakan di Yogyakarta (2010), Bogor (2011), New York (2014), Banda Aceh (2015), Kuala Lumpur (2015), dan Jakarta (2017). Adapun tahun 2016, WZF sempat mengadakan pertemuan tahunan di Surabaya, bersamaan dengan kegiatan ISEF (Indonesia Shariah Economic Festival) yang diselenggarakan oleh Bank Indonesia.

Konsolidasi WZF melalui konferensi dan pertemuan tahunan ini menjadi sangat penting di tengah upaya untuk mengoptimalkan potensi zakat dunia yang tidak kurang dari 600 miliar dolar AS setiap tahunnya.

Ada lima hal mendasar

Paling tidak, ada lima hal mendasar yang menjadikan konferensi internasional dan pertemuan tahunan WZF ini menjadi sangat penting. Pertama, pertemuan ini menjadi ajang penyamaan persepsi atas sejumlah isu strategis perzakatan dunia, seperti peran zakat dalam pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs), peningkatan transparansi dan akuntabilitas pengelolaan zakat, hingga penguatan kerjasama antar negara anggota WZF.

Kedua, pertemuan ini menjadi ajang pertukaran informasi dan pengalaman antar negara anggota WZF yang diharapkan dapat mengakselerasi pengelolaan zakat di masing-masing negara anggota WZF. Sejumlah negara yang baru akan bergabung seperti Ghana, Senegal dan Sierra Leone menyatakan bahwa tujuan mereka bergabung adalah untuk mempelajari pengalaman negara lain untuk diterapkan di negara masing-masing. Best practice dari sejumlah negara yang dianggap telah maju pengelolaan zakatnya merupakan sumber informasi dan pelajaran yang sangat berharga.

Ketiga, konferensi internasional dan pertemuan tahunan WZF ini menjadi ajang penguatan komitmen untuk menerapkan sejumlah kesepakatan sebelumnya, antara lain penerapan ZCP (Zakat Core Principles) beserta dokumen teknis turunannya. ZCP yang telah diluncurkan pada tanggal 23-24 Mei 2016 di Istanbul, diharapkan dapat diimplementasikan dengan baik sesuai dengan karakteristik pengelolaan zakat yang ada di masing-masing negara.

Peluncuran buku manajemen risiko pengelolaan zakat hasil kerjasama Departemen Ekonomi Keuangan Syariah Bank Indonesia dan Pusat Kajian Strategis Baznas diharapkan dapat memberikan inspirasi dan panduan bagi negara-negara anggota WZF dalam meningkatkan kualitas pengelolaan zakat yang dilakukannya.

Keempat, kegiatan ini merupakan media untuk mencari solusi atas persoalan umat kontemporer, seperti persoalan kemiskinan, kesenjangan, bencana alam, maupun bencana sosial kemanusiaan yang menimpa sebagian negara anggota WZF maupun umat Islam di berbagai wilayah lain. Selain itu, perlu dirumuskan model kerjasama antar negara anggota WZF dalam merespon persoalan-persoalan tersebut.

Sebagai contoh, Februari 2018 lalu, Indonesia memberikan bantuan kemanusiaan kepada para pengungsi Rohingya di Bangladesh melalui anggota WZF yaitu Center for Zakat Management (CZM) Bangladesh. Model kerjasama program antara Baznas dan CZM diharapkan bisa menggerakkan pola kerjasama sejenis antar anggota WZF.

Kelima, pertemuan tahunan WZF juga menjadi forum kerjasama dengan lembaga multilateral lain, seperti badan-badan PBB maupun IDB (Islamic Development Bank). Secara khusus, UNICEF telah mengajukan rancangan MoU sebagai payung kerjasama antara UNICEF dan WZF, dimana zakat diharapkan dapat mengentaskan problem kemiskinan anak di seluruh dunia.

Bahkan organisasi D8 yang terdiri atas delapan negara Islam dengan ukuran perekonomian terbesar di antara negara-negara Islam lainnya, juga mengirimkan Sekjennya secara khusus untukmenghadiri kegiatan ini.

Sinergi antar lembaga dunia ini sangat diperlukan dan WZF memainkan peranan yang sangat penting. Ini semua terjadi karena peran Indonesia yang sangat luar biasa dalam menggerakkan potensi perzakatan dunia Islam.

Tentu saja, kondisi memberikan tantangan kepada kita untuk terus menerus meningkatkan kualitas pengelolaan zakat dalam negeri agar peran zakat bisa semakin optimal dan Indonesia bisa menjadi contoh yang baik bagi pengelolaan zakat dunia. Wallaahu a’lam.

Oleh: Irfan Syauqi Beik