Jumat, 14 Desember 2018
06 Rabi‘ at-akhir 1440 H
FOTO | Dok. Nastiti Tri Winasis
Geliat produk halal Korea dari berbagai industri, tidak lepas dari eksistensi masyarakat muslim Korea Selatan yang secara aktif ikut berkontribusi terhadap promosi wisata halal Korea Selatan.

Sharianews.com, Korea Selatan. Meskipun identik dengan banyak image akibat gencarnya Pemerintah Korea Selatan mempromosikan keterbukaan negaranya kepada pihak luar, namun tidak serta merta Korea Selatan disebut sebagai destinasi wisata halal (tidak seperti  Jepang yang lebih dahulu memperkenalkan wisata halalnya).

Namun jangan salah sangka dulu. Makin maraknya informasi mengenai wisata halal Korea Selatan yang khususnya dibahas secara informal di media sosial, baik melalui blog-blog khusus, Instagram, pembicaraan di Twitter, Facebook, dan lain-lain termasuk review dari para netizen millenial (terutama review mengenai makanan yang friendly bagi wisatawan hingga fasilitas di destinasi wisata yang luar biasa dimanage dengan baik) telah sedikit mengubah positioning Korea Selatan sebagai alternatif destinasi wisata halal. Potensi ini ditangkap oleh para pengelola biro perjalanan wisata untuk dimasukkan sebagai salah satu destinasi unggulan wisata halal.

Dalam kurun waktu tiga tahun terakhir, semakin banyak “pemasar wisata” yang mencoba nemawarkan keindahan Korea Selatan di berbagai media, di mana hal ini disambut antusias oleh masyarakat muslim, khususnya dari Indonesia.

Di Korea Selatan sudah terdapat ratusan pemandu wisata yang digembleng secara terus-menerus baik oleh Biro Perjalanan Wisata milik Pemerintah maupun Swasta untuk belajar bahasa lokal wisatawan, sehingga memudahkan komunikasi saat mereka mengantar wisatawan mancanegara keliling destinasi wisata.  

Sebagian dari mereka umumnya pernah bersekolah atau berkuliah di negara lain (yang otomatis membuat mereka mengenal Bahasa dari negara tersebut), dan kembali ke Korea Selatan untuk bekerja paruh waktu sebagai pemandu wisata sesuai dengan Bahasa yang mereka kuasai.

Bahkan, Pemerintah Korea Selatan juga menyediakan kendaraan umum khusus bagi para pelancong yang cukup nyaman dengan sopir yang fasih berbahasa Inggris (kendala penguasaan Bahasa Inggris juga sempat menjadi barrier bagi Korea Selatan untuk memajukan industri pariwisatanya).

Destinasi wisata yang wajib dikunjungi muslim millenial

Beberapa destinasi wisata Korea Selatan yang cukup kondang dan wajib dikunjungi muslim millenial, misalnya Pulau Nami dengan setting musim gugur (tempat pengambilan gambar pada film Winter Sonata), Itaewon-Seoul Grand Mosque, Pulau Jeju dan Gyeongbok Palace. Belum lagi di dalam kota Seoul yang bertebaran tempat-tempat menarik dan Instagramable bagi kalangan millenial. Semua menjanjikan pengalaman unik!

Benar, wisata halal Korea terlihat mulai menggeliat. Tak heran jika dalam beberapa tahun terakhir ini, jumlah wisatawan muslim yang melancong ke Negeri Ginseng baik sendirian sebagai solo traveler maupun rombongan atau group semakin meningkat. Mulai dari sekadar untuk menikmati menu-menu masakan halal yang cukup menantang (sebagai informasi, Korea Selatan terkenal dengan makanan super pedas dan menjadi tantangan tersendiri bagi para millenial untuk “menaklukkannya”), hingga mencoba berbagai destinasi wisata lainnya termasuk berbelanja kosmetik di outlet yang banyak tersedia di berbagai gerai sepanjang jalan utama Kota Seoul.

Sebagian besar masyarakat Indonesia millenial mungkin banyak yang kagum dengan budaya populer Korea (khususnya Korea Selatan) yang makin marak merambah kehidupan kita. Keberhasilan Korea Selatan mempromosikan produk-produk dan gaya hidupnya hingga ke Indonesia tidak lepas dari hubungan baik Korea Selatan  dan Indonesia yang semakin mesra saat ini.

Mulai dari K-Pop yang membius anak-anak muda Indonesia, Drama Korea yang kemudian banyak ditayangkan di stasiun swasta nasional kita, hingga produk-produk kosmetik yang benar-benar berusaha memahami anxieties dan desires kaum hawa Indonesia khususnya kalangan millenials.

Pariwisata Halal Korea Selatan yang semakin Catchy

Berbicara mengenai geliat produk halal Korea dari berbagai industri, tidak lepas dari eksistensi masyarakat muslim Korea Selatan yang secara aktif ikut berkontribusi terhadap promosi wisata halal Korea Selatan.

Saat ini sudah ada sekitar 200.000 jiwa penduduk muslim di Korea Selatan. Mereka ini terbagi menjadi beberapa segmen yang saling terintegrasi, yaitu: pertama, penduduk muslim asli Korea, yang rata-rata berpendidikan tinggi dan pernah mengenyam pendidikan tinggi di luar negeri (terutama di negara-negara Islam). Mereka ini adalah mualaf terpelajar yang sebelumnya kebanyakan memeluk agama Budha.

Kedua, imigran muslim yang berasal dari Timur Tengah, yang tadinya belajar di Korea Selatan kemudian membuka bisnis di sini, ketiga, imigran dari Afrika, misalnya Mesir dan Sudan yang rata-rata menjadi buruh kasar, keempat, pernikahan campuran antara pendatang muslim dengan penduduk asli Korea Selatan yang beragama Budha.

Korea Selatan juga menjadi destinasi unggulan bagi para pelajar asing yang beragama Islam. Sejak tahun 2008 Pemerintah Korea Selatan aktif menarik minat studi mahasiswa asing melalui pemberian beasiswa kepada tak kurang dari 3.000 siswa beragama Islam untuk menempuh studi di Korea Selatan.

Menariknya, setelah menyelesaikan gelar mereka, banyak mahasiswa muslim yang mendapatkan pekerjaan (ditawari bekerja oleh berbagai perusahaan dan instansi di Korea Selatan). Mereka ini pun  menjalin hubungan yang positif dengan penduduk lokal, sehingga lambat laun banyak warga asli Korea Selatan yang mengenal Islam dari kalangan ini.

Apalagi saat ini banyak sekali mahasiswa Asia Tenggara termasuk Indonesia lulusan Korea Selatan kemudian ditarik menjadi pekerja white collar, khususnya bagi perusahaan-perusahaan Korea Selatan yang memiliki cabang di Asia Tenggara termasuk Indonesia.

Sebagai contoh di beberapa perusahaan kosmetik dan fast moving consumer goods yang banyak memiliki agenda kerjasama dengan semacam Kementerian Pariwisata di sana. Mereka ini dilibatkan untuk memandu wisatawan sesuai negara masing-masing saat mengunjungi perusahaan tersebut, untuk semakin memperlancar komunikasi dan membuka peluang agar produk-produk Korea semakin dikenal wisatawan manca negara.

Yang cukup menarik adalah usaha mereka yang cermat membidik pasar wisatawan muslim yang peduli halal, untuk ditawari berbagai macam produk khas Korea yang sudah bersertifikasi halal MUI ala Korea (INI Halal).

Era kolaborasi

Di era kolaborasi ini, Korea Selatan telah berhasil mengoptimalisasikan fungsi wisatawan,  tidak hanya dijadikan sebagai subjek tetapi menjadi partner pengembangan industri wisata. Mendapatkan insight dari wisatawan, serta bersikap aktif untuk mendengarkan apa yang mereka butuhkan.

Upaya untuk menciptakan keterlibatan dan menyentuh kepuasan mendalam dari wisatawan, merupakan kunci bersaing, sekaligus menciptakan loyalitas wisatawan zaman now untuk setiap saat kembali ke Negeri Ginseng ini demi mengupdate situasi terkini. Tentu saja mereka akan membawa rombongan berbeda, sehingga semakin lama Korea Selatan semakin mendunia dengan sendirinya.

Saat ini infrastruktur online maupun offline bisa menjadi omnichannel yang ampuh. Korea Selatan memiliki produk wisata unik, dikemas dalam modernitas dan disebarkan melalui infrastruktur omnichannel  yang tepat dalam waktu real time.

Secara cerdas mereka menangkap peluang “kenarsisan” generasi millenial di media sosial sebagai omnichannel yang sadar maupun tidak sadar dan secara sukarela mereka telah berkontribusi pada perkembangan pariwisata Korea Selatan termasuk wisata halal.

Kreativitas Korea Selatan dalam mengangkat wisata halal yang memiliki daya tarik unik, ternyata tidak hanya menarik perhatian kaum millenial, melainkan juga generasi yang lebih tua yang lebih memiliki sarana kapital. Buat mereka, mengemas branding wisata halal Korea Selatan ala “zaman now” untuk saat ini dianggap sebagai salah satu strategi bertahan di era disrupsi. (*)

Oleh: Nastiti Tri Winasis