Jumat, 14 Desember 2018
06 Rabi‘ at-akhir 1440 H
-
Jika suku bunga acuan turun, maka normalnya bank syariah ikut menurunkan skema harga pembiyaan atau produknya, agar nasabahnya tidak kabur ke bank konvensional.

Jika suku bunga acuan turun, maka normalnya bank syariah ikut menurunkan skema harga pembiyaan atau produknya, agar nasabahnya tidak kabur ke bank konvensional.

Sharianews.com, Jakarta.Jika tren suku bunga acuan BI Rate naik, maka suku bunga bank ikut naik. Pada gilirannya, bank syariah bisa jadi akan menaikkan harga dagang produk atau pembiyaan melalui skema kontrak legalnya. Misalnya terkait dengan harga pembiayaan perumahannya.

Hal tersebut disampaikan oleh Pakar Ekonomi Islam, Ahmad Ifham Sholihin. Namun menurutnya, hal itu tidak berlaku terhadap kontrak atau  kesepakatan pembiyaan yang sudah disetujui melalui perjanjian secara legal sebab dalam syariah, kesepakatan transaksi yang sudah ditandatangani tidak boleh berubah mengikuti perubahan suku bunga acun bank.

“Karenanya, nasabah juga harus ikhlas, jika suka bunga turun. Harga tetap beralaku sesuai akadnya, sehingga harga dagangnya tidak ikut turun. Begitu juga, jika suku bunga naik, harga juga tidak ikutan naik,“ jelas Ifham, kepada sharianews.com, Kamis (30/8/2018).

Begitu juga jika suku bunga acuan turun, maka normalnya bank syariah ikut menurunkan skema harga pembiyaan atau produknya, agar nasabahnya tidak kabur ke bank konvensional.

Ia memberi contoh kasus, jika misalnya per hari tertentu, suku bunga turun, maka otomatis transaksi yang dilakukan hari tersebut  terhadap nasabah yang baru juga akan ikut turun. Namun, untuk nasabah lama hal itu tidak berlaku.

“Jadi harga dan pembiayaan bank syariah pun ikut menyesuaikan dengan menurunkan tingkat harga margin keuntungan yang diambil. Misalnya dalam Kredit Pemilikan Rumah,” papar Ifham.

Beda dengan bank konvensional

Berbeda dengan bank konvensional, nasabah lama juga ikutan menikmati penurunan harga atau pendapatan bunga ikut terkoreksi turunnya bunga bank. Begitu juga, juga untuk Net Interest Margin (NIM) produk-produk yang flat.

“Jadi bank konvensional keuntungannya belum tentu turun, belum tentu naik juga. Sama halnya dengan bank syariah. Tergantung dari produknya,”ujar Ifham.

Ifham menerangkan, dari sisi tren bisnis secara keseluruhan, jika suku bunga acuan BI Rate turun, kemungkinan besar net profit margin (NPM) bank syariah juga ikut turun, tergantung produknya.

Ia mencontohkan, nilai pendapatan NPM yang bisa ikut naik berdasarkan kontrak legal syariah selain dagang atau jual beli adalah kongsi. Kongsi ini prinsipnya, memberikan modal kepada nasabah. Hal ini mungkin bisa terdampak oleh naik turunnya bunga acuan BI Rate.

“Karena skema kontrak legalnya kongsi, maka net profit margin (NPM) dari nasabah harus didasarkan pada realisasi. Jika realisiasi hasilnya turun, ya NPM-nya turun. Sebaliknya, jika hasilnya naik, ya  NPM-nya ikut naik.”

NPM bank syariah tidak otomatis ikut naik

Meski begitu, menurut Ifham, produk yang berbasis jual beli, jika BI Rate naik, maka keuntungan bank syariah tidak bisa otomatis dinaikan.

Sebab dalam menentukan pertimbangan harga jual, menurut  ketentuan syariah, ia menjelaskan tidak hanya ditentukan berdasarkan transaksinya. Bisa juga berdasarkan suku bunga acuan BI Rate. “Bank syariah pakai acuan suku bunga dalam menentukan NPM itu boleh sebelum transaksi, tetapi jika sudah deal  dalam akad jual beli, haram hukumnya,”jelas Ifham.

Tetapi jika menggunakan akad sewa, ia mencontohkan seperti orang yang menyewa kontrakan (engekos) dengan biaya per bulan Rp 500 ribu, bulan depan misalnya dinaikan  menjadi Rp 600 ribu, hal tersebut dibolehkan.

“Pokoknya jika menyebut kata sewa, misal suku bunga naik, itu boleh dinaikan ,asal semua sepakat. Jika suku bunga turun boleh diturunkan kembali, asal semua sepakat. Karena logikanya  demikian, maka secara teori ini pasti akan berdampak terhadap NPM-nya bank syariah,”pungkas Ifham.

Reporter : Aldiansyah Nurrahaman Editor : Ahmad Kholil