Minggu, 17 Februari 2019
12 Jumada al-akhirah 1440 H
FOTO | Dok.romy.sharianews.com
Secara global literasi keuangan syariah cukup positif kenaikannya, diambil dari database KFH research, tahun 2009 ke tahun 2018 mencapai US$ 3,431.7 milyar.

Sharianews.com, Jakarta ~ Menjawab tantangan industri 4.0 atau digital teknologi dengan berbasis ekonomi syariah memang bukanlah sesuatu yang sederhana.

Meskipun sudah adanya pembaruan dan modern, akan tetapi secara substansional tidak boleh keluar dari nilai-nilai keislaman.

Hal tersebut sejalan sesuai dengan seperti yang dipaparkan oleh Dr. Euis Amalia, ketua bidang Penelitian & Pengembangan Islam DPP IAEI.

"Ini yang perlu kita sadari bersama-sama, di era ini kita lihat munculnya sukuk, munculnya fintech, di zaman rasulullah tidak ada yang seperti itu, hal ini adalah dinamika perkembangan dari ajaran Islam yang masuk ke dalam ranah modern yang kemudian muncul ijtihad-ijtihad baru," papar Euis di acara Seminar Nasional Ekonomi Islam Perbanas Institute, Kamis (20/12/2018).

Meskipun begitu, secara global literasi keuangan syariah cukup positif kenaikannya, diambil dari database KFH research, tahun 2009 ke tahun 2018 mencapai US$ 3,431.7 milyar.

"Kenaikannya tumbuh dari 50 persen, keseluruhan dari sektor perbankan," sambung Euis.

Euis yang juga pengajar di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah ini mengatakan tujuan dari pengembangan ekonomi Islam secara keseluruhan ialah terciptanya keadilan distributif.

"Sistem distributif equity atau keadilan distributif dimana harus ada keadlian untuk semua orang, maka kalau itu tidak tercapai, tidak ada beda dengan yang lain atau konvensional," ucap Euis.

Persoalan teknologi finansial, kategori yang termasuk dalam industri 4.0 atau industri digital teknologi terlebih dengan berbasis syariah seperti dua mata sisi uang, ada kemudahan di satu sisi dan di sisi lain juga bagaimana menjamin kepercayaan dari publik.

Dewan Syariah Nasional sudah mengeluarkan fatwa DSN-MUI no.117/II/2018 terkait dengan sektor model pembiyaan fintech. Pertama, pembiayaan anjak piutang (factoring). Kedua, pembiayaan pesanan pihak ketiga (purchase order).

Ketiga, pembiayaan pengadaan barang untuk pelaku usaha yang berjualan secara daring (online seller). Keempat, pembiayaan untuk pegawai (employee). Kelima, pembiayaan berbasis komunitas (community based). (*)

 

Reporter: Romy Syawal Editor: Achi Hartoyo