Senin, 18 Februari 2019
13 Jumada al-akhirah 1440 H
FOTO I Aktual.com
"Isilah waktu liburan panjang dengan membaca, berdiskusi dan mencari jati diri bersama komunitas yang dikenal positifnya oleh lingkungan masyarakat," himbau Bisyri

Sharianews.com, Jakarta ~ Setiap agama memiliki perhitungan tahunnya masing-masing. Baik Islam, Kristen, Buddha, Hindu, Konghuchu bahkan Ahmadiyah pun memiliki tahunnya sendiri. Termasuk dalam menetapkan tahun barunya. Sehingga, bagi siapapun yang merayakan kepercayaan agama lain, maka mereka termasuk di dalamnya.

Demikian yang diungkap Ahmad Bisyri Abdul Syakur Hamidy, Lc. MA., seorang ahli Fiqh yang mendapatkan gelar License dari Mesir dan Master di Islamabad.

"Bagi umat Islam tentunya tidak berkepentingan untuk merayakan tahun baru umat lain. Tidak ada keuntungan materil maupun non materil dari perayaan tahun baru umat agama yang berbeda. Maka jangan melakukan kesia-siaan dan pemborosan yang dilarang dalam ajaran Islam," jelasAhmad.

Tahun baru yang merupakan simbolisasi atas bertambah dan bergantinya sebuah tahun, bersifat natural yang diceritakan dalam Al-Qur'an. "Wa tilkal ayyamu nudawiluha bainannas", yang artinya "Kamilah yang menggantikan hari-hari yang ada dalam kehidupan manusia itu". Sehingga, menurut Dosen Sekolah  Tinggi Ekonomi Islam SEBI sendiri, tidak ada yang istimewa kecuali keistimewaan Allah SWT itu sendiri.

Namun, fenomena generasi muda yang sudah membudaya saat ini adalah bahwa setiap malam pergantian tahun akan merayakan berupa peniupan terompet, kembang api, acara-acara musik bahkan ada pula yang merayakannya dengan bermaksiat.

Fenomena yang terjadi di Karawang, Jawa Barat misalnya, menjelang perayaan pergantian tahun justru barang yang laris manis dan paling diburu adalah alat kontrasepsi seperti kondom. Bahkan dalam beberapa hari terakhir, sejumlah apotek di Karawang mengalami peningkatan omset dari penjualan alat tersebut. Tidak dapat dimungkiri, sudah menjadi budaya bagi beberapa anak muda, dalam merayakan pergantian tahun tersebut dengan melakukan seks bebas.

Dengan demikian, Ustad Bisyri berpesan kepada para pemuda muslim agar tidak mudah terjerumus ke dalam hal negatif akibat tidak berselera menambah ilmu dan wawasannya, terlebih menjerumuskan diri ke dalam kemaksiatan demi merayakan pergantian tahun tersebut yang notabenya merupakan kesia-siaan belaka. Dan alangkah baiknya bila mengisinya dengan mendekatkan diri kepada Allah sebagai bahan intropeksi diri atau muhasabah.

"Untuk itu saya mengajak milenial untuk mengedepankan akal sehat dan juga syariat daripada hawa nafsu. Jangan ikut-ikutan teman yang tidak menguntungkan bagi kepribadian kita. Isilah waktu liburan panjang dengan membaca, berdiskusi dan mencari jati diri bersama komunitas yang dikenal positifnya oleh lingkungan masyarakat," pungkas Bisyri. (*)

 

Reporter: Fathia Rahma Editor: Achi Hartoyo