Selasa, 22 Januari 2019
16 Jumada al-ula 1440 H
FOTO I Dok. Bersamaislam.com
Proses taaruf tersebut dimaksudkan untuk mengetahui lebih dalam calon pasangan, bagaimana agama, akhlaknya, visi, ibadah, kebiasaan dan kepribadian lainnya.

Sharianews.com, Jakarta ~ Membentuk keluarga yang diridai Allah, merupakan tugas bersama dari semua anggota keluarga. Terlebih bagi kedua orang tua yang menjadi pembentuk dan penentu awal sebuah keluarga. Untuk mendapatkan keridaan dari Allah, maka memulainya pun harus dengan cara-cara yang disyariatkan, bukan dengan bermaksiat kepadaNya.

Taaruf (proses perkenalan sebelum menikah) merupakan cara yang dianjurkan dalam Islam bukan dengan berpacaran. Hal ini dimaksudkan untuk menjaga kesucian diri dalam sebuah pernikahan untuk membentuk keluarga yang baik.

Ustaz Arif Rahman Lubis, seorang penulis sekaligus pencetus Komunitas Teladan Rasul menjelaskan, dalam proses taaruf tersebut dimaksudkan untuk mengetahui lebih dalam calon pasangan, bagaimana agama, akhlaknya, visi, ibadah, kebiasaan dan kepribadian lainnya.

Dalam diskusi tersebut, bisa menjadi bahan pertimbangan untuk melanjutkan ke tahap berikutnya atau tidak. Namun, dalam proses berkenalan tersebut harus didampingi mahram atau perantara, dan tidak semata-mata hanya berdua (berkhalwat), baik berkomunikasi secara langsung maupun melalui chatting di mana hal tersebut tidak diperkenankan oleh Allah.

"Ketika mengikuti ajaran Islam, di sanalah kita mendapatkan kebahagiaan, kebaikan, kemanfaatan. Rasulullah SAW memberikan contoh, dengan cara mengenal, cara bertaaruf tanpa bermaksiat pada Allah," ujar Ustaz Arif, saat ditemui Sharianews usai seminar Pernikahan Impian, yang diadakan oleh Rumah Ta'arufqu, bertempat di Gedung Kemuning Gading, Sabtu (5/1).

Namun, yang menjadi problem umat saat ini, lanjut beliau, adalah orang Islam sendiri yang lebih mengenal kata pacaran ketimbang taaruf. Tradisi pacaran, yang sudah dianggap biasa, semakin menjamur dan tidak lagi dikenal sebagai kesalahan melainkan kewajiban di zaman yang modern ini. Pemahaman seperti ini yang mesti diluruskan mengingat dampak negatif dari sebuah pacaran yang bukan hanya di dunia saja, tetapi juga berlanjut di akhirat apabila tidak memohon ampun kepadaNya.

"Banyak ya ketika saya sharing di seluruh Indonesia, ternyata hal yang menyebabkan banyak anak muda yang mengaku berpacaran, itu bukan semata-mata karena pengen berpacaran, atau ada seseorang yang mengejar-ngejarnya. Tapi faktor lainnya adalah minder, karena lingkungan sekitarnya pada punya pacar semua. Dan menganggap kalau tidak pacaran itu nggak keren. Jadi sudah ada brainwash atau pemikiran dasar yang seperti itu," tutur dari penulis buku Halaqah Cinta ini.

Lebih lanjut, Ustaz Arif mengatakan jumlah aborsi di Indonesia tinggi sekali. Dan hal tersebut disebabkan karena zina yang berawal dari pacaran. Mirisnya para pelaku aborsi tersebut bukan hanya orang dewasa saja, melainkan remaja bahkan anak dibawah umur.

"Pada dasarnya, kalau Allah mensyariatkan untuk tidak berpacaran dan menjaga diri dalam kesucian dan ketakwaan maka itu yang terbaik. Lakukan saja, seberat apapun itu kemudian carilah lingkungan yang dapat membawa kita ke jalan yang baik pula," ujar Ustaz Arif.

Dikatakan pula bahwa lingkungan yang baik yaitu, ketika didalamnya terdapat orang-orang yang bisa menguatkan dan memberi dukungan (support) untuk meninggalkan aktivitas pacaran, yang dapat mendekatkan diri pada zina. Serta lingkungan tersebut dapat saling menjaga dalam kesalehan.

"Cari lingkungan yang mengajak pergi ke kajian, yang ngobrolnya asik dalam taat, yang main tapi selama rangka ibadah pada Allah SWT," pungkas Ustaz Arif. (*)

Reporter: Fathia Editor: Achi Hartoyo
#taaruf