Senin, 18 Februari 2019
13 Jumada al-akhirah 1440 H
FOTO I Dok. batam.tribunnews.om
Untuk membantu masyarakat berinvestasi ke dalam sukuk korporasi, sebetulnya ada lembaga pemerating yang memberikan peringkat sukuk korporasi tersebut.

Sharianews.com, Jakarta ~ Kurangnya pemahaman mengenai sukuk korporasi mengakibatnya sepinya peminat sukuk korporasi. Umumnya para investor retail lebih suka membeli sukuk pemerintah, meskipun sukuk korporasi banyak, pasarnya tidak banyak yang tahu.

Sharia Business and Development MNC Sekuritas, Sutrisna Amijaya mengatakan secara risiko memang sukuk korporasi lebih tinggi dibandingkan dengan sukuk pemerintah yang hampir tidak memiliki risiko. Fee ujroh kupon sukuk pemerintah dijamin undang-undang atau pemerintah, sehingga lebih aman.

Sementara risiko-risiko dalam sukuk juga bisa default. Gagal bayar menjadi faktor yang dikhawatirkan investor ketika membeli sukuk korporasi.  

Untuk membantu masyarakat berinvestasi ke dalam sukuk korporasi, Sutrisna menjelaskan sebetulnya ada lembaga pemerating yang memberikan peringkat sukuk korporasi tersebut.

“Jadi investor tinggal melihat rating. Misalkan PT A, dia mengeluarkan sukuk ijarah ratingnya Triple-A, itu bagus, dengan fee ujrohnya sekian, tenornnya sekian,” jelas Sutrisna kepada Sharianews.com, Selasa (15/1/2019).

Bagi mereka yang paham investasi, dengan rating seperti itu, akan menjadi momentum yang  untuk mengalokasikan dana.

Sukuk korporasi, diungkapkan Sutrisna dari sisi imbal hasil justru lebih tinggi biasanya dibandingkan sukuk pemerintah. Hanya saja kembali ke masyarakat Indonesia yang berkarakter konservatif, akan banyak pertimbangan yang diperhatikan, salah satunya risiko.

Tren 2018, pasar sukuk korporasi tidak terlalu banyak transaksi. Pengguna yang mengeluarkan sukuk di 2018 juga tidak terlalu banyak. Ini dikarenakan suplainya memang tidak terlalu banyak dan transaksi dari pasar pun sedikit.

Lebih lanjut, ia menambahkan mekanisme perdagangan sukuk tidak seperti saham yang likuid. Saham bisa dibeli dan dijual kapanpun. Sementara sukuk tidak seperti saham, mencari seri untuk dibeli saja sulit.

“Jadi ada risiko likuiditas juga yang memang membedakan instrumen sukuk ini, masyarakat mau mencairkannya agak sedikit susah atau mencari barangnya pun agak sedikit sulit. Faktor likuidtas kadang yang menjadi pertimbangan investor kita, untuk membeli instrumen sukuk ini,” tutup Sutrisna. (*)

Reporter: Aldiansyah Nurrahman Editor: Achi Hartoyo