Rabu, 19 Desember 2018
11 Rabi‘ at-akhir 1440 H
FOTO | Dok. sharianews.com
Sudah semestinya masyarakat Indonesia, khususnya pemuda berhijrah dari pola pikir konsumtif menuju pola pikir produktif.

Sharianews.com, Jakarta. Sudah saatnya anak muda Indonesia diberi kesepatan untuk berkreasi di ranah apapun, sehingga potensi yang dimiliki  bisa berkembang. Apalagi,  populasi penduduk Indonesia 58 persen merupakan kelompok anak-anak muda dengan rentang usia 12-24 tahun.

Demikian dikatakan oleh Erick Thohir, Founder dan Chairman Mahaka Group di even Jakarta Halal Think 2018, di Jakarta, Sabtu (1/12). Lebih lanjut Erick Thohir mengatakan dengan populasi penduduk Indonesia yang mayoritas dan merupakan  penduduk muslim terbesar dunia, Indonesia  memiliki potensi sebagai pasar yang sangat besar. Namun sangat disayangkan, habit pemuda Indonesia mayoritas masih konsumtif.

Karena itu menurutnya, kini sudah saatnya jika anak-anak muda Indonesia mulai mengubah mindset-nya dari perilaku konsumtif ke perilaku produktif. “Sudah semestinya masyarakat Indonesia, khususnya pemuda berhijrah dari pola pikir konsumtif menuju pola pikir produktif,”ujar Erick Thohir saat menjadi pembicara di even Jakarta Halal Thing 2018.

Ercik pun memaparkan pengalamannya sebagai Ketua Penyelenggarakan ASEAN Games 2018. Indonesia yang menurutnya sangat kaya dengan beragam budaya, dengan 740 suku bangsa hidup di dalamnya merupakan kekuatan dan potensi yang harus dikembangkan.

“Melihat dari ASEAN Games beberapa waktu lalu,  kita tampilkan tradisi budaya-budaya Indonesia dari Sabang sampai Merauke yang diramu secara kelas dunia (World Class). Istimewanya sebagian besar tokoh-tokoh yang mengisi adalah para pemuda. Baik atlet, pengisi acara , panitia, hingga volunteer ASEAN Games, sebagian besar adalah anak-anak muda,”ujarnya. 

Menurutnya, hal itu membuktikan bahwa jika anak-anak muda diberi ruang untuk berekspresi, maka Indonesia bisa mejadi negara yang kuat. Saat ini, Indonesia sudah masuk katagori sebagai negara dengan ekonomi tercepat pertumbuhannya di dunia.

“Kini kita sudah masuk dalam kategori ekonomi terbesar Top 20. Data lain menunjukkan prediksi ekonomi Indonesia pada tahun 2030, berada di peringkat sembilan dan tahun 2050 naik ke peringkat 4,”kata Erick Thohir.

Hal itu ujar Erick, menunjukkan bahwa kecenderungan market Indonesia sedang mengalami growing (pertumbuhan), “Sehingga harus ada optimisme. Kalau orang lain saja optimis, masa kita pesimis,”paparnya.

Karena itu, menurutnya sangat penting data-data tersebut dimasukan ke dalam pemikiran serta understanding  masyarakat Indonesia. Sebagai contoh, saat ini Indonesia memiliki start-up yang sukses, seperti Gojek , Tokopedia.

“Bahkan Gojek sudah membuka perwakilan kantor bisnis di Vietnam dan sekarang akan buka di Singapura. Kita tahu itu adalah karya anak muda Indonesia. Artinya, Indonesia sudah ada memiliki sukses story-nya. Sama seperti ASEAN Games yang juga memiliki story sukses,”jelasnya.

Peluang besar kembangkan ekonomi Islam

Lebih lanjut Erick mengatakan bahwa kondisi Indonesia saat ini merupakan peluang besar untuk meningkatkan produktivitas dibanding hanya sebagai konsumen. Terlebih di sektor ekonomi Islam, yang sudah semestinya diperjuangkan di negara berpenduduk muslim terbesar ini.

Menurutnya sektor-sektor ekonomi Islam sangat luas cakupannya dan bisa meliputi, halal food, Islamic finance, halal travel, modest fashion, halal recreation, dan semua yang berkaitan dengan halal.

Dengan memaksimalkan produktivitas tersebut, Indonesia akan menjadi global market, yang menarik konsumen dari berbagai negara. Itu mengapa ujar Fonder dan Chairman Mahaka Group ini, sangat penting  bagi bussinessman yang melakukan kegiatan produksi terus mengasah skill dan kemampuan seturut perkembangan zaman, menyesuaikan dengan perkembangan teknologi informasi dan digitalisasi.

“Dengan ini saya mengharapkan generasi muda Indonesia mesti bisa mengembangkannya tidak hanya sebagai profesional, tapi juga jadi creator, entrepreneur dan sebagainya. Indonesia ada di tangan kalian,” ujar Erick dengan semangat.

Erick pun mencontohkan bahwa dunia fesyen muslim Indonesia yang memiliki prosepek bagus, dan sudah selayaknya memanfaatkan dan berkolaborasi dengan e-commerce dalam memasarkan produknya.

Menurutnya, jika ingin menarik pasar global, maka kualitas produk yang dimiliki harus berkelas dunia. Karena itu, ia kembali menekankan agar pengusaha muslim Indonesia bisa melakukannya.

“Dan yang tidak kalah penting adalah pembenahan aspek distribusi yang masih lemah. Karena itu penting untuk bisa memanfaatkan teknologi digitalisasi untuk mengembangkan pasar  di luar negeri. Misalnya dengan menjalin kerjasama dengan e-commerce asing untuk distribusi ke Turki atau AS,"ujarnya.

Sebab menurutnya, meski di dalam negeri memiliki pasar lokal yang luas, namun sebagai pebisnis tetap perlu melihat peluang pasar global. Sebab Indonesia memiliki pertumbuhan ekonomi tercepat. Itu maka, "Kita harus optimistis,"pungkasnya. (*)

Reporter: Fathia Rahmad Editor: Ahmad Kholil