Jumat, 14 Desember 2018
06 Rabi‘ at-akhir 1440 H
FOTO | Dok. Pribadi
Dalam konteks kontemporer, delapan asnaf - penerima zakat dilihat sebagai kelompok masyarakat yang lemah (dha’if) dalam berbagai aspeknya. Syariat zakat bermaksud untuk menutupi kelemahan tersebut,

Oleh: Khuzaifah Hanum | Badan Amil Zakat Nasional

 

Salah satu konsep penting di dalam zakat sebagai sebuah tata kelola adalah mustahik. Secara literal, mustahik dapat dimaknai sebagai orang yang berhak (atas dana zakat). Syari’at Islam menegaskan bahwa mustahik memiliki batasan khusus. Ia hanya ditujukan kepada delapan kelompok (asnaf) penerima, meliputi: fakir, miskin, amil, mu’allaf, riqab, gharimin, sabilillah, dan ibn sabil. Di luar kategori tersebut, maka zakat terlarang untuk disalurkan.

Dalam konteks kontemporer, kedelapan asnaf tersebut dapat dilihat sebagai kelompok masyarakat yang lemah (dha’if) dalam berbagai aspeknya. Syariat zakat bermaksud untuk menutupi kelemahan tersebut, sehingga mustahik dapat beraktivitas secara normal sebagaimana manusia pada umumnya. Tulisan ini mencoba menelaah ulang konsep mustahik dalam tujuan zakat dan konteks praktik kekinian penyaluran zakat.

Al-Qur’an membedakan mustahik ke dalam dua kategori. Kategori pertama diawali dengan artikel ‘lil’, yang meliputi empat asnaf pertama (fakir, miskin, amil, dan mu’allaf). Kategori kedua diawali dengan artikel ‘fi’, yang meliputi empat asnaf kedua (riqab, gharimin, sabilillah, dan ibn sabil). Sebagai petunjuk kehidupan, maka pembedaan tersebut di dalam Al-Quran tentu memiliki maksud khusus, sehingga tidak bisa diabaikan pemisahannya.

Menurut Al-Qaradhawi (1973), empat asnaf pertama merupakan kondisi kelemahan yang cenderung permanen dan definitif. Sehingga, setiap kali ditemui, maka zakat perlu segera diberikan kepada empat asnaf tersebut.

Adapun, empat asnaf kedua merupakan kondisi kelemahan yang relatif. Zakat dapat disalurkan kepada empat asnaf kedua ini, namun tidak harus selalu disalurkan. Penyaluran zakat kepada empat asnaf kedua ini dilakukan dengan terlebih dahulu melihat kondisi ke-relativitasan kelemahan pada subjek penerima.

Istilah fakir di dalam al-Qur’an mengacu pada kondisi seseorang yang tidak memiliki kemampuan untuk mendapatkan nafkah atau tidak dapat berusaha (QS 2: 273). Maka, bantuan zakat pada asnaf fakir ditujukan untuk memenuhi kebutuhan hidup dasar mereka, seperti bantuan makanan, pakaian, dan tempat tinggal.

Adapun, sifat bantuan tersebut akan menjadi cenderung bersifat santunan sosial (charity) tanpa membuat mereka harus berusaha, karena kemampuan berusaha mereka belum atau bahkan tidak ada.

Sebab seorang menjadi fakir

Ada sejumlah sebab mengapa seseorang menjadi fakir. Sebab pertama adalah usia lanjut. Ada orang-orang yang ditakdirkan Allah hidup hingga usia lanjut (lansia). Dalam kondisi tersebut mereka tidak lagi memiliki kemampuan untuk berusaha. Maka lansia tersebut termasuk dalam kategori fakir. Begitu pun, penyaluran zakat pada asnaf fakir dengan sebab ini ditujukan untuk memenuhi sekurang-kurangnya tiga hajat dasar mereka.

Sebab kedua adalah belum baligh. Dalam Islam, tidak ada beban (taklif) pada seorang anak yang belum baligh. Demikian halnya dengan kewajiban mendapatkan nafkah. Beban nafkah pada anak yang belum baligh ada pada orangtua dan/atau walinya. Dalam hal mereka tidak memiliki penanggung nafkah, maka mereka masuk kategori fakir.

Dengan kondisi ini, maka bantuan pada asnaf fakir dengan sebab belum baligh adalah bantuan pemenuhan hajat dasar dan juga pengembangan keterampilan hidup mereka. Tujuan bantuan zakat yang kedua adalah ketika mereka sudah baligh, maka mereka mampu mencari nafkah dengan kemampuan minimal.

Sebab ketiga adalah sakit. Sakit, baik sementara atau permanen, merupakan kondisi seseorang yang kehilangan kemampuan dalam mencari nafkah. Maka, kondisi sakit adalah salah satu kondisi kefakiran.

Intervensi bantuan zakat pada kondisi ini adalah upaya memulihkan kembali kesehatan orang tersebut. Dengan kembali sehat, maka kondisi kelemahan yang disebabkan oleh kefakiran dapat diatasi.

Sebab keempat adalah bencana. Kondisi bencana, baik bencana alam maupun bencana sosial, merupakan situasi yang membuat seseorang kehilangan kemampuan dalam mendapatkan nafkah. Maka, selama periode bencana tersebut, setiap orang yang terpapar dampaknya secara langsung mengalami kondisi kefakiran. Penyaluran zakat pada asnaf fakir dengan sebab bencana ini ditujukan untuk memberikan tiga hajat dasar hingga kondisi bencana selesai.

Tujuan zakat pada asnaf miskin

Selanjutnya adalah asnaf miskin. Di dalam al-Qur’an, istilah miskin mengacu pada kondisi seseorang yang mampu mencari nafkah, namun tidak bisa mencukup kebutuhan dasar pada diri dan keluarga yang ditanggungnya (QS. 18: 79).

Maka, tujuan penyaluran zakat pada asnaf miskin bukan lagi hanya untuk memberikan bantuan pemenuhan kebutuhan dasar, melainkan berorientasi pada upaya peningkatan kapasitas dan kemampuan mustahik dalam mendapatkan nafkah.

Upaya peningkatan kapasitas dalam mendapatkan nafkah ini lazim dengan istilah pemberdayaan ekonomi. Atas dasar inilah kemudian zakat disalurkan sebagai usaha untuk meningkatkan produktifitas para mustahik, yang dikenal dengan istilah zakat produktif.

Penyaluran zakat pada asnaf miskin dalam agenda zakat produktif tidak seharusnya dilakukan serta merta begitu saja, namun ada tahapan proses yang perlu dijalani, di antaranya: asesmen potensi, pengembangan kapasitas (capacity building), re-distribusi aset usaha (asset reform), dan pendampingan.

Asesmen berfungsi untuk mengidentifikasi potensi usaha pada diri dan lingkungan mustahik tersebut. Dari hasil asesmen ini, maka penyaluran zakat untuk usaha produktif diharapkan dapat lebih efektif dan efisien.

Setelah mendapatkan informasi tersebut, penyaluran zakat untuk aset usaha tidak selayaknya langsung diberikan, melainkan diperlukan upaya pencerdasan bagi mustahik dalam mengelola aset. Sehingga, penggunaan aset bantuan usaha dari penyaluran zakat dapat lebih maksimal.

Re-distribusi aset usaha merupakan pilar penting dalam agenda zakat produktif, namun perlu diingat, ini bukan satu-satunya bentuk penyaluran dalam penyaluran zakat.

Dengan bantuan aset usaha ini, diharapkan mustahik memiliki kapasitas usaha yang lebih baik. Terakhir, pendampingan menjadi agenda penyaluran zakat produktif yang tidak dapat dilupakan. Tujuannya adalah agar hasil pengembangan kapasitas dan re-distribusi aset usaha pada mustahik dapat terkelola hingga mencapai tujuan peningkatan kapasitas usaha pada mustahik yang dibantu.

Asnaf amil di dalam fikih zakat mengacu pada mereka yang mengelola dana zakat. Mereka yang mengumpulkan dan juga menyalurkan kepada mustahik. Maka, dari hasil pengumpulan zakat, amil selayaknya mendapatkan bagian dari hasil pekerjaan mereka. Sehingga, dengan pemberian alokasi zakat kepada amil ini, tidak membuat para amil jatuh ke dalam kategori miskin, sementara mereka bekerja penuh dalam menegakkan syariat zakat.

Muallaf, secara istilah, mengacu pada mereka yang masuk ke dalam Islam. Dalam konteks awal penyebaran Islam, sebagian besar penduduk bumi belum mengenal dan masuk ke dalam Islam, walaupun sebagian mereka masih ada yang mengikuti ajaran hanif terdahulu.

Maka, dalam konteks sosio-historis tersebut, makna muallaf sebenarnya dapat dipahami sebagai upaya memperkuat akidah masyarakat sesuai dengan ajaran Islam.

Dengan demikian, maka dalam kondisi hari ini, maka kategori muallaf terbagi menjadi dua, yaitu muallaf dari kategori kafir dan muallaf dari kategori muslim.

Muallaf dari kategori kafir sudah memiliki konteks yang jelas, yaitu mereka yang non-muslim namun tertarik dengan ajaran Islam. Sementara itu, muallaf dari kategori muslim adalah kaum muslimin yang rentan dalam kondisi akidahnya. Sasaran penyaluran zakat kepada asnaf muallaf ini ditujukan untuk memperkuat akidah mereka dan menjauhkan mereka dari potensi maksiat yang besar.

Adapun, pada kategori empat asnaf mustahik kedua, penyaluran zakat dilakukan dalam kondisi mendekati keempat asnaf pertama tersebut. Tidak seluruh gharimin (orang yang berhutang) perlu dibantu oleh dana zakat.

Demikian halnya dengan sabilillah (orang yang berjuang di jalan Allah), dan ibn sabil (orang yang di dalam perjalanan). Pembahasan lebih lanjut mengenai empat asnaf kedua akan diulas dalam tulisan selanjutnya. (*)

 

Oleh: Khuzaifah Hanum