Senin, 18 Februari 2019
13 Jumada al-akhirah 1440 H
FOTO | Dok. republika.co.id
Stigma negatif terkait dengan asuransi syariah ini perlu diperbaiki, antara lain dengan meningkatkan tingkat literasi dan inklusi asuaransi syariah.

Sharianews.com, Jakarta ~ Masih ada stigma di tengah masyarakat bahwa asuransi syariah tidak ada bedanya dengan konvensional. Masyarakat masih menilai produk-produk asuransi syariah selama ini juga masih mengekor produk asuransi konvensional.

Hal itu disampaikan oleh Arfandi Arief, Direktur Utama PT Takaful Keluarga. Karena itu menurutnya, stigma negatif terkait dengan asuransi syariah ini perlu diperbaiki. Hal ini bisa dimungkinkan antara lain dengan meningkatkan tingkat literasi dan inklusi asuaransi syariah di tengah masyarakat.

“Karenanya, pelaku industri perlu melakukan transformasi dalam sosialisasi. Kita perlu memasyarakatkan 'Oh asuransi syariah memang beda', pelaku industri juga jangan tiru konvensional, citra konven dan syariah yang dianggap sama itu harus dihentikan," kata Arief  dalam seminar  yang diselenggarakan oleh Islamic Insurance Society di Jakarta, Selasa (4/12/2018).

Caranya antara lain melakukan tansformasi sosialisasi untuk menyampaikan apa saja yang berbeda dari asuransi syariah disbanding konvensional.

Misalnya menyampaikan bahwa secara sistem, kultur dan perilaku pelaku industrinya sangat berbeda. Begitu pun produknya yang telah sesuai dengan kebutuhan generasi masa kini serta sesuai dengan ketentuan syariah.

Hal lain yang sangat penting terkait dengan transformasi adalah perlunya memberikan layanan yang lebih mudah dengan mengadaptasi sistem digitalisasi.

“Sebab saat ini disrupsi digital tidak bisa dikesampingkan. Karena itu semua industri harus mengarah ke sana jika tidak ingin ditinggalkan konsumen atau tertinggal oleh competitor,”kata Direktur Teknik PT Asuransi Chubb Syariah Indonesia, Taufik Marjuniadi menambahkan.

Sebab generasi milenial yang nantinya menjadi pangsa pasar terbesar sangat  bergantung pada sistem yang cepat, mudah dan memungkinkan mereka bereksplorasi lebih. Chubb sendiri, menurutnya, mengarah pada peluang tersebut.

Meski begitu, menurut Group Head of Policy & Procedure PT Bank Syariah Mandiri, Ana Nurul Khayati mengatakan semangat untuk menggunakan produk syariah tergantung dari pemahaman pribadi. Karena itu sosialisasi menjadi sangat penting.

Karena itu, menurutnya pihaknya berkomitmen untuk memasyarakatkan asuransi syariah dengan bundling dengan produk perbankan atau bank-assurance.

Sebab, bagaimana pun perbankan menjadi rantai ekosistem yang bisa membantu meningkatkan upaya sosialisasi. Menurutnya peluang bundling dengan produk perbankan potensi dan peluangnya sangat terbuka.

 Karena itu, ia berharap ke depannya peluang-peluang untuk kolaborasi akan terus diisi. Sebab edukasi dan sosialisasi pada masyarakat  terkait literasi dan inklusi asuransi syariah sejatinya menjadii tugas bersama. (*)

Reporter: Aldiansyah Editor: Ahmad Kholil