Jumat, 14 Desember 2018
06 Rabi‘ at-akhir 1440 H
Di semester satu 2019, situasi pasar perbankan syariah akan sangat krusial, namun jika berhasll dilewati dengan baik, maka pada semester dua semuanya akan berjalan dengan baik.

Sharianews.com, Jakarta ~ Bagaimana kinerja perbankan syariah di tahun 2019 nanti? Presiden Direktur Karim Consulting Indonesia (KCI), Adiwarman Azwar Karim, memprediksikan, situasi perbankan syariah pada semester satu 2019 akan seperti saat kita berjalan di atas salju atau jalanan yang licin, sehingga mesti berhati-hati.

Menurutnya, pendapatnya tersebut didasarkan amatannya terhadap situasi perbankan syariah di tahun-tahun sebelumnya. Karenanya memasuki 2019 nanti, perbankan syariah pun dapat diprediksikan berdasarkan situasi yang dihadapi di dua semester, yaitu semester satu dan dua. Semester satu biasanya akan sangat krusial, sehingga jika berhasll dilewati dengan baik, maka pada semester dua biasanya akan berjalan baik.

“Semester satu akan ada tekanan eksternal, baik dari tingkat suku bunga, likuiditas yang sangat ketat, maupun Non Performing Financing (NPF) yang besar,”jelas pria biasa disapa dengan panggilan Adi ini, saat berbicara di forum 'Islamic Financing Outlook 2019' yang diselenggarakan KCI di Perpustakaan Nasional, Jakarta, Kamis (6/12/2018).

Adi mengungkapkan berdasarkan data yang dia baca menunjukan bahwa tahun 2018 ini, bank syariah sudah hapus buku, di antaranya direstruktur, sehingga pada semester pertama nanti disarankan tidak melakukan ekspansi. "Jangan berhasrat melakukannya, agar situasi perbankan syariah tenang pada masa itu. Jika itu dijalankan, maka beban akan hilang, jadi mesti berhati-hati, jangan menambah beban lagi,"ujarnya.

Barulah jika situasi sudah stabil, “Di tahun 2019 semester dua, saat terbuka windows untuk menerbitkan saham, barulah melakukan ekspansi pembiayaan, termasuk misalnya melakuakan IPO (Initial Public Offering) maupun right issue,”paparnya menyarankan. 

Lebih lanjut, ia menambahkan secara statistik, biasanya di setiap tahun Pemilihan Presiden (Pilpres), itu biasanya selalu ada kenaikan transaksi yang signifikan di pasar modal, "Transaksi modal dan keuangan itu biasanya selalu naik,"katanya.  

Adi pun memprediksi, di Pilpres 2019 nanti juga akan terjadi hal yang sama. Selain itu, berdasarkan data statistik bisanya dapat terbaca bahwa kenaikan tersebut biasanya sudah terjadi sejak empat bulan sebelum Pilpres.

"Artinya, kira-kira saat Desember 2018 atau Januari 2019, mulai dirasakan kenaikan itu. Jadi dana yang berasal dari sektor perbankan akan dipindahkan ke pasar modal untuk sementara. Di pasar modal biasanya akan ditarik dahulu keluar, nantinya masuk lagi ke dalam,”ujar Adi menerangkan.

Karena itu, menurutnya sebaikanya perbankan syariah menahan diri di semester pertama. Jika masa itu bisa dilewati, uang yang tadinya masuk di pasar modal ketika Pilpres, akan mencari tempat-tempat investasi yang menguntungkan.

Itu lah windows untuk bank syariah pada semester kedua menerbitkan right issue, begitu juga bank yang akan IPO, maupun yang akan menerbitkan sukuk,” pungkas Adi.(*)

Reporter: Aldiansyah Nurrahman Editor: Ahmad Kholil