Senin, 18 Februari 2019
13 Jumada al-akhirah 1440 H

Peran Islam di Benua Eropa

Senin, 17 Desember 2018 14:12
FOTO I Dok. caravandaily.com
Peradaban Islam ibarat kereta waktu dengan berbagai gerbong yang menjelajahi berbagai peradaban, memuat aneka barang dan pengetahuan dari persinggahan-persinggahan itu, dan membongkar semua muatannya di Eropa.

Sharianews.com, Dulu, orang Eropa itu bau karena jarang mandi, bahkan sampai sekarang. Ketika pasukan Islam masuk ke kawasan itu via Spanyol dan Prancis abad ke-8, mereka harus banyak tutup hidung bila berpapasan dengan orang-orang setempat.

Ada yang tidak begitu bau, yakni kalangan istana: Para pangeran, putri dan petinggi kerajaan. Bau badan mereka tertutupi pewangi yang hanya dipakai kalangan istana.

Ketika pada abad pertengahan orang-orang Eropa berkunjung ke negeri-negeri Muslim, mereka heran kenapa warga masyarakat biasa pun tidak berbau badan. Bahkan ketika mereka menjumpai para petani Muslim di Baghdad, Turki, Mesir, Maroko, yang sedang bekerja di kebun-kebun, mereka tak mencium bau keringat seperti umumnya terendus dari warga kelas bawah Eropa yang melakukan pekerjaan serupa.

Selidik punya selidik, orang-orang Eropa itu mendapati bahwa setiap Muslim sedikitnya mandi dua kali sehari dan bertaharah lima kali sehari. Orang-orang Islam mempraktikkan cara hidup higienis wal sehat itu dari ajaran Islam dan contoh Rasulullah Muhammad.

Invasi Muslim ke Eropa membawa peradaban dan cara hidup bersih dan sehat. Masa itulah pertama kali orang Eropa mengenal gosok gigi setelah makan. Orang-orang Islam memperkenalkan siwak, yang terbuat dari ranting pohon Miswak yang wangi dan sekaligus menjadi bahan pasta gigi. Satu ujungnya dipukul-pukul sehingga membentuk mata sapu kecil. Itulah yang digunakan menggosok gigi. Masa itu, orang-orang Eropa membersihkan mulut setelah makan hanya dengan kumur-kumur.

Eropa baru memproduksi sikat gigi secara massal pada abad 18.

Orang Islam membawa bahan-bahan pencerahan Eropa. Peradaban Islam ibarat kereta waktu dengan berbagai gerbong yang menjelajahi berbagai peradaban, memuat aneka barang dan pengetahuan dari persinggahan-persinggahan itu, dan membongkar semua muatannya di Eropa.

Yang paling dasar adalah pengenalan angka, yakni Arabic numeral, yang praktis dan friendly user. Orang Islam sendiri menamakan sistem angka mereka sebagai ‘angka India’, karena memang diadopsi dari sistem angka India. Tapi orang Islam menambahkan nol padanya. Dan tanpa angka nol, tak mungkin ada matematika dan geometri. Dan tanpa matematika, tak mungkin ada ilmu astronomi, ilmu fisika, ilmu ekonomi, karena ilmu-ilmu itu meniscayakan rumus-rumus yang diadopsi dari matematika atau aljabar.

Sebelum kedatangan Islam, orang Eropa menggunakan penomoran Romawi, yang tidak praktis dan tak mungkin bisa digunakan dalam matematika karena tidak mengenal pecahan, desimal, dan angka nol.

Jika seorang Eropa hari ini menerawang kegiatan sehari-harinya jauh ke masa silam, mereka akan melihat sumbangsih Islam. Seseorang bangun, mandi dan gosok gigi, maka alat yang digunakan untuk menggosok gigi itu diperkenalkan orang Islam. Lalu, ia menengok jam – jam dinding atau jam tangan – maka alat itu pun diciptakan dan dibawa ke sana oleh orang Islam. Lalu, ia minum kopi, kopi pun, beserta alat perasnya, diciptakan dan dibawa ke sana oleh orang Islam. Lalu, ia membaca koran yang terbuat dari kertas. Kertas pun diperkenalkan kesana oleh orang Islam. Kertas memang ditemukan di China, tapi orang Islam memperhalusnya dan memproduksinya secara massal.

Lalu orang Eropa mempelajari berbagai ilmu pengetahuan, yang dibawa orang Islam. Eropa memang punya khazanah ilmu pengetahuan Yunani, tapi tanpa tangan-tangan para sarjana Islam yang menerjemahkannya kedalam bahasa Arab, mereka tak akan menjumpai satu huruf pun dari khazanah keilmuan Yunani itu.

Semua ilmuwan dan pemikir Eropa yang muncul setelah pudarnya masa keemasan Islam, telah lebih dulu mempelajari naskah-naskah para sarjana Islam dalam bahasa Arab, karena tak barang satu lembar naskah Yunani kuno tersisa.

Namun, para sarjana Eropa tak mau mengungkapkan bahwa mereka belajar dari kitab-kitab berbahasa Arab. Kenapa? Pertimbangan keselamatan dan keamanan. Masa-masa itu gereja sangat berkuasa, bila ada ditemukan seseorang membaca naskah orang Islam mereka akan segera dituduh murtad dan dieksekusi mati. Sejak perang salib, anti-Islam itu makin menguat dan memaksa para ilmuwan menghilangkan jejak-jejak Islam dalam ilmu pengetahuan yang mereka kembangkan. (*)

 

Kafil Yamin - Penulis Buku Hidup Sehari Penuh