Selasa, 22 Januari 2019
16 Jumada al-ula 1440 H
FOTO I Dok. Liputan 6
“Saya mengajak ke seluruh lapisan masyarakat untuk memperbaiki ekonomi kreatif di Indoensia terutama di sektor industri musik. Sehingga para pencipta lagu khususnya bisa menghasilkan pendapatan dari lagu ciptaannya tersebut," ungkap Munaf

Sharianews.com, JakartaReuploader atau Pelanggaran hak cipta di Indonesia semakin hari semakin mengkhawatirkan. Tidak hanya melibatkan para seniman, tetapi juga penyedia film sampai video Youtube. Kemudahan mengunduh hingga mengakses tulisan membuat orang berlomba mengkapitalisasi hal-hal yang viral di sekitar mereka.

Menanggapi maraknya pembajakan hak cipta intelektual, Kepala badan Ekonomi Kreatif (Bekraf), Triawan Munaf mengakui bahwa industri perfilman dan musik di Indonesia masih kerap dilanda masalah. Dalam hal ini, kasus pembajakan dan hak cipta menjadi persoalan yang sangat serius bagi para pelaku industri ini.

"Dan kalau kita masih berkutik pada pembajakan musik gak akan selesai. Sudah beda lagi sekarang sudah gak fisik dari CD atau kaset atau apa namanya barang barang yang fisik. Sekarang dengan download dengan streaming dan ini pasti akan berubah lagi model bisnisnya," ungkap Munaf.

Menanggulangi masalah ini, Bekraf tengah menjalin kerja sama dengan beberapa pihak lain dalam upaya meningkatkan industri musik di Indonesia. Selama ini, akibat adanya pembajakan tersebut, bukan hanya industri perfilman dan musisi yang dirugikan, tetapi juga berakibat langsung terhadap penerimaan pajak negara.

“Saya mengajak ke seluruh lapisan masyarakat untuk memperbaiki ekonomi kreatif di Indoensia terutama di sektor industri musik. Sehingga para pencipta lagu khususnya bisa menghasilkan pendapatan dari lagu ciptaannya tersebut. Berapa penghasilan dari lagu itu per bulan, pajaknya berapa dan bisa dijadikan jaminan untuk dia minjam uang karena dia jadi punya kredibilitas,” pungkas Munaf.

Contoh kasus sempat ramai diperbincangkan adalah Syamsul Fuad, penulis naskah asli film Benyamin Biang Kerok tahun 1972, menuding dua rumah produksi dan dua produser film Benyamin versi baru telah melanggar hak cipta. Syamsul juga menuntut royalti. Persoalan itu kemudian bergulir hingga muncul skenario gugatan balik Max Pictures, salah satu rumah produksi yang membuat Benyamin Biang Kerok (2018), terhadap Syamsul.

Ternyata tidak sampai di situ, bos Falcon Pictures, HB Naveen, dan produser film tersebut Ody Mulya Hidayat juga ikut menjadi pihak tergugat. Dalam gugatannya, Syamsul menuding empat tergugat itu telah melakukan pelanggaran hak cipta atas cerita Benyamin Biang Kerok dan Biang Kerok Beruntung yang ia tulis pada 1972. Penulis berusia 81 tahun ini juga menuntut ganti rugi materiil sebesar Rp 1 miliar untuk harga penjualan hak cipta film Benyamin Biang Kerok yang tayang 1 Maret 2018 lalu.

Selain itu, Syamsul meminta royalti penjualan tiket film tersebut senilai Rp 1.000 per tiket. Dia juga menggugat para tergugat untuk membayar ganti rugi immateril sebesar Rp 10 miliar yang mencakup kerugian akan hak moralnya sebagai pencipta atau pemegang hak cipta cerita Benyamin Biang Kerok. (*)

Reporter: Munir Abdillah Editor: Achi Hartoyo