Minggu, 17 Februari 2019
12 Jumada al-akhirah 1440 H
Petugas Rumah Potong Hewan sedang melakukan prosedur pemotongan Sapi. (Dok/Foto Istimewa)
Bentuk pengauditan ini dilakukan dengan memasang kamera CCTV sendiri dalam rangka tanggung jawab sosial atas kehalalan makanannya.

Sharianews.com, Memastikan kualitas dan keamanan suatu produk halal dari produksi sampai distribusi sangat penting bagi umat islam yang memperhatikan halal-haram dalam mengkonsumsi makanan.

Era globalisasi ini membuat daya saing prosuksi semakin meningkat. Sementara ancaman terhadap keamanan dan kualitas pangan pun perlu ditingkatkan. Ada perusahaan yang mengambil jalan pintas untuk memaksimalkan produktivitas dan laba atau sekadar untuk bertahan di pasar global.

Demikian yang dikatakan Hassan Bayrakdar, pakar pengaturan makanan dan direktur pelaksana penasihat halal Raqam Consultancy yang berbasis di Dubai, yang dilansir dari Salaam Gateway Februari 2019.

Berkaitan dengan hal tersebut, beberapa waktu lalu Carrefour dari Perancis, pengecer supermarket terbesar di Eropa mengatakan akan mulai mengaudit rumah pemotongan yang memasok daging merek sendiri. Bentuk pengauditan ini dilakukan dengan memasang kamera CCTV sendiri dalam rangka tanggung jawab sosial atas kehalalan makanannya.

Tidak lama setelah pernyataan tersebut, Brazil yang merupakan negara pengekspor daging halal terbesar di dunia mengatakan bahwa Negara itu bergerak ke sistem pemantauan mandiri untuk pengelolaan makanan maupun pengepakan daging.

Namun dengan adanya system audit atau pemeriksaan mandiri terhadap rumah potong daging halal tersebut ditanggapi oleh Dhaliff G. Anuar, manajer industri halal dan layanan integritas di PwC Malaysia, agar dipertimbangkan kembali,

“Saat ini, saya tidak bisa melihat apakah masalah CCTV bisa menjadi persyaratan dalam sertifikasi halal untuk rumah jagal (potong). Meskipun sebagian besar rumah jagal bersertifikat halal memiliki kamera pengintai yang dipasang di tempat mereka, rekaman video tidak pernah menjadi bagian dari inspeksi halal otoritas,” kata dia.

Ia melanjutkan, sertifikasi halal bergantung pada inspeksi yang sering dan berkelanjutan, efektifitas sistem jaminan halal rumah jagal, pengawas yang diakui dan laporan pengaduan untuk memastikan kasih sayang yang diperlukan, diberikan kepada hewan saat disembelih. 

“Untuk melihat pengawasan kamera menjadi persyaratan halal dalam waktu dekat adalah sedikit dibuat-buat. Plus, sertifikasi halal biasanya mencoba untuk menghindari pembuatan persyaratan, yang akan menyebabkan biaya tambahan untuk pengajunya, dalam hal ini pemasangan kamera pengintai,” lanjut Dhaliff seperti yang dilansir dari Salaam Gateway.

Sisi lain ia berpandangan sertifikasi halal tidak akan melalui proses perdebatan panjang jika peraturan lain mengharuskan rumah pemotongan hewan agar menginstal kamera CCTV dan akan mendapat manfaat dari mereka. 

“Namun regulator juga harus berpikir apakah pengawasan kamera harus disiarkan langsung dan bagaimana mereka ingin melakukan audit pada seluruh proses penanganan dan penyembelihan,” pungkas dia.

Reporter: Fathia Editor: Munir Abdillah