Jumat, 14 Desember 2018
06 Rabi‘ at-akhir 1440 H
FOTO | Dok. pribadi
Krisis ekonomi akan terus berulang dan ditemui oleh suatu negara. Krisis merupakan sunnatullah yang datang dan pergi, seakan ada siklus ekonomi yang terus berputar.

Oleh: Deni Lubis | Staf Pengajar Departemen Ilmu Ekonomi Syariah, FEM, IPB

 

Kisah Nabi Yusuf menangani krisis pangan yang terjadi di Mesir dapat kita jadikan rujukan dalam menangani krisis. Nabi Yusuf dengan cara menyimpan perbekalan kebutuhan pokok di waktu panen raya, dan mengeluarkannya di saat krisis pangan menjadikan krisis tidak berakibat fatal pada penduduk Mesir saat itu, bahkan penduduk di luar Mesir bisa mendapatkan bantuan. Ada masa kita harus menabung dan mempersiapan diri menghadapi krisis dan ada masa kita harus menggunakan tabungan dan cadangan kita untuk menanggulangi krisis yang terjadi.

Di Indonesia ada Bulog yang dipercaya untuk menanggulangi masalah pangan. Ketika masa subur dan panen raya, Bulog membeli beras dari petani dan disimpan di gudangnya, dan ketika waktu paceklik, kemarau panjang, dan serangan hama tiba, Bulog mengeluarkan cadangan berasnya, sehingga harga beras stabil dan rakyat tidak kesulitan mendapatkan kebutuhan pokok.

Rasulullah SAW pertama kali hijrah dari Mekah ke Madinah dalam keadaan sulit, sehingga dibutuhkan penanganan krisis yang baik, untuk memperbaiki keadaan ekonomi Madinah saat itu. Dengan kebijakan yang dilakukan oleh Rasulullah mendorong peningkatan kesejahteran dan keberlangsungan ekonomi yang lebih baik, sesudah masa kepemimpinan Rasulullah.

Paradox of thrift’  ala  John Maynard Keynes

Pada saat krisis biasanya kita diminta untuk hemat, namun prilaku hemat justru akan membuat krisis lebih parah. Rumah tangga justru diminta konsumsi lebih banyak pada saat krisis. Kenapa demikian? karena ketika rumah tangga mengurangi konsumsi, akibatnya barang dan jasa yang diproduksi oleh perusahaan tidak laku di pasaran, sehingga inventori meningkat.

Ketika inventori meningkat, maka pendapatan perusahaan berkurang, kalau hal ini terjadi terus-menerus, pada akhirnya perusahaan akan mengurangi tenaga kerja. Banyaknya pengangguran menjadikan rumah tangga tidak memiliki penghasilan, akibatnya daya beli menurun dan kemiskinan terus bertambah.

Dalam jangka panjang, ini akan membuat ekonomi negara menjadi lebih terpuruk lagi. Selain itu, dengan berkurangnya konsumsi juga akan mengakibatkan orang mengurangi investasi, karena barang dan jasa yang dijual tidak laku di pasar yang mengakibatkan investor tidak tertarik untuk investasi.

Berkurangnya investasi mengakibatkan tidak adanya lapangan pekerjaan baru, berakibat pada banyaknya pengangguran dan menurunnya pendapatan nasional. Teori di atas disebut dengan istilah ‘paradox of thrift’ yang dipopulerkan dan dikenalkan oleh seorang ekonom bernama John Maynard Keynes, yang kemudian banyak dipraktekan oleh pemerintahan dalam menangani krisis terjadi di suatu negara.

Pada saat krisis ekonomi, biasanya pemerintah mendorong rumah tangga untuk meningkatkan konsumsi dengan memotong pajak dan memberikan subsidi kepada beberapa sektor yang terkena imbas dari krisis, juga menambah subsidi pada rumah tangga.

Hampir semua negara akan menambah pinjaman luar negerinya, ketika terjadi krisi ekonomi untuk mendorong konsumsi dan investasi. Hutang luar negeri bisa menjadi madu dan juga bisa menjadi racun, kalau tidak dikelola dengan bijak. Banyak negara terjerumus kepada krisis yang lebih buruk saat menggunakan utang luar negeri sebagai instrument pemulihan ekonomi.

Belajar dari hijrahnya Rasulullah dari Mekah ke Madinah

Ketika Rasulullah hijrah dari Mekah ke Madinah, perekonomian di Madinah dapat dikatakan dalam keadaaan sulit, karena banyak kaum Muhajirin yang tidak memiliki pekerjaan, tidak memiliki rumah, dan tidak memiliki cukup uang. Kekayaan mereka semuanya ditinggalkan di Makkah, sama halnya seperti yang terjadi saat ini, ketika pengungsi menuju suatu tempat maka kehidupan pengungi di pengungsian cukup memprihatinkan.

Namun strategi yang dilakukan oleh Rasulullah ketika menanggani krisis hijrah cukup baik, sehingga pengungsi  tidak kelaparan dan tidak sulit mencari pekerjaan. Justru pengungsi  ini dijadikan sumberdaya yang bisa mendorong kegiatan perekonomian di Madinah.

Pertama yang dilakukan oleh Rasulullah ketika tiba di Madinah adalah mendirikan masjid dan mempersaudarakan antara Muhajirin dengan Anshar. Sehingga mereka saling berbagi tempat tinggal, berbagi makanan, dan pekerjaan.

Masjid tidak hanya dijadikan tempat ibadah, namun juga tempat bertemu dan berkonsolidasi antara pendatang dan pengungsi, dan menyelesaikan masalah di antara kaum muslimin. Pada saat krisis, Rasulullah sebagai pemimpin negara mendorong pemerintah dan rumah tangga untuk meningkatkan konsumsi dan investasi.

Hal ini antara lain dapat dilihat dari beberapa kewajiban yang diperintahkan Allah SWT kepada Rasulullah terjadi pada saat setelah hijrah ke Madinah. Seperti kewajiban zakat disyariatkan pada tahun kedua Hijrah, pembagian harta rampasan perang tidak hanya kepada tentara, tetapi juga kepada fakir miskin, agar harta tidak hanya berputar di antara yang kaya saja. Bahkan syariah wakaf sangat dianjurkan untuk membantu fakir dan miskin di awal-awal hijrah.

Dalam satu riwayat Rasulullah tidak pernah menyimpan uang zakat, infak, shadakah, dan harta rampasan perang, menginap di masjid, tetapi langsung habis dibagikan kepada mereka yang berhak menerimanya.  Hal ini dilakukan untuk mendorong konsumsi dan pertumbuhan sektor riil.

Dalam riwayat yang lain, Rasulullah bergegas pulang ke rumah sesudah shalat, menemui Aisyah karena belaiu ingat masih ada 1 dinar uang yang belum beliau salurkan kepada yang berhak menerimanya. Rasulullah langsung menyalurkan uang tersebut saat itu juga, bahkan kadang tidak ada uang sedikitpun yang dipegang oleh Rasulullah, semuanya habis dibagikan untuk kebutuhan konsumsi orang yang membutuhkan di Mekah.

Membangun persaudaraan dan sikap dermawan

Kisah Abdurrman bin Auf, salah seorang sahabat Nabi yang populer dalam sejarah Islam. Selain dikenal kaya raya, ia juga dermawan. Sewaktu awal hijrah ke Madinah, dia tidak mempunyai apa-apa, semua kekayaannya ditinggalkan di Mekah. Kekayaan yang dimiliki hanyalah pakaian yang melekat ditubuhnya.

Oleh sebab itu, Rasulullah segera mempersaudarakan Abdurrahman dengan Sa’ad bin Rabi, seorang hartawan di Madinah. Teryata Saad bin Rabi seorang hartawan yang sangat luhur budinya. Bahkan dia bersedia memberikan modal yang besar kepada Abdurrahman bin Auf, dia juga menawarkan perempuan di antara keluarganya untuk dijadikan istri. 

Namun Abdurrahman bin Auf menolaknya, beliau hanya minta ditunjukan pasar kepadanya dan kemudian beliau berdagang dan menjadi seorang saudagar yang kaya raya, juga paling dermawan di antara para sahabat. Abdurtahman bin Auf menyumbangkan separuh dari kekayaannya sebanyak 60.000 dinar, 500 ekor kuda, dan 500 ekor unta, dan uang saku sebanyak 400 dinar untuk setiap prajurit.

Dalam riwayat yang lain, Imam Ahmad meriwayatkan dari Ishaq bin ‘Abdullah bin Abu Thalhah, ia pernah mendengar Anas bin Malik berkata, “Abu Thalhah adalah orang yang paling kaya di antara orang-orang Anshar di Madinah. Kekayaannya yang paling ia cintai adalah kebun Bairuha’ yang berhadapan dengan masjid. Dan Rasulullah memasukinya dan meminum air yang segar darinya. Kata Anas ketika turun ayat “Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya. (QS. 3:92)”

Abu Thalhah berkata: “Ya Rasulullah, sesungguhnya Allah berfirman, tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai, ”Sesungguhnya harta kekayaanku yang paling aku sukai adalah Bairuha’ dan aku bermaksud untuk menyedekahkannya yang dengannya aku berharap mendapatkan kebaikan dan simpanannya di sisi Allah. Maka manfaatkanlah kebun itu, ya Rasulullah, seperti apa yang ditunjukkan Allah swt. kepadamu.

Maka Nabi bersabda: “Bagus, bagus. Yang demikian itu adalah harta yang menguntungkan, harta yang menguntungkan. Dan aku telah mendengar apa yang kamu katakan. Aku berpendapat hendaklah tanah itu engkau berikan kepada kaum kerabatmu.” Abu Thalhah pun berkata: “Aku akan laksanakan, ya Rasulullah.” Kemudian Abu Thalhah membagi-bagikannya kepada sanak kerabatnya dan putera-puteri pamannya. (HR. Bukhori dan Muslim).

Dalam kitab Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim disebutkan, bahwa Umar pernah berkata, “Ya Rasulullah, aku belum pernah sama sekali mendapatkan kekayaan yang lebih berharga bagiku dari pada bagian yang kuperoleh ada di Khaibar. Lalu apa yang engkau perintahkan kepadaku terhadap bagian tersebut?” Maka beliau bersabda: “Pertahankan pokoknya dan dermakan buahnya (di jalan Allah).” Ayat di atas kemudian dijadikan salah satu landasan untuk menunaikan wakaf.

Meningkatkan produktivitas kerja umat

Selain mendorong keadilan distribusi dan komsumsi di waktu krisis, Rasulullah juga memerintahkan untuk meningkatkan bekerja dan produski umat Islam di Makah. Kita akan banyak temukan perintah dalam Alquran dan Hadits agar manusia terus bekerja dan berproduksi dengan memperhatikan kelestarian lingkungan (QS. 28:77), memanfaatkan sumber daya alam seoptimal mungkin untuk memenuhi kebutuhan hidupnya (QS. 28:73, 30:23, 4:32, 78:11). Dengan meningkatkan produksi dan bekerja akan meningkatkan ekonomi dan mengurangi pengangguran.

Ada perbedaan praktek menangani krisis 'paradox of thrift' yang dilakukan oleh Rasulullah dengan saat ini. Pemerintah suatu negara jika terjadi krisis biasanya meningkatkan hutang luar negeri dan pemotongan pajak untuk mendorong konsumsi.

Namun ketika Rasulullah menghadapi krisis, beliau mendorong konsumsi dengan meningkatkan pengeluaran yang dilakukan oleh pemerintah dan warganya, dengan memberdayakan semua potensi yang dimiliki oleh negara dan warganya, bahkan ada larangan dalam Alquran untuk menimbun harta (QS. At-Taubah [9] : 34-35) harta harus berputar dan harta tidak boleh berputar di antara yang kaya saja, harta tidak boleh diam (idle) (Al-Hasyr [59]: 7).

 Perintah zakat, infak, shadaqah, wakaf, pembagian harga rampasan perang disegerakan. Hal ini juga merupakan bentuk dari keadilan distribusi, di mana harta tidak hanya berputar bagi yang kaya saja, tetapi juga kepada yang miskin.

Dengan menggali potensi dalam negeri dan tidak menggunakan dana dari luar negeri, sehingga krisis bisa lebih cepat recoveri-nya dan tidak ada resiko untuk terjerumus kepada krisis hutang. Praktek yang dilakukan oleh Rasulullah kemudian dilanjutkan oleh pemerintahan Abu Bakar dengan meningkatkan penerimaan dan belanja negara.

Abu Bakar memerangi mereka yang tidak mau membayar zakat ke pemerintahan Abu Bakar. Juga pada masa Abu Bakar uang tidak menumpuk, biasanya pagi sampai dzuhur dana dikumpulkan dan sore hari pemasukan sudah habis dibagikan kepada yang berhak menerimanya. Hal ini akan mendorong konsumsi dan perputaran barang dan jasa lebih lancar, sehingga ekonomi berputar dan krisis perlahan terus membaik.

Pada saat pemerintahan Umar bin Khatab, ketika sumber pemasukan negara mulai banyak, krisis ekonomi sudah mulai dapat diatasi, kemudian Umar mendirikan baitul maal, dana negara disimpan dikelola dengan baik dan tidak langsung dihabiskan. Pada masa Umar, wilayah kekuasan Islam sudah besar, tentara sudah banyak, sumber-sumber pemasukan negara sudah banyak dan besar, terutama dari harta rampasan perang, kharaj, jizyah, dan sumber-sumber lainnya.

 Bahkan saat itu banyak tanah milik negara yang dikelola penduduk dengan sistem sewa dan bagi hasil sangat luas. Hal ini terbukti dengan Islam kemudian menguasai sepertiga dari belahan bumi pada masa Dinasti Abbasiyah.

Mengeluarkan seluruh potensi

Krisis ekonomi merupakan sunnatullah, selalu datang dan pergi. Setiap negara sehebat apapun akan selalu mengalami krisis. Ada negara yang dapat segera menyelesaikan krisis dengan cepat, dan ada negara yang tidak dapat menyelesaikan ekonominya dengan baik, bahkan terpuruk ekonominya.

Rasulullah telah memberikan contoh penanganan krisis ekonomi dengan baik dan berkesinambungan. Pada saat terjadi kesulitan di Madinah Rasulullah mendorong umat Islam untuk mengeluarkan seluruh potensi ekonomi yang dimiliki, dengan zakat, infak, shadaqah, wakaf, jizyah dan lainnya untuk meningkatkan konsumsi dan pemerataan pendapatan.

Selain itu perintah bekerja dan berproduksi sangat dianjurkan untuk menghidupan sektor riil, sehingga uang tidak mengendap dan tidak numpuk di orang kaya saja. Rasulullah tidak menjadikan hutang sebagai instrumen utama dalam menangani krisis, walaupun Rasulullah pernah meminjam dari Yahudi, namun tidak signifikan dan tidak menganggu keuangan Negara, karena dengan akad qard tanpa bunga.

Model penanggulangan krisis pada masa Rasulullah bisa kita jadikan acuan dalam menangani krisis ekonomi saat ini. Teori paradox of thrift sebanarnya sudah bukan hal yang baru dalam Islam, karena di awal pemerintahannya, Rasulullah sudah mendorong keadilan distribusi, konsumsi, dan peningkatan produktivitas. (*)

 

Oleh: Deni Lubis