Jumat, 14 Desember 2018
06 Rabi‘ at-akhir 1440 H
FOTO I Dok. tourismupdate.co.za
Negara yang penduduk Muslimnya minoritas seperti Jepang, Korea, Taiwan, Hongkong, Thailand, berlomba-lomba menjadi negara yang Muslim friendly.

Sharianews.com, Perekonomian negara-negara berkembang yang mayoritas berpenduduk Muslim terus membaik. Seiring dengan itu kesejahteraan meningkat. Peningkatan kesejahteraan selalu diikuti dengan perubahan gaya hidup. Masyarakat yang hidupnya pas-pasan akan menempatkan wisata sebagai kebutuan tersier atau kuarter, tapi jika kesejahterannya baik, wisata menjadi salah satu kebutuhan primer.

Wisata menjadi kebutuhan primer ini yang sedang terjadi negara yang tergabung dalam OKI (Organisasi Konferensi Islam). Jumlah wisatawan Muslim tumbuh luar biasa. Pengeluaran wisatawan Muslim pun terus meningkat, menurut data Dinar Standard dan Thomson Reuters belanja wisatawan Muslim pada 2017 sebesar 177 miliar dolar AS, pada 2023 diperkirakan sebesar 274 miliar dolar AS.

Melihat begitu besarnya potensi, kini semua negara yang peduli dengan wisata berlomba-lomba menjaring wisatawan Muslim. Bukan hanya negara yang ada di OKI seperti Dubai, Qatar, Malaysia, Oman, dan Indonesia, tetapi juga negara yang yang penduduk Muslim sangat minoritas. Jepang, Korea, Taiwan, Hongkong, Thailand, berlomba-lomba menjadi negara yang Muslim friendly. Begitu juga negara-negara Eropa, tak kalah sigap menjaring potensi besar itu.

Taiwan misalnya, kini telah memiliki 200 hotel dan restoran yang memiliki sertifikat halal. Mereka juga telah melengkapi beberapa fasilitas publik dengan mushola sebagai tempat sholat. Di wisata perkebunan misalnya, mereka memiliki 300 perkebunan yang dikelola profesional, 10 di antaranya telah memiliki sertifikat halal.  Seperti dikutip dari CNNIndonesia.com, sertifikat tersebut berupa Muslim Friendly Restaurant dan Muslim Friendly Tourism yang dikeluarkan oleh Chinese Muslim Association.

Hong Kong tak mau kalah dengan Taiwan. Negara ini sudah cukup ramah dengan Islam, sehingga relatif lebih mudah untuk menyesuaikan dengan turis Muslim yang berdatangan, terutama dari Indonesia. Masjid setidaknya ada enam masjid besar, opsi makanan halal juga sudah lebih mudah ditemukan.

Korea yang penduduk Muslim hanya sekitar 100ribuan, juga serius menjaring wisata Muslim. Salah satu negara yang dibidik mereka untuk wisata halal adalah dari Indonesia. Karena itu Halal Committee Korean Muslim Federation (KMF), menerbitkan buku panduan makanan halal (Food Halal) untuk membidik segmen wisatawan Muslim dengan dwibahasa; Inggris dan Indonesia. Di setiap street food dan distrik di Seoul, juga banyak restoran bermenu halal.

Jepang tak kalah serunya dalam menggaet wisatawan Muslim. Ketika wisatawan Muslim mendarat di Narita misalnya, mereka tidak kesulitan untuk mencari tempat sholat, karena sudah tersedia empat mushola, di mana tempat laki-laki dan perempuan sudah ada sekatnya. Hal serupa juga di bandara Chitose di Hokkaido, bandara Haneda di Tokyo, bandara Kansai di Osaka, bandara Fukuoka, dan bandara Okinawa Naha.

Selandia Baru tak mau kalah. Meskipun masih mencari bentuk yang tepat untuk menjaring wisatawan Muslim, tetapi minimal mereka sudah menyiapkan panduan makanan halal. Panduan itu merupakan hasil kerja sama Tourism New Zealand dengan Kiwi Muslim Directory dan FIANZ (Federation of Islamic Associations of New Zealand atau Federasi Asosiasi Islam New Zealand). Ratusan ribu wisatawan Indonesia berkunjung ke Selandia Baru tiap tahunnya.

Indonesia turut bertarung memperebutkan kue wisata halal yang kian tumbuh besar. Kita memiliki lawan-lawan yang berat seperti Thailand, Singapura, negara-negara Timur Tengah, serta terutama Turki dan Malaysia yang selalu menjadi unggulan dalam pariwisata halal. Agak ironi bahwa turis-turis Timur Tengah lebih banyak membelanjakan uangnya di Malaysia, Thailand, dan Singapura untuk kawasan Asia Tenggara.

Berdasarkan data yang dipublikasikan Salaam Gateway, saat ini belanja Muslim terbesar masih ditempati Arab Saudi dengan 21 miliar dolar, kemudian disusul negara Uni Emirat Arab (16 miliar dolar), Qatar (13 miliar dolar), Indonesia (10 miliar dolar), Kuwait (10 miliar dolar), Iran (delapan miliar dolar), Malaysia (tujuh miliar dolar), Rusia (tujuh miliar dolar), Turki (enam mliar dolar), dan Nigeria (enam miliar dolar).

Indonesia termasuk negara yang pengeluarannya tertinggi dengan posisi di empat besar. Posisi itu setara dengan GIE Indicator Score dimana Indonesia dalam daftar Top 10 Halal Travel masuk di urutan keempat dibawah Malaysia, Uni Emirat Arab dan Turki. Malaysia terlihat paling atraktif karena dalam belanja mereka di urutan ke tujuh, tetapi dalam menjaring wisatawan Muslim berada di ranking pertama.

Persaingan dalam memperebutkan wisatawan Muslim menjadi lebih berat manakala negara dengan minoritas Muslim pun berusaha menjaring wisatawan Muslim. (*)

 

Achi Hartoyo