Jumat, 14 Desember 2018
06 Rabi‘ at-akhir 1440 H
FOTO | Dok. pribadi
Musibah bisa datang dalam beragam bentuk - bertujuan agar kita bisa lebih baik dan waspada terhadap semua masalah yang terjadi.

Oleh: Neneng Hasanah | Staf Pengajar Departemen Ilmu Ekonomi Syariah, FEM, IPB.

 

Musibah adalah segala sesuatu yang menimpa, mengenai dan melukai jiwa ataupun menimpa alam semesta berikut isinya. Musibah merupakan kehendak Allah SWT yang sudah menjadi ketetapan dan berlaku bagi makhluk di bumi tanpa kecuali. Fenomena musibah di alam jagad raya ini, telah diberitakan oleh Islam dalam QS. al-Hadid (57): 22-23:

Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri”

Ayat di atas secara eksplisit menjelaskan bahwa, setiap musibah yang terjadi di belahan bumi ini sudah tertulis di Lauhul Mahfudz (tempat Allah menuliskan seluruh skenario/catatan kejadian di alam semesta), dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam al-Tirmidzi, bahwa Allah SWT sudah menetapkan terjadinya musibah di alam semesta ini dengan jarak hitung lima puluh ribu tahun sebelum Allah menciptakan langit dan bumi (Mukhtashar Tafsir Ibnu Katsir).

Artinya semua sudah ditetapkan kejadiannya sebelum diciptakannya alam semesta ini. Adapun hikmah dan pelajaran yang terkandung pada ayat 23 dan sikap manusia terhadap ketetapan Allah (musibah), pertama, tidak boleh putus asa dan larut dalam suasana duka yang berlebihan atas musibah yang menimpa, seperti musibah kehilangan keluarga, harta benda dan lainnya.

Kedua, tidak boleh terlalu bangga atas apa yang diraih atau tidak membanggakan diri dan sombong pada prestasi yang dicapai, akan tetapi mampu menyikapinya sebagai media untuk evaluasi diri dan rasa syukur dengan kerendahan hati bahwa musibah bisa sebagai ujian yang harus disikapi sebagai bentuk kasih sayang Allah SWT.

Musibah bisa datang dalam beragam bentuk bertujuan agar kita bisa lebih baik dan waspada terhadap semua masalah yang terjadi, karennya mesti disikapi sebagai anugerah Allah yang diberikan untuk menguji hamba-Nya, apakah dia termasuk orang-orang yang pandai bersyukur atau sebaliknya kufur.

Hal ini sesuaai dengan bunyi teks Alquran dalam surat Al-Naml (27) ayat 40, yang berbunyi, “…Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia"

Refleksi terhadap musibah dan bencana

Keadaan masyarakat pasca musibah yang terjadi di beberapa daerah di Indonesia, menjadi keprihatinan dan perhatian publik, baik nasional maupun internasional. Hal ini terjadi dikarenakan setiap musibah pasti akan menyisakan sesuatu yang menyakitkan dan menyesakan dada, utamanya dalam masalah ekonomi masyarakat yang terkena musibah.

Seperti diketahui musibah yang terbaru menimpa bangsa ini adalah gempa dan tsunami yang menimpa Palu dan Donggala, ini memberikan kesedihan yang luar biasa. Istri terpisah dari suaminya, bahkan seorang anak harus terpisah dari orang tuanya. Mereka terus berdoa agar semua orang yang dicintai tetap selamat dan berjumpalagi dengan mereka.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menjelaskan bahwa musibah dasyat ini hingga selasa (2/10/2018) telah menelan 1.234 korban meninggal dunia, 799 orang luka berat, dan 99 orang dinyatakan masih hilang. Sementara, 61.867 korban selamat pun kini masih terus berjuang mempertahankan hidup mereka dengan keadaan ekonomi yang belum jelas.

Namun mereka tidak sendirian, bantuan dari berbagai pihak terus mengalir mulai dari pemerintah, pihak swasta, masyarakat hingga 26 negara memberikan bantuan kepada para korban, (Tribunnews.com).

Berdasarkan data yang dikemukakan oleh BNPB di atas, bagi korban meninggal dunia, sudah jelas bahwa takdir usianya ditetapkan sampai tanggal tersebut dan bagi umat Islam harus diimani sebagai takdir dari Sang Penguasa alam semesta (Allah SWT).

Akan tetapi bagi korban luka berat dan korban selamat dengan keadaan rumah hancur, pekerjaan hilang dan ekonomi tidak menentu, seperti sandang (pakaian), pangan (bahan pokok makanan) sulit didapat, membuat mereka kehilangan arah hidup, putus asa, sehingga diberitakan melakukan tindakan brutal dan kriminal(penjarahan), diakibatkan karena pendistribusian bahan pokok yang terlambat sampai karena berbagai sebab dan tidak merata saat dibutuhkan.

Perspektif teori ekonomi 

Menarik untuk dikaji tentang teori ekonomi yang dikemukakan oleh dua ekonom Muslim, bahwa ilmu ekonomi adalah masalah yang menjamin berputarnya harta di antara manusia, sehingga manusia bisa memaksimalkan fungsi hidupnya sebagai hamba Allah untuk mencapai falah yaitu kemenangan di dunia dan akhirat (Louis Cantori).

Sedangkan menurut Khursid Ahmad, ekonomi adalah suatu usaha yang mensistematiskan dan memahami segala permasalahan perekonomian dan segala macam perilaku manusia dengan masalah tersebut berdasarkan perspektif Islam.

Berdasarkan dua teori yang dikemukakan oleh ekonom muslim di atas, utamanya terkait dengan keadaan ekonomi masyarakat yang terkena musibah, jelas bahwa keadaan ekonomi masyarakat harus dibantu, dibangkitkan, dan diupayakan berdasarkan ekonomi yang berkeadilan, dan hanya sistem ekonomi Islam yang memahami keadilan distribusi.

Sistem ekonomi Islam dapat menjawab permasalahan ekonomi masyarakat yang terkena musibah, salah satunya adalah pada masalah pendistribusian bantuan yang berkeadilan atau merata pada semua strata masyarakat yang terkena musibah, dengan mengerahkan segala kemampuan dalam rangka membantu dan meringankan beban mereka.

Sehingga tidak memicu terjadinya peristiwa penjarahan setelah bencana gempa-tsunami di Kota Palu yang dilakukan sebagian pengungsi dari musibah tersebut yang memicu aparat kepolisan mengambil tindakan tegas kepada para penjarah.

Sosiolog Rissalwan Habdy Lubis mencatat ada empat penyebab utama mereka melakukan aksi kriminal tersebut, diantaranya adalah faktor agama, adat, lingkungan dan pemberitaan di media. Menurut Rissalwan dari dimensi agama dan adat, nampaknya penduduk di sana sangat lemah dalam menjunjung norma agama dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Alhasil, moral di dalam dirinya merasa kalau menjarah itu merupakan perbuatan yang benar.

Lalu, jika dilihat dari faktor lingkungan, Rissalwan menilai ada keteledoran dari aparat kepolisian untuk mencegah aksi penjarahan. Dari sisi dimensi alam dan lingkungan, peran solidaritas sosial dan juga aparat keamanan menjadi kunci untuk bisa mencegah terpicunya kekacauan pasca bencana, (Okezone, 2018).

Tak hanya itu, lanjut dia, adanya artikel media online yang menuliskan kalau pemerintah mengizinkan masyarakat untuk mengambil barang-barang yang ada di toko, karena nantinya kebutuhan pokok yang diambil akan dibayarkan pemerintah, menjadi pemicu mereka untuk semakin brutal melakukan penjarahan di jalanan.

“Ironisnya, kekacauan itu justru didorong oleh dimensi media massa dan online yang menyampaikan pesan dari pemerintah bahwa menjarah dibolehkan karena nanti akan dibayar oleh pemerintah. Dimensi artikulasi media ini menjadi puncak legalisasi perilaku brutal tersebut,” imbuh Rissalwan. Ia menjelaskan, solusi yang paling efektif dari permasalahan itu adalah pemerintah harus cepat melakukan pendistribusian bantuan secara merata.

Sebagaimana kesimpulan dari sosiolog Rissalwan di atas, bahwa yang paling efektif untuk mencegah tindakan kriminal dan brutal yang dilakukan masyarakat yang terkena musibah, seperti penjarahan toko-toko makanan dan lainnya, sesuatu sebagai perbuatan yang sangat dilarang oleh Islam adalah dengna meminta kepada pemerintah dan stakeholder yang ada di daerah Palu dan sekitarnya, harus cepat tanggap mendistribusikan bantuan secara merata setiap kebutuhan yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat, karena saat itu belum banyak pihak lain yang membantu.

Sistem ekonomi Islam

Oleh karenanya, mengapa penting untuk menyodorkan sistem ekonomi Islam, karena sistem ekonomi Islam lahir sebagai sistem yang mampu memberikan kemaslahatan bagi seluruh masyarakat. Karena Islam memandang masalah ekonomi tidak dari sudut pandang kapitalis yang memberikan kebebasan serta hak pemilikan kepada individu dan menggalakkan usaha secara perorangan.  

Tidak pula dari sudut pandang sosialis yang ingin menghapuskan semua hak individu dan menjadikan mereka seperti budak ekonomi yang dikendalikan oleh negara. Tetapi Islam membenarkan sikap mementingkan diri sendiri tanpa membiarkannya merusak masyarakat (Fazalur Rahman, 1995).

Di bawah sistem ekonomi Islam, penumpukan kekayaan oleh sekelompok orang dihindarkan dan langkah-langkah dilakukan secara otomatis untuk memindahkan aliran kekayaan kepada anggota masyarakat yang belum bernasib baik. Keberhasilan sistem ekonomi Islam terletak pada sejauh mana keselarasan atau keseimbangan dapat dilakukan di antara kebutuhan dan kebutuhan etika manusia.

Sistem ekonomi berfungsi atau bekerja untuk mencapai tujuan atau hasil tertentu yang memiliki nilai. Sistem ekonomi harus tersusun dari seperangkat nilai-nilai yang dapat membangun kerangka organisasi, kegiatan, organisasi, dan kegiatan ekonomi menurut kerangka referensi tertentu.

Dengan demikian, sistem ekonomi Islam mencakup setidaknya tiga komponen penting yang menyusun eksistensinya, yaitu filsafat sistem, nilai-nilai dasar sistem, dan nilai instrumental sistem (Ahmad M. Saefuddin, 1984). (*)

Oleh: Neneng Hasanah