Jumat, 14 Desember 2018
06 Rabi‘ at-akhir 1440 H
FOTO I Dok. Milenial.co.id
Masyarakat urban yang rata-rata first jobber maupun yang sudah mapan di kalangan milenial, berusaha menyeimbangkan gaya hidup perkotaan dengan kebutuhan spiritual.

Sharianews.com, Jakarta Generasi Muslim milenial Indonesia merupakan pewaris tahta, pemegang saham terbesar dan penerus estafet kepemimpinan bangsa Indonesia di masa depan. Bonus demografi yang digadang-gadang menjadi peluang tumbuhnya ekonomi Indonesia dari kurun waktu 2020 hingga 2035 dan mencapai puncaknya pada 2030, juga ditopang oleh muslim milenial. Pada saat itu jumlah kelompok usia produktif (umur 15-64 tahun) jauh melebihi kelompok usia tidak produktif (anak-anak usia 14 tahun ke bawah dan orang tuan berusia 65 ke atas).

Dengan jumlah populasi muslim muda yang mencapai 29,97 persen, diambil dari total populasi penduduk berusia 15-34 tahun yang berjumlah 34.45 persen menurut data BPS RI, potensi bonus demografi harus dimanfaatkan dengan baik oleh stakeholder di negeri ini. Berbeda dengan generasi-generasi muslim sebelumnya, mereka adalah generasi yang modern: berpengetahuan, memiliki global-mindset, dan melek digital. 

Generasi milenial Muslim Indonesia secara sederhana bisa dipahami sebagai populasi Muslim Indonesia yang lahir dalam kurun 1980-2000 dengan jumlah sekitar 90 juta jiwa (menurut data dari Bappenas). Hal ini mengikuti pembagian generasi yang dilakukan oleh Pew Research Center dalam laporan mereka bertajuk Millenials: A Portrait of Generation Next (2010) yang membagi beberapa generasi mulai dari Baby Boomers (lahir sebelum tahun 1960), Generasi X (kelahiran tahun 1961-1980) dan generasi milenial atau generasi Y (kelahiran tahun 1981-2000)

Tren hijrah menjadi pilihan baru hidup muslim zaman now. Bagi generasi Muslimah, hijrah bukan lagi sekadar kesadaran menggunakan hijab. Lebih dari itu, mereka mulai menerapkan kaidah Islam secara lebih dalam dan lebih murni. Termasuk dalam menggunakan produk kosmetik, makanan halal, dan modest fashion.

Banyak kalangan milenial yang rela meninggalkan pekerjaan demi keyakinan Islam. Contohnya milenial yang bekerja di dunia perbankan konvensional, mereka rela meninggalkan pekerjaan yang sudah mapan untuk hijrah ke jalan hidup yang sesuai syariah (hidup tanpa riba) dengan beralih ke sektor syariah, tidak hanya perbankan, tetapi juga sektor-sektor lain yang berbasis nilai-nilai agama seperti berwirausaha.

Fenomena hijrah ini sedikit banyak didorong oleh para selebritas. Mulai dari penyanyi rock seperti Tantri (Kotak band), Yukie (Pas band), pemain sinetron (Ineke Koesherawati), hingga bintang film yang mulai meninggalkan dunia gemerlap dan memilih jalan hidup yang lebih mengutamakan nilai-nilai spiritual dalam kesehariannya.

Membludaknya pengunjung acara Hijrah Festival 2018 yang diselenggarakan pada 9-11 November lalu, di JCC menjadi bukti bahwa fenomena sosial-keagamaan ini menjadi hal yang sangat menarik di kalangan anak muda, khususnya mereka yang tinggal di perkotaan.

Hijrah Menjadi Tren Positif

Hijrah menjadi tren positif yang layak diapresiasi. Sosial media menjadi salah satu media dakwah yang efektif bagi ustaz seperti Felix Siauw, Abdul Somad, Ustazah Oki Setiana Dewi, Ustaz Bachtiar Natsir, Salim A Fillah,  Handy Bonny, Ahmad Ridwan, Abu Fida,Oemar Mita, Yoppi, ustaz dan berbagai sosok ustaz lainnya.

Influencer hijab pun tak mau ketinggalan peran dalam membentuk budaya Muslim milenial. Deretan hijaber seperti Dian Pelangi, Jenahara Nasution, Ayana Jihye Moon, Indah Nada Puspita, Dwi Handayani dan masih banyak lagi deretan influencer hijab, membuat muslimah menjadi lebih percaya diri dalam membangun karakter yang sesuai prinsip-prinsip agama.

Jika terbersit tren hijab zaman dahulu, maka identik dengan kesan kuno, konservatif dan cenderung tidak memiliki banyak modifikasi. Namun, seiring perkembangan zaman, hijab tak lagi dipandang sebelah mata. Hijab kini menjadi salah satu tren fashion yang digemari Muslim milenial. Bahkan, tren hijab sudah bisa masuk ke jajaran dunia mode internasional. Kini, muslimah Indonesia tak perlu malu untuk mengenakan hijab untuk menunjukan identitasnya seperti puluhan tahun silam.

Maraknya kajian-kajian yang diselenggarakan di perkantoran ibukota dan masjid-masjid ternama menjadi fenomena tersendiri bagi milenial. Masyarakat urban yang rata-rata first jobber maupun yang sudah mapan di kalangan milenial, berusaha menyeimbangkan gaya hidup perkotaan dengan kebutuhan spiritual.

Di sisi lain kalangan milenial juga memiliki hobi dan gaya hidup moderen seperti traveling, olahraga dan hangout. Munculnya kebutuhan yang mendukung aktivitas muslimah seperti hijab sport dan baju renang khusus untuk hijaber, menjadi peluang dan daya tarik bagi industri kreatif untuk menikmati kue ekonomi dari fenomena hijrah di kalangan milenial.

Kepekaan dan rasa solidaritas terhadap isu-isu global juga menjadi ciri dari generasi muslim milenial. Ketika terjadi intimidasi terhadap umat Islam di dunia barat, mereka berempati dengan memberikan dukungan secara langsung atau sekadar membangun opini di media sosial seperti konflik umat Islam di Palestina. (*)

Achi Hartoyo